Benarkah Ukuran Payudara Bisa Memengaruhi Jumlah Produksi ASI?

Selain Daun Katuk, Deretan Makanan Ini Juga Perlancar ASI - JPNN.COM

jpnn.com – Ada banyak sekali mitos seputar ukuran payudara wanita, baik besar maupun kecil. Salah satu yang mungkin sering Anda dengar adalah ukuran payudara bisa memengaruhi jumlah produksi ASI. Sebagian masyarakat bahkan percaya anggapan ini benar adanya. Tapi sebenarnya ini mitos atau fakta, sih?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter mengajak Anda untuk mengenali payudara pada ibu menyusui lebih baik. Dia mengatakan, payudara tersusun atas kelenjar penghasil ASI (alveoli) beserta salurannya, jaringan lemak, dan pembuluh darah. Bentuk alveoli berupa kantong kecil. 

“Nah, sel dalam alveoli inilah yang memproduksi ASI di bawah pengaruh berbagai hormon. ASI yang sudah diproduksi akan disimpan di dalamnya. Kelak, ASI akan dikeluarkan melalui saluran alveoli saat diisap bayi atau dipompa,” kata dr. Sepriani menjelaskan.

“Ukuran payudara ditentukan oleh jaringan lemak di dalamnya, sementara ASI diproduksi sel alveoli. Oleh karena itu, ukuran payudara tidak memengaruhi jumlah dan kualitas ASI yang diproduksi,” tegasnya.



Selain itu, produksi ASI tidak ditentukan dari ukuran payudara, melainkan seberapa sering Anda mengosongkan payudara serta kondisi ibu menyusui. Ada beberapa kondisi yang timbul jika jumlah alveoli sedikit. Selain itu, alveoli yang tidak berfungsi dengan optimal juga bisa memengaruhi kondisi tersebut. Kabar baiknya, dua contoh kasus ini sangat jarang terjadi.

Ukuran payudara tidak memengaruhi produksi ASI, melainkan kapasitas
Meski ukuran payudara tidak berpengaruh pada jumlah ASI yang diproduksi, tetapi ini bisa memengaruhi kapasitas penyimpanan ASI di payudara.

Ibu yang memiliki payudara besar tentu lebih banyak dan lebih lama menyimpan ASI. Namun jangan khawatir, bukan berarti ibu menyusui dengan payudara kecil tak bisa menyimpan banyak ASI.

“Itu bukan masalah selama payudara rutin dikosongkan. Payudara kosong akan mengirim sinyal ke otak untuk mengeluarkan hormon, guna mendorong produksi ASI kembali,” ujar dr. Sepriani.

Sumber : Klikdokter