Belajar Otodidak, Karya Dibeli Menteri dan Artis

Kerasnya jalan hidup yang dialami Yakub Setiabudi bukanlah halangan untuk terus berkarya. Mantan anak jalanan ini mampu menghasilkan karya dari seni lukis yang dipelajarinya secara otodidak. Karyanya pun pernah dibeli menteri dan artis ibu kota.

Kerasnya jalan hidup yang dialami Yakub Setiabudi bukanlah halangan untuk terus berkarya. Mantan anak jalanan ini mampu menghasilkan karya dari seni lukis yang dipelajarinya secara otodidak. Karyanya pun pernah dibeli menteri dan artis ibu kota.

Lukisan bergambar kuda dengan ukuran sekitar 1,5 x 0,5 meter itu jadi salah satu pusat perhatian pengunjung pameran lukisan dari komunitas Akar Rasa di ruang lobi Balai Kota Among Tani kemarin (31/8). Sebab, lukisan ini tak biasa. Lukisan ini dibentuk dari rerumputan yang disatukan hingga menjadi gambar kuda yang sedang berlari.

Lukisan ini salah satu karya Yakub Setiabudi, pelukis asal Kota Batu yang karyanya sudah dibeli tokoh nasional dan artis. ”Rumput itu menggambarkan orang kecil, yang selalu diinjak-injak, tapi akhirnya bisa sukses seperti larinya kuda,” jelas Yakub Setiabudi kepada Jawa Pos Radar Batu sambil menunjuk lukisan yang didominasi warna hijau itu.

Pria kelahiran 11 November 1969 ini bercerita, karya lukisnya pernah dibeli Menteri Perhubungan RI Kabinet Gotong Royong tahun 2001–2004 Agum Gumelar pada tahun 2004, serta mantan wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany. Selain itu, karyanya pernah dibeli artis era 1970–1980-an Kanjeng Raden Ayu Soemarini Soerjosoemarno atau dikenal dengan Marini pada tahun 2002. ”Waktu itu pas ada pameran di Jakarta,” kenang pria yang tinggal di Jalan Dewi Sartika, Gang 01, No 8, Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, ini.

Pria 48 tahun ini mulai menyalurkan bakat melukisnya pada tahun 2000 silam. Tepatnya, saat salah satu anaknya membawa foto dokar di Parangtritis, Jogjakarta. Sebab, Yakub memiliki cerita tragis di tempat tersebut. Dia pernah menjadi buruh warung di pantai itu.



Sejak lulus SMA pada 1988 silam, Yakub hidup di jalanan. Jalan hidup ini dia jalani karena dia tak punya pilihan lain. Yakub menjadi anak jalanan mulai di Jakarta, Bandung, Surabaya, Boyolali, hingga Jogjakarta. ”(Saya jadi anak jalanan) karena tak punya keahlian. Saya melukis itu berlajar otodidak. Tapi, lukisan saya laku Rp 5 juta dan akhirnya sampai sekarang (melukis),” ungkap alumnus SMA Immanuel Batu ini.

Dalam beberapa tahun terakhir Yakub tinggal di Tangerang Selatan. Baru pada awal 2017 ini dia kembali ke tanah kelahirannya, Kota Batu. Dia ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi anak-anak Kota Batu yang hobi melukis. ”Pada Hari Sumpah Pemuda nanti (28/10), saya akan buka sanggar melukis gratis untuk umum di Batu,” ujarnya.

Rencananya, sanggar tersebut dipusatkan di Balai RW 09, Kelurahan Temas, Kecamatan Batu. Sanggar ini bakal buka setiap hari. Sehingga, cocok bagi anak muda ingin belajar seni lukis sesuai waktu luangnya. ”Saya sudah izin, dan tempat itu diperbolehkan untuk latihan melukis,” imbuhnya.

Yakub berharap, sanggar tersebut nantinya bisa melahirkan pelukis profesional dari Kota Apel ini. Sehingga, Kota Batu tak hanya dikenal dengan kota pariwisata dan pertanian, tapi juga terkenal dengan seni lukisnya.

Pewarta: Dian Kristiana
Penyunting: Imam Nasrodin
Copy Editor: Arief Rohman
Fotografer: Darmono