Berkat Briket Organik, Masuk Nominasi Adiwiyata

MALANG KOTA – Bagi banyak orang, daun kering hanya dianggap sampah tak berguna. Namun tidak demikian dengan siswa SDN Lowokwaru 2. Daun kering yang banyak berguguran di halaman sekolah justru jadi barang berharga. Yakni diolah jadi briket organik. Manfaatnya bisa jadi bahan bakar di dapur. Berkat pengolahan briket ini, sekolah tersebut lolos masuk nominasi Adiwiyata 2019.

Ummi Rohmadiyah, koordinator Adiwiyata SDN Lowokwaru 2, ini menyatakan, sudah sejak lama sampah daun di lingkungannya dijadikan briket. ”Siswa sendiri yang memungut sampahnya, lalu dikumpulkan dan diolah,” kata Ummi.

Pengolahan daun kering menjadi briket, Ummi menyatakan, selain untuk mengatasi masalah sampah bisa juga menjadi alat edukasi siswa. ”Tentu sebagai alat edukasi energi terbarukan untuk siswa,” kata dia.

Selama pengolahan, siswa-siswi yang duduk di bangku kelas tiga hingga empat SD ini diajak membuat dua macam briket. Pertama, terbuat dari sabut kelapa dan satunya terbuat dari daun kering. Beda dua bahan briket ini, Umi menyatakan, jika terbuat dari sabut kelapa nyala apinya lebih tahan lama. ”Bisa tiga jam lebih. Kalau yang briket daun, tidak sampai tiga jam lebih,” kata guru kelas tiga ini.

Untuk briket daun kering, tahapan pengolahannya banyak. Daun kering yang dibakar, ditumbuk halus, dan dicampur tepung tapioka yang sudah dicampur air. ”Tepung tapioka berfungsi sebagai perekat agar briket mudah dicetak,” tambahnya lagi.

Baru setelah dicetak, briket dijemur dalam waktu beberapa hari. Enaknya, briket organik ini memiliki aroma khas yang tidak dimiliki oleh arang atau briket batubara yang baunya cukup menusuk. Briket yang dihasilkan siswa, sementara memang tidak dijual. Hanya digunakan di kompor bakar sekolah atau para wali murid yang memiliki kompor bakar. Di sisi lain, pengolahan briket organik ini cukup menjadi modal SDN Lowokwaru 2 meraih piala Adiwiyata tahun ini.

Aisyah M, siswa kelas 3 SD yang ikut mengolah briket, memang tidak memiliki kompor bakar di rumahnya. Tetapi neneknya punya. ”Saya coba membuat briket dan nanti mau saya berikan ke nenek saya,” kata dia.

Gadis mungil ini bilang, selama pengolahan dirinya tidak terganggu bau yang menyengat. Dia menyatakan, baunya hampir tidak ada dan untuk briket sabut kelapa, memang ada baunya. Tetapi dia tidak masalah dengan itu karena sudah familier dengan dapur neneknya yang membakar sabut kelapa untuk bahan bakar.

Pewarta               : Sandra
Copy Editor         : Amalia Safitri
Penyunting         : Abdul Muntholib