Berawal dari Video YouTube, Karyanya Jadi Buruan Kolektor Asal Perancis

Mikhael Yusak Wirawan punya ”utang budi” pada action figure.

Sebab, hidupnya yang sempat menjalani hari-hari sebagai tunawisma pun terangkat setelah dia memutuskan membuat dan memasarkan action figure sejak 2014 lalu. Kini, Mikhael bisa membuat lebih dari 100 action figure setiap bulan.

FISCA TANJUNG K.B.

Sebuah meja berukuran luas sekitar 1 x 0,5 meter di Ruang Budaya Brawijaya Edupark terlihat penuh dengan beberapa macam peralatan. Mulai dari cutter berbagai ukuran, penggaris, hingga kuas.

Peralatan tersebut yang biasa digunakan oleh Mikhael Yusak Wirawan untuk membuat action figure (mainan/patung yang menampilkan karakter dari film, komik, maupun acara televisi). Seperti action figure dari film Ghost Rider yang tengah dikerjakan Mikhael pada Kamis siang lalu (16/3).

Seluruh pengerjaan action figure itu dilakukan secara handmade (buatan tangan). Hasilnya tidak kalah dengan action figure yang diproduksi perusahaan besar seperti Hasbro maupun Bandai.

Mikhael terlihat begitu memerhatikan detail-detail kecil. Misalnya ketika membuat kepala Ghost Rider yang hanya seukuran ibu jari, detail-detail seperti gigi dan bentuk rambut apinya juga dia perhatikan.

Karena itulah, Mikhael pede membanderol action figure karyanya dengan harga yang tidak terpaut jauh dengan produksi dari perusahaan besar. Mulai dari yang termurah Rp 250 ribu hingga termahal Rp 4 juta per karya.

Apalagi, Mikhael sudah punya pasar sendiri yang siap menampung produknya. Kebanyakan mereka merupakan kolektor action figure. Tak hanya kolektor yang berdomilisi di dalam negeri, tapi juga merambah ke negara lain, seperti Perancis dan Singapura.

Lalu, dari mana kreativitas Mikhael ini dimulai? Dulu, sebelum menggeluti dunia action figure, Mikhael sempat luntang-lantung. Selama delapan bulan, antara Februari hingga September 2014, pria berusia 30 tahun ini menjalani hidup sebagai tunawisma. Dia sering kali harus tidur di kantor Dewan Kesenian Malang (DKM).

”Waktu itu, saya habis kena tipu teman sendiri. Karena tidak punya uang, saya terpaksa menjual barang-barang yang saya miliki,” kata pria kelahiran Pekalongan, 12 Maret 1987 tersebut.

Nah, di DKM, dia banyak bergaul dengan kalangan seniman. Dari situlah muncul ide untuk membuat action figure. Kebetulan, sejak 2013 lalu, Mikhael belajar membuat action figure secara otodidak. Keterampilan itu dia peroleh dengan melihat video di YouTube.

”Dari situ saya mulai membuat action figure. Bahan berupa resin (getah pohon) saya dapatkan dari modal yang diberi dari teman saya,” jelasnya. Jika mengingat masa itu, Mikhael hanya bisa tertawa. ”Setiap malam saya harus melompat pagar DKM agar bisa tidur di sana,” kenang anak kedua dari empat bersaudara tersebut.

Bahkan, Mikhael tak sanggup menceritakan langsung pengalaman hidupnya saat luntang-lantung itu kepada kedua orang tuanya yang tinggal di Pekalongan. ”Saya tidak cerita kepada orang tua kalau saya tidur di jalanan. Saya hanya cerita kalau kena tipu. Setelah itu malah disuruh pulang,” ujarnya sembari terkekeh.

Mikhael menuruti saran orang tuanya untuk kembali ke Pekalongan. Dia pun mengerjakan action figure di kampung halamannya. Baru belakangan ini atau sejak Maret 2017, Mikhael kembali menetap di Malang. ”Sebenarnya, sempat trauma kembali ke Malang, tapi teman saya memberi rekomendasi tempat bagus di Brawijaya Edupark,” kata alumnus Fakultas Hukum (FH) UB itu.

Selama dua tahun ini, sudah beragam model action figure yang dia buat. Paling mahal adalah Thanos, karakter Supervillain (penjahat super) dalam komik terbitan Marvel. ”Saya pernah membuatnya pada 2014 lalu dan dibeli seharga Rp 4 juta oleh kolektor dari Singapura,” ujar dia.

Kemudian, ada pula Green Lantern, superhero DC Comics, yang pernah dibikin action figure-nya oleh Mikhael. ”Green Lantern yang saya buat waktu itu dibeli orang Perancis Rp 2,5 juta,” kata dia.

Mayoritas action figure karya Mikhael dipasarkan via media sosial (medos). Yakni lewat akun Facebook-nya. Belakangan, sejak 2015 Mikhael juga mengerjakan action-action figure pesanan Toy Elites, perusahaan mainan yang berkantor di Bekasi. ”Sebelumnya, saya tidak tertarik untuk bekerja dalam sebuah tim. Tapi saya lihat, mereka punya sistem yang bagus. Ketika ada pesanan, pasti diinfokan via grup. Jadi, semuanya tahu isi chat-nya,” kata dia.

Mikhael harus membuat lebih dari 100 action figure per bulan untuk Toy Elites. Action figure karya Mikhael bisa dilihat di akun Facebook Toy Elites Masterworks.
Selain itu, Mikhael sering kali membuat master project untuk produksi masal action figure. Biasanya, untuk master project, Mikhael mendapatkan jatah untuk membuat bagian-bagian tertentu, terutama bentuk kepala. Sementara bagian tubuh, biasanya dikerjakan oleh mesin.

Dia memerlukan waktu sekitar dua minggu untuk mengerjakan satu buah master project. ”Master harus diukir manual dengan memakai silikon cair. Saya sculpting (membuat patung) sendiri,” kata Mikhael yang mengaku bisa mendapatkan Rp 11 juta per bulan dari action figure ini.