Bergaya Joglo Jawa, Dinding Kaca Memberi Pesan Dakwah

Dari sekian banyak masjid di Malang Raya, keberadaan Masjid Ki Ageng Gribig terbilang unik. Arsitektur masjid yang berlokasi di Jalan Ki Ageng Gribig, Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, itu terlihat mengadopsi bentuk rumah joglo khas Jawa dengan model atap segi enam.

 

 

Pengurus Masjid Ki Ageng Gribig Thosim menyatakan, banyak orang, terutama warga luar kota yang mengapresiasi keunikan bangunan masjid ini. ”Banyak yantg menyebut unik, baik dari nama maupun bentuknya,” kata dia saat ditemui kemarin (13/5). Dari sisi nama, dia melanjutkan, diambilkan dari tokoh penyebar agama Islam di Malang Raya. ”Kalau masjid lain kan namanya menggunakan bahasa Arab, ini tidak,” sambungnya.


Thosim menjelaskan, sebenarnya tidak ada hubungannya antara masjid ini dengan Ki Ageng Gribig. ”Memang tidak ada hubungan antara masjid ini dengan Ki Ageng Gribig. Nama Masjid Ki Ageng Gribig itu diberikan oleh Wali Kota Malang dr Tom Uripan Nitihardjo SH. Meski lokasi masjid memang berada tidak jauh dari makam Ki Ageng Gribig,” tambahnya.

Meski bangunannya mengusung model bangunan Jawa kuno, masjid ini terbilang baru. Proses pembangunannya dimulai pada 1982–1983. ”Diberikan nama ini, hanya untuk mengenang kembali tokoh penyebar agama Islam yang ada di Malang Raya,” ungkap pria asal Madyopuro itu. Sebelum Masjid Ki Ageng Gribig ini berdiri, Thosim menjelaskan, masjid yang lama diberi nama Al-Munawarah.

”Kalau masjid yang sebelumnya, sudah berdiri lama.  Sejak saya kecil sudah ada,” kata pria berusia 60 tahun itu. Namun karena jumlah jamaah terus meningkat, jamaah bangunan utama masjid dipugar total. Setelah itu, nama masjid berganti menjadi Masjid Ki Ageng Gribig. Masjid ini, Thosim melanjutkan, bentuknya berbeda dari umumnya masjid yang ada di Indonesia.

”Bangunan ini tidak meninggalkan (budaya) Jawa, tapi tetap islami. Bentuknya seperti rumah joglo, tapi atapnya segi enam,” kata dia. Dibuatnya segi enam itu, Thosim menjelaskan, bukan tanpa alasan. ”Filosofinya adalah rukun iman yang ada enam,” ungkap dia.

Karena bentuk atapnya yang unik ini, dia melanjutkan, sebagian warga juga menyebut masjid toples.  ”Karena atasnya berbentuk segi enam seperti toples,” kata Thosim lantas tersenyum.

Selain itu, juga kerap disebut masjid kaca. Sebab, sisi kanan kiri dan depan masjid tidak dibangun tembok, tapi dipasangi kaca. Thosim menyebut, hal itu punya tujuan dakwah. Yakni, agar jika ada orang yang lewat (di jalan) melihat ada orang di dalam masjid yang sedang beribadah atau sedang belajar agama, bisa ikut  tergerak hatinya.  ”Orang mau belajar itu kan kadang lihat dari luar dulu, baru masuk,” kata Thosim. Dengan berdinding kaca, masjid juga bisa hemat penerangan saat siang hari. Sebab, cahaya matahari bisa langsung masuk.

Bagian unik lainnya adalah tiang masjid yang terbuat dari cor, tapi dicat warna hitam dan beberapa kombinasi warna emas untuk ukirannya. Jadi, sepintas terkesan seperti bentuk tugu Kota Malang yang kokoh dan berwibawa.

Sementara menara untuk meletakkan pengeras suara juga tak kalah unik. Dengan teknik cor, bagian menara dibalut keramik hitam. Jadi, terlihat berbeda. Hal itu juga diimbagi bagian genting masjid yang juga berwarna hitam.

Masjid Ki Ageng Gribig sendiri berdiri di lahan seluas sekitar 4.500 meter persegi dengan luas bangunan sekitar 3.000 meter persegi. Saat ini terus dilakukan pengembangan. Seperti saat ini yang sedang dibangun untuk ruang pendidikan agama Islam. ”Rencananya nanti di depan akan diubah karena sebentar lagi kalau tol jadi, orang keluar (tol) kan kalau yang dicari masjid,” tandas Thosim.

Pewarta               : Aris Dwi Kuncoro
Copy Editor         : Dwi Lindawati
Penyunting         : Ahmad Yani
Fotografer          : Darmono