Belajar Soal Pemilu Melalui Permainan Bakiak

JawaPos.com- Ada cara unik yang dilakukan oleh sejumlah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk mengajak masyarakat dari kalangan marjinal turut berkontribusi saat gelaran Pemilu 2019. Yakni dengan perlombaan bakiak sembari mengenal hal-hal yang berhubungan dengan pemilu.

Hal itu seperti yang terlihat di Kampung Pemulung Sidomulyo Kelurahan Tanjungrejo, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Minggu (16/12). Sejumlah warga berkumpul di jalanan gang rumah mereka. Suara sorak sorai pun terdengar saat JawaPos.com menyusuri gang sempit menuju tempat tersebut.

Ternyata mereka sedang mengikuti perlombaan bakiak. Menariknya, perlombaan itu bertemakan Pemilu 2019. Acara bertajuk Sidomulyo Melu Pemilu tersebut digelar oleh mahasiswa UMM bekerja sama dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Malang.

Warga menempelkan jawaban soal tanggal penyelenggaraan Pemilu 2019. (Fisca Tanjung/ JawaPos.com)

Ketua Pelaksana Acara Sidomulyo Melu Pemilu Teria Ananda mengatakan, acara ini berawal dari mata kuliah praktikum Public Relation (PR) tentang manajemen event. Mereka melakukan riset untuk menemukan masalah yang dihadapi oleh KPU Kota Malang mengenai sosialisasi terkait pemilu.

“Sosialisasinya belum berjalan baik. KPU susah menjangkau elemen masyarakat marjinal,” ujarnya kepada JawaPos.com.

Berawal dari permasalahan tersebut, pihaknya pun menyasar Kampung Pemulung Sidomulyo. Pasalnya, dari 11 RT yang ada di kampung ini mayoritas bekerja sebagai pemulung, pengemis, dan pengamen.

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM itu menyampaikan, pihaknya pun memilih cara yang tidak biasa untuk memberikan sosialisasi. “Pakai cara konvensional tidak bisa terima. Akhirnya kami menggelar lomba,” katanya.

Secara teknis, pada perlombaan tersebut panitia akan memberikan soal terkait pemilu. Kemudian peserta lomba akan menjawab dengan mengambil kertas jawaban yang telah disediakan. Selanjutnya, dengan menggunakan bakiak, mereka harus menempel jawaban tersebut ke papan yang sudah disediakan.

Tak jarang, jawaban mereka masih ada yang salah. Seperti saat panitia bertanya tanggal pelaksanaan pemilu.

Pada acara itu, setidaknya ada 9 RT yang turut serta. Salah satu warga, Yohanna Febri, 33, mengatakan bahwa cara permainan ini sangat efektif untuk mengenal pemilu. “Lebih bagus. Orang-orang banyak yang berminat, suasananya lebih ramai,” pungkasnya.

(fis/JPC)