Belajar Toleransi keberagaman dari Kota Mataram

 

RADAR MALANG ONLINE – Kota Mataram merupakan salah satu kota yang berada di Pulau Lombok. Di Kota dengan luas sekitar 60 kilometer persegi ini tidak hanya ditinggali suku Sasak yang merupakan suku asli. Tetapi, ada beberapa etnis yang mendiami kawasan ini. Diantaranya etnis Arab, Tionghoa dan juga Melayu. Ketiga etnis ini bahkan mendiami di kawasan tersendiri.

Misalkan di perkampungan Melayu, perkampungan Arab dan juga perkampungan Tionghoa. Perkampungan tersebut tentunya memiliki keunikan tersendiri. Meskipun terdiri dari beberapa etnis, tetapi kehidupan di perkampungan tersebut terlihat sangat damai. Tidak ada gesekan atau permasalahan antara ketiga etnis. Bahkan, ketiga etnis ini sering bahu membahu jika ada etnis lain yang mengadakan sebuah kegiatan.

Hal ini pulalah yang disampaikan oleh salah seorang budayawan Kota Mataram, Lalu Sarjana. Lalu menjelaskan, bahwa keberadaan berbagai etnis ini menjadi bukti keragaman masyarakat Kota Mataram. Para penghuni Kota Mataram sangat senang dan kerasan untuk tinggal di kawasan yang dulunya merupakan pelabuhan terbesar di Pulau Lombok tersebut.

Kota Mataram
Bangunan Wihara Bodhi Dharma

“Kalau gesekan kecil tetap ada, tapi tidak sampai membesar dan dapat diatasi. Kalau yang paling terkenal itu dengan sebutan 171 ,” terang Lalu saat memberikan penjelasan, Rabu (15/5) lalu.

Dikatakannya, saat itu memang ada beberapa kekacauan yang cukup parah antar etnis. Tetapi, kemudian masyarakat sudah saling menyadari. Dan akhirnya sampai sekarang tidak ada lagi gesekan yang berdampak pada kekacauan yang mengkhawatirkan.

Keragaman yang cukup terjaga di Kota Mataram ini bisa dilihat dari keberadaan perkampungan di Kota Tua Ampenan. Di sana seakan sudah terbagi menjadi beberapa kawasan yang didiami oleh etnis tertentu. Tidak hanya kawasan pemukiman saja. Tetapi kawasan tersebut juga berdiri bangunan tempat ibadah. Seperti bangunan wihara Bodhi Dharma yang sudah berdiri sejak tahun 1804. Selain itu juga terlihat bangunan Masjid bernama At Taqwa. Konon, masjid ini sudah ada sejak masa penjajahan Belanda dan juga Jepang.

Lalu juga menjelaskan, ada beberapa sejarah yang menyebut mengenai asal muasal Suku Sasak yang mendiami Kota Mataram. Ada yang menyebut bahwa mereka adalah dari Jawa. Hal ini terlihat dari Honocorokonya. Kemudian ada juga yang menyebut mereka beradal dari orang Vietnam.

“Orang Vietnam mempunyai postur tubuh yang sama dengan orang Sasak, lalu juga dari Arab karena kereligiusannya,” ungkapnya.

(apl/JPC)