Berburu Baju Bekas Branded Rp 35 Ribuan, Dari Pedangdut Hingga IRT

JawaPos.com – Di tengah zaman yang serba ‘pamer’ ini, masyarakat selalu memerhatikan gaya busana mereka untuk tampil lebih menarik. Terlebih demi kepentingan media sosial. Tak peduli berapa harganya, yang penting bermerek dan terlihat. Eitss, tapi tampil branded belum tentu mahal, lho. Sebab kini tengah menjamur penjualan baju bekas baik offline maupun online.

Misalnya, jika Anda mengetik hastag #bajupreloved pada media sosial Instagram, maka bisa ditemui ratusan ribu unggahan yang menjajakan barang fashion bekas. Baik dari para desainer lokal hingga merek ternama dunia yang harganya masih jutaan.

Tapi sebenarnya, eksistensi baju bekas ini sudah jauh ada secara offline. Baru-baru ini JawaPos.com mencoba menelusuri kawasan pertokoan di Pasar Baru, Jakarta Pusat. Di saat media sosial banyak akun menjual busana bekas atau preloved lewat online, ternyata di Pasar Baru masih ada gerai-gerai busana bekas (preloved) juga.

“Sebenarnya semua kalangan beli semua sih. Enggak ada gengsi tuh. Ini semua seken atau bekas pakai. Harganya Rp 35 ribuan. Ada ibu-ibu yang kelihatannya dandanannya mentereng, keren, pakai tas bermerek pun belanja beli baju bekas kok,” kata Vany, salah seorang penjaga gerai baju bekas di Pasar Baru.

Dia ditugasi bosnya untuk menjual baju-baju bekas dimulai dari harga Rp 35 ribuan. Sedangkan untuk celana bekas dibanderol seharga Rp 50 ribuan. Dan ada diskon juga jika membeli lebih banyak, yaitu Rp 100 ribu untuk 3 baju.

“Masih bagus-bagus, masih layak pakai kok bajunya. Kadang sih bertanya dulu ya, ini baru atau bekas,” tuturnya.

Suasana gerai baju bekas di kawasan Pasar Baru, Jakarta, Rabu (21/8). (Rieska Virdhani/JawaPos.com)

Vany menyebutkan ada beberapa merek busana bekas yang dijualnya. Rata-rata adalah merek China yang tak terlalu terkenal. Kemudian ada merek sekelas ZARA, H&M dan Uniqlo.

“Malah di Metro Atom (tak jauh dari Pasar Baru) lebih banyak lagi, baju-baju bekas. Banyak yang cari merek ZARA atau H&M dan Uniqlo. Kadang karena banyak yang minat, cepat habisnya,” ungkapnya.

Para pembeli umumnya para ibu-ibu usia di atas 40 tahun. Vany menjelaskan ada perbedaan antara baju bekas dan baju sisa impor. Baju sisa impor, biasanya memang belum pernah dipakai sama sekali tetapi tidak laku dijual di pasaran.

“Konsumen biasanya sudah tahu. Kan saya juga menulisnya Sale Branded Seken. Jadi enggak merasa tertipu, kan sudah dikasih tahu. Nah kalau barang retur itu adalah sisa impor yang belum pernah dipakai. Masih baru sih tergolongnya, beda sama baju seken,” jelas Vany.

Asal Negara Baju Bekas

Vany mengungkapkan dirinya hanya bertugas menjajakan barang dagangan milik bosnya yang memiliki 8 gerai baju bekas. Ternyata ada di berbagai lokasi selain Pasar Baru, yakni di Mal Ambasador dan Mangga Dua.

“Saya sih enggak terlalu tahu banyak ya (barang dari mana), pokoknya si bos sudah kasih bajunya rapi tinggal diperbaiki sedikit-sedikit kalau ada kerusakan,” katanya.

Menurutnya, ada pihak distributor baju bekas sendiri dari luar negeri yang memasok ke pasar Indonesia. Rata-rata datang dari China dan Bangkok.

“Kalau datang tuh sudah karungan. Buka karungnya sudah banyak baju-baju bekas. Sekali datang bisa 8 karung atau lebih, seminggu bisa 2 kilo datangnya,” ungkapnya.

Peminat Baju Bekas

Tak hanya masyarakat biasa, ternyata menurut Vany, ada seorang penyanyi dangdut pernah membeli baju bekas di tempatnya. Sayangnya Vany lupa siapa namanya.

“Ada pernah penyanyi dangdut. Saya tahunya karena banyak yang minta foto. Penyanyi dangdut saja enggak gengsi kan,” katanya tertawa.

Sama halnya dengan penyanyi dangdut, seorang ibu rumah tangga yang sudah lansia, Silvia warga Pademangan, Jakarta, senang membelu baju-baju bekas. Menurutnya, tak perlu mewah atau baru jika ingin membeli baju. Paling penting adalah variasi.

“Yang penting kan buat ganti-ganti saja biar enggak bosan. Memangnya orang mau lihat mereknya? Kan enggak. Buat ke mal mah sudah tua ngapain bagus-bagus. Di sini juga masih bagus. Kecuali kondangan tuh, baru beli yang baru. Kalau hari-hari buat ke pasar mah yang biasa saja,” tutur Silvi.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani