Bendungan Laos Jebol, Bangkai Binatang di Mana-mana | JawaPos.com

Bendungan Laos Jebol, Bangkai Binatang Dimana-mana | JawaPos.com

JawaPos.com – Bangkai babi dan sapi yang membengkak mengapung di perairan banjir setinggi lutut yang menutupi desa Laos di Hoi Kong. Itu adalah sebagian kecil dari efek bendungan jebol di Laos. Dilansir dari Channel News Asia pada Kamis (26/7), penduduk yang berlumuran lumpur mengambil sisa-sisa rumah yang hancur oleh runtuhnya bendungan sehingga mereka memiliki sedikit waktu untuk melarikan diri.

Insiden bendungan jebol yang terjadi pada Senin malam itu merupakan bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya di Laos. Dua puluh tujuh orang dipastikan tewas, dengan 131 orang masih hilang. Setelah bendungan Xe Namnoy rusak, air bah mengalir deras melintasi bagian selatan Laos.

Rincian kerusakan telah menetes perlahan di negara yang otoritas komunisnya mengontrol informasi dengan ketat dan tidak menerima perhatian media. Tapi saat air surut, skala bencana itu terungkap.

Bangkai babi dan sapi yang membengkak mengapung di perairan banjir setinggi lutut yang menutupi Desa Laos di Hoi Kong (ABC)

Penduduk di Hoi Kong kembali ke rumah mereka yang mengalami banjir pada hari Kamis. “Orang-orang berada dalam kondisi yang sangat buruk,” kata seorang dokter militer Vietnam yang membantu upaya bantuan kepada AFP.

“Sungguh saya tidak tahu cara mereka akan mengatasi kehancuran ini. Mereka telah kehilangan segalanya,” ujar dokter tersebut.

Di tempat-tempat penampungan yang padat di seberang Propinsi Attapeu, para korban telah menceritakan saat-saat mengerikan air mengalir melalui desa-desa mereka. Mereka diberi sedikit peringatan tentang bencana yang akan datang.

Banyak orang yang melarikan diri ke pegunungan mencari tempat yang lebih tinggi. “Tidak ada yang memperingati kami,” kata Poosa Duangapai dari tempat penampungan sementara di taman kanak-kanak tempat para pengungsi tergeletak di atas tikar.

“Hanya mereka yang melihat air yang datang berteriak kepada kami. Sekarang aku hanya punya satu sarung, satu blus, dan sepotong kain lain,” ujarnya.

Seorang pria Vietnam yang tinggal di daerah itu mengatakan, pengeras suara memperingatkan Desa Ban Mai bahwa air akan dibuang dari bendungan. Hanya dua jam sebelum benar-benar ambruk.

“Dari pukul 9 malam sampai 2 pagi, air naik sangat cepat. Kami berlari ke sebuah rumah di belakang kami, air datang ke lantai dua, lantai tiga, kemudian kami semua berada di atas atap,” kata Tran Van Bien, 47.

“Saya melihat beberapa mayat sudah mengapung, tetapi saya tidak bisa berbuat apa-apa. Beberapa dari mereka selamat, tetapi beberapa pasti mati,” ujar Tran.

Bencana itu telah menimbulkan pertanyaan serius tentang kebijaksanaan Laos yang miskin namun kaya sumber daya sehingga mampu menjadi ‘baterai Asia’ dengan membangun puluhan bendungan di seluruh jaringan sungai di negara itu. Bahkan ratusan desa direlokasi untuk membangun proyek pembangkit listrik tenaga air yang listriknya dijual ke negara-negara tetangga.

(ina/ce1/JPC)