Berawal dari Prihatin, Generasi Zaman Now Enggan Belajar Seni Rupa

Ratusan karya seni rupa terpajang demikian rapi di Graha Pancasila, Balai Kota Among Tani, Kota Batu, awal September lalu. Lukisan itu merupakan karya 101 seniman dari Jawa-Madura. Sebanyak 15 perupa asal Kota Batu juga ikut ambil bagian dalam event yang didukung Direktorat Kesenian, Dirjen Kebudayaan, Kemendikbud, ini. Di antara lukisan itu ada karya Isa Ansory. Dia memamerkan lukisan akrilik berukuran 180×145 cm berjudul Jati Diri.

Ditemui di rumahnya, Jalan Lahor Nomor 228, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu, ayah tiga anak ini menjelaskan, salah satu tujuan pameran tersebut untuk menarik minat generasi muda. Sebab, selama ini dia merasa prihatin, anak-anak zaman now sudah mulai enggan belajar seni rupa. Selain itu, pameran itu juga merupakan kesempatan para perupa (sebutan seniman lukis) untuk berkumpul dan sharing. Khususnya seniman dari Kota Batu. ”Pameran itu jadi wadah yang cocok untuk kembali berdiskusi bagaimana masa depan perupa di Kota Batu, dan langkah yang akan dijalani ke depan maunya seperti apa,” ujarnya.

Baginya, event tersebut memberikan pemahaman mendalam tentang sebuah karya kepada generasi muda. Dalam setahun ini, lulusan IKIP Malang tahun 1996 atau sekarang dikenal sebagai Universitas Negeri Malang (UM) ini juga sempat melakukan mentoring untuk mahasiswa. ”Kiranya, dengan acara ini, semakin banyak generasi muda yang ingin mendalami seni rupa,” tandasnya.

Dari pemaparannya, seni itu tidak hanya sebatas goresan cat di kanvas atau soal karya itu enak dilihat atau tidak. Tapi karya seni itu lebih kepada bagaimana mereka mengeksplorasi teknik yang sudah dimiliki. Ujungnya, bisa memunculkan gagasan yang ingin disampaikan. ”Yang diharapkan dari karya seni itu, penikmat karya bisa menangkap ide dan gagasan seniman. Saya ingin generasi muda bisa memahami hal itu,” ungkap bapak tiga anak ini.

Dari tujuannya tersebut, Isa juga ingin perupa dari Kota Batu memiliki tujuan yang baik untuk geliat seni rupa. ”Sempat ada pembahasan untuk kembali mengadakan yang lebih besar lagi dari pameran sekarang. Teman-teman yang lain juga sempat mengungkapkan beberapa ide,” ujarnya.



Yang jadi keprihatinannya lagi, di Kota Batu baru ada satu tempat pameran seni. Yakni, Galeri Raos. Padahal, senimannya tergolong cukup banyak. Ratusan orang. ”Makin banyak ruang pameran, seniman bisa semakin bersemangat. Selain itu, kami butuh komunitas atau event organizer yang bersedia menggelar event-event khusus seni rupa. Selama ini, yang banyak event organizer khusus musik saja,” tandas dia.

Pewarta: *
Copy Editor: Amalia
Penyunting: Abdul Muntholib
Foto: Falahi Mubarok