Berbagi Pengalaman ala Danrindam

MALANG KOTA – Presiden kedua Indonesia Soeharto ternyata pernah bertugas di Malang, tepatnya di Batalyon 13 Koninklijke Nederlands-Indische Leger (KNIL) atau tentara Kerajaan Hindia Belanda sejak Desember 1940 hingga Maret 1942. Setelah Belanda menyerah saat Jepang menyerang, Soeharto bujang pulang ke kampung halaman dan direkrut PETA.

Hal tersebut diungkapkan Komandan Rindam V Brawijaya Kolonel Inf Dendi Suryadi Selasa lalu (15/1) saat berbincang santai dengan jajaran manajemen Radar Malang. Antara lain, Direktur Radar Malang Kurniawan Muhammad, General Manager Radar Malang Don Virgo, serta Manager Iklan dan Event Atho’illah di kantor Jawa Pos Radar Malang. Dendi menyatakan, presiden kedua Indonesia tersebut unik. Pasalnya, dia dibentuk oleh dua instansi militer yang berbeda. Belanda melalui KNIL dan Jepang melalui PETA. Padahal, sejatinya antara KNIL dan PETA sangat bertolak belakang.

”Jepang kalau tahu ada tentara KNIL, langsung pancung. Makanya, saat Belanda menyerah pada Jepang, Pak Harto pulang ke kampung halaman dan menyembunyikan identitasnya dengan bekerja sebagai tukang tagih utang. Namun, justru sekitar Oktober 1943, dia mendaftar menjadi tentara PETA dan mengikuti pendidikan perwira di Bogor,” imbuhnya. Dalam kunjungannya ke Radar Malang, Dendi datang bersama Kalapas Wanita Klas IIA Ika Yusanti. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari menjalin kerja sama lintas instansi agar tujuan memajukan negara bisa dioptimalkan.

Pewarta               : Fia
Copy Editor         : Amalia Safitri
Penyunting         : Mas
Fotografi              : Arifina