Benar dan Salah Mengenai Vaksin Difteri

Ilustrasi imunisasi.
(Pixabay)

JawaPos.com – Banyak orang tua yang menolak vaksin karena sejumlah alasan. Mulai khawatir biaya mahal, kualitas vaksin buruk, hingga haram. Berikut penjelasan Prof Dr dr Ismoedijanto SpA(K) dan dr Dominicus Husada SpA(K) seputar informasi yang beredar.

Vaksin difteri menggunakan bahan babi.
Salah. Vaksin difteri yang digunakan di Indonesia merupakan produksi Bio Farma. Material serta prosesnya sama sekali tidak menggunakan lemak babi.

Bahan vaksin diambil dari penderita lain.
Salah. Di era modern, pengembangan vaksin tidak lagi melibatkan sampel dari orang mati atau orang yang sebelumnya pernah tertular penyakit tersebut.



Vaksin produksi Indonesia berkualitas buruk.
Salah. Bio Farma sudah mengekspor vaksin ke 174 negara, khususnya vaksin tetes polio. Vaksin difteri produksi Bio Farma juga diakui serta dibeli oleh Unicef untuk program-program mereka.

Harga mahal.
Salah. Lantaran diproduksi di dalam negeri, biaya vaksin kini lebih terjangkau. Apalagi, pemerintah juga menggratiskan 11 vaksinasi wajib.

Konsumsi herbal bisa menggantikan vaksin.
Salah. Hingga kini, belum ada studi yang membuktikan herbal mampu menangkal infeksi virus. Apalagi hingga membentuk kekebalan tubuh terhadap virus menular seperti difteri.

Kalangan antivaksin hanya berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah.
Semua kalangan rentan terkena hoax, lantas menjadi antivaksin. Sebab, ada tokoh antivaksin yang berasal dari kalangan dokter. Beberapa nama lantang menyatakan antivaksin meski mereka tidak pernah melakukan riset terkait dampak negatif vaksin.(*)


(fam/c22/ayi)