Berkaca dari Sulli, Ketahui Efek Komentar Jahat dan Risiko Bunuh Diri

JawaPos.com – Penyanyi dan aktris Korea, Sulli, diketahui meninggal karena dugaan bunuh diri pada 14 Oktober 2019. Setelah kematiannya, beberapa pihak pun menyuarakan tentang komentator jahat di media sosial dan kesehatan mental di dunia hiburan.

Sulli sendiri sempat mencurahkan isi hatinya beberapa waktu lalu. Dalam rekaman video yang tersebar, Sulli mengungkapkan, kenapa banyak orang yang berkata jahat tentang dirinya dengan suara yang lirih. Padahal ia bukanlah orang yang jahat.

Kasus Sulli barangkali hanya salah satu dari banyaknya kasus bully yang dihadapi orang lain di media sosial oleh para netizen. Era media sosial, membuat semua orang bebas berkomentar. Sehingga, berkacaa dari kasus Sulli, setiap orang diminta untuk lebih bijaksana berkomentar di media sosial.

Pakar Keperawatan Kesehatan Jiwa dari Universitas Indonesia, Prof Budi Ana Keliat menjelaskan, ada beberapa masalah yang dialami seseorang saat mengalami bully-an atau komentar jahat di media sosial. Salah satunya bisa merasa jadi rendah diri.

“Merasa tidak berharga. Meski hal ini terlihat saat Sulli dipuji (pun), dia sendiri menyatakan tidak atau menolak pujian. Dia merasa tidak berharga,” kata Prof Budi kepada JawaPos.com, Selasa (15/10).

Lantas apakah tekanan karena komentar jahat seseorang bisa bunuh diri?

Diluar dari kasus Sulli, secara umum, seseorang berisiko melakukan bunuh diri karena mengalami depresi. Makanya, pada hari kesehatan jiwa sedunia memiliki tema ‘mental health promotion and suicide preventio’, yakni mengajak masyarakat menyadari kesehatan jiwanya untuk mencegah bunuh diri.

Untuk itu, ketika merasa menemukan gejala depresi atau tertekan dalam hidup, seseorang harus mau bicara (let’s talk) pada orang lain. “Pada saat individu depresi dan sahabat orang terdekat tidak ada maka tak ada yang support padahal cara pertama mencegah atau mengatasi depresi adalah curhat (let’s talk),” katanya.

Selain komentar jahat, pada 2018 lalu, aktris bernama asli Choi Jin-Ri itu mengakui dirinya sedang berjuang dengan gangguan panik atau panis disorder dan fobia sosial. Lalu apa sebetulnya panic disorder itu?

Menurut Prof Budi, seseorang yang panik adalah tak dapat mengendalikan diri dan emosi bagian berat dari kecemasan. Pada kecemasan diperlukan relaksasi, berpikir positif tentang dirinya, distraksi dengan sosialisasi dan kegiatan.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani