Belum Semua Sekolah Siap Inklusi

KOTA – Belum semua sekolah di Lamongan siap menjadi sekolah inklusi. Sebab jumlah tenaga pendidik inklusi masih minim. Sekolah inklusi adalah sekolah yang menerima siswa berkebutuhan khusus.Dari total 633 lembaga pedidikan sekolah dasar (SD),  hanya 45 lembaga bersedia menjadi sekolah inklusi.  Sedangkan tingkat SMP hanya dua  dari 156 lembaga.  Kepala Seksi Kesiswaan Dinas Pendidikan (Disdik)  Lamongan, Pramono Widodo mengakui, jumlah sekolah inklusi di Lamongan masih terbatas.  Karena terkendala tenaga pendidik inklusi. Sehingga disdik tidak bisa memaksa sekolah menerima siswa inklusi.  ‘’Saat ini jumlah siswa inklusi sebanyak 162 siswa di 45 sekolah. Sedangkan yang belum masuk sekolah, kami tidak memiliki datanya,’’ ungkapnya senin (5/2). 

Dia menjelaskan, semua anak berhak mendapatkan pendidikan sama. Tapi karena anak-anak inklusi termasuk berkebutuhan khusus sehingga gurunya juga harus khusus.  Yakni guru yang mendapat pelatihan khusus secara berkala.  Provinsi ada pelatihan guru inklusi. Tapi hanya melatih tiga guru dari tiga lembaga saja. Sehingga jumlah guru inklusi masih sangat terbatas. ‘’Disdik Lamongan mulai menganggarkan untuk pelatihan guru inklusi. Tapi tidak banyak. Sehingga pelaksanaannya harus bertahap,’’ terangnya.  

Menurut Pramono, pendidikan inklusi memang belum maksimal.  Selain tenaga pendidik kurang,  sarana prasarana penunjang lainnya juga masih terbatas.  Misalnya, fasilitas umum (fasum)  di sekolah masih sama dengan siswa normal, sehingga menyulitkan bagis siswa inklusi. ‘’Kalau sekolah menerapkan pendidikan inklusi,  keberadaan guru,  infrastruktur dan fasum harus dipertimbangkan.  Sebab anak inklusi bermacam-macam. Ada tuna netra,  tuna daksa,  tuna grahita,  tuna rungu,  dan masih banyak lagi.  Semua itu perlakuannya beda, termasuk fasilitasnya,” paparnya.