Berawal Dari Emper Rumah, Ahmadi Romli Sukses Luluskan 8.725 Siswa

JawaPos.com – Ramai Kendaraan lalu-lalang di depan Pasar Waru, Kecamatan Waru, Jumat (13/9). Ibu-ibu menggelar dagangan tepat di bahu jalan. Kendaraan tidak bisa dipacu dengan kecepatan tinggi. Akses jalan yang diapit pasar dan pertokoan itu kian sempit.

Sekitar 100 meter dari pasar itu terdapat surau menghadap ke utara. Tempat tersebut bukan surau biasa. Sekalipun bentuknya sederhana, tetapi menghasilkan ribuan generasi emas luar biasa.

Pilar pintu gerbang bertulis REC atau singkatan dari Radiant House of Al-Tsarwiyah. Tempat itu tidak asing bagi masyarakat Pamekasan. Alumninya mencapai ribuan. Tempat menempa kemampuan berbahasa asing itu dikelola satu orang. Ahmadi Romli namanya.

Jawa Pos Radar Madura  berkesempatan bertemu langsung dengan pria berusia 47 tahun itu. Dia menceritakan awal mula mendirikan tempat kursus itu. Mulai dari jumlah murid yang hanya hitungan jari hingga ribuan.

Romli mengatakan, tempat kursus itu didirikan pada 1997. Jumlah muridnya empat orang. Pelajaran digelar di emper rumah saudaranya. Murid pertama itu bukan warga setempat. Tetapi, santri di Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata.

Semula warga sekitar tidak peduli terhadap aktivitas tersebut. Namun, lambat laun anak tetangga mulai bergabung. Ada remaja perempuan tidak berkerudung mengikuti kursus tersebut. Pada saat itu, hati Ahmadi tergugah untuk menyelipkan visi dakwah dalam mengajar.

Ahmadi sadar dia tidak bisa langsung menegur remaja putri itu lantaran tidak berkerudung. Cara paling ampuh yakni membuat remaja putri itu sadar dengan sendirinya. Teknik yang digunakan yakni memberi tugas menerjemahkan bahasa ”sindiran” ke bahasa Inggris.

Ahmadi masih ingat dua kalimat yang ditugaskan untuk diterjemahkan ke bahasa Inggis. Yakni, ”wanita muslimah harus menutupi aurat ketika keluar rumah”. Kemudian ”alangkah berdosanya wanita muslimah jika keluar rumah tidak menutupi aurat”.

Sindiran itu rupanya ampuh. Lambat laun, anak didiknya itu berkerudung. Semangat dosen IAI Al-Khairat itu semakin berkobar menyebarkan dakwah melalui kursus bahasa asing tersebut.

Kursus bahasa Inggris awalnya dibuka ketika Ramadan. Namun, lambat laun muridnya semakin banyak sehingga kursus dibuka setiap hari. Peserta membeludak. Tidak hanya dari Pamekasan.

Tetapi, peserta dari luar Jawa Timur juga banyak. Di antaranya, dari Sulawesi, Kalimantan, dan Manado. Pada 2008, Ahmadi mengembangkan kursus menjadi dua bahasa. Yakni, bahasa Inggris dan bahasa Arab.

Kursus bahasa Arab itu diberi nama Darusul Arabiyah Al-Ahmadiyah (DAA). Dua kursus bahasa asing itu dikombinasikan. Yakni, enam bulan bahasa Inggris dan empat bulan bahasa Arab. ”Dalam waktu sepuluh bulan, bisa fasih dua bahasa,” katanya.

Tidak berhenti di situ, setelah fasih berbahasa Arab, peserta kursus bisa mengikuti program akselerasi kitab kuning. Dengan demikian, bahasa Arab yang dikuasai tetap diingat dan semakin dimantapkan.

Waktu sepuluh bulan terbilang singkat. Tetapi, Ahmadi berhasil membuktikan anak didiknya bisa menguasai dua bahasa asing. Metode pembelajaran yang digunakan mengadopsi dari Alquran.

Total alumni tempat kursus itu 8.725 orang. Setelah lulus, berbagai aktivitas dilakoni. Sebagian ada yang mengajar, sebagian ada yang bekerja pelayaran. ”Alhamdulillah alumni yang ikut tes pelayaran lulus semua,” katanya.

Magister STIE Malang itu memiliki mimpi besar. Yakni, membangun sekolah dengan metode belajar khusus yang dia konsep. Mimpi itu mulai dirancang. Namun, belum terealisasi. ”Mohon doanya, semoga segera terealisasi,” tandas pria yang berulang tahun setiap 21 April itu.

Editor : Mohamad Nur Asikin