Belajar Ngaji Lagi hingga Berjuang Melawan Kanker

Selama menjalani masa hukuman, beragam aktivitas dilakoni oleh 656 warga binaan pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas IIA Wanita Malang. Tak hanya mendapat pelajaran keterampilan, mereka juga bersemangat belajar agama. Beberapa di antaranya juga berjuang melawan sakit yang diderita. Seperti apa?

ARIS DWI KUNCORO

Suasana di dalam lapas wanita satu-satunya di Jawa Timur itu memang layaknya di ”pondok pesantren” pada jam-jam tertentu. Seperti saat salat berjamaah dan belajar mengaji bersama sebelum melakukan aktivitas yang lain. Meski banyak menghabiskan waktu di dalam sel, banyak di antara para napi yang tetap berusaha memperbaiki diri dengan belajar banyak hal.

”Pagi hari, pukul 08.00–10.00, mereka ada pengajian bersama,” kata Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas IIA Wanita Malang Ika Yusanti SH MM. Dia menyatakan, aktivitas tersebut sudah berlangsung lama. Sampai sekarang pun rutin dijalani oleh para narapidana.

Tanpa aba-aba, ketika waktu menunjukkan dimulainya waktu ngaji, langkah kaki mereka otomatis menuju aula. Sambil menenteng mukena, mereka bergegas menuju gedung dengan luas 25 meter x 15 meter itu. Meski harus bersesakan, banyak di antara mereka terlihat serius belajar agama. ”Dari 656 WBP, 90 persen di antaranya muslim, mereka sama-sama belajar ngaji lagi,” kata Ika.



Ada beberapa kelas yang ada di ”pondok pesantren” itu. Mulai dari kelas belajar baca Alquran, kelas tata cara wudu, salat, dan lain-lainnya. Selain itu, tausiah juga diberikan pada para santri WBP ini. ”Kami gandeng beberapa organisasi keagamaan. Ada dari Aisyiyah dan lainnya itu untuk mengajari mereka.

Para ibu-ibu yang ngajari mereka ini semangat sekali,” ungkap mantan Kalapas Kelas IIA Wanita Jakarta (Pondok Bambu) itu. Setelah menjalani aktivitas yang berlangsung sekitar dua jam itu, para napi memiliki waktu senggang.

Mereka bisa memanfaatkan waktunya dengan belajar keterampilan di salon di dalam lapas. Sebagian juga ada yang belajar beragam aneka wirausaha di bengkel kegiatan atau bengkel kerja (bengker).

Namun, semua aktivitas itu akan terhenti seketika saat terdengar azan salat Duhur. Mereka yang semula sedang menjahit, merajut, membuat kue, tempe, tahu, sampai kecap akan ditinggalkan untuk sementara. Mereka yang semula di blok (area tahanan/tempat tidur WBP) juga langsung bergegas. Semuanya akan terburu-buru melangkah menuju aula kembali.

Berjalan semakin cepat sambil menenteng mukena. Beberapa langsung berbaris untuk mengambil air wudu dan memasuki aula. Mereka duduk dan membentuk saf (barisan salat) berjamaah sambil menunggu waktunya salat dimulai. Tak butuh waktu lama, aula pun kembali penuh. Beberapa WBP yang sedikit terlambat akhirnya mendapatkan tempat paling belakang.

Pemandangan unik terlihat dengan penempatan sandal. Agar tidak sampai tertukar atau hilang, semua ditempatkan sesuai blok. Cara ini ternyata efektif sehingga saat keluar tidak ada kata-kata ”mana sandalku”, ”sandalku kok hilang”.

Setelah azan selesai dikumandangkan, terlihat beberapa WBP langsung melanjutkan dengan salat sunah sebelum dilangsungkannya salat berjamaah. ”Ya, seperti ini kalau pas Duhur selalu berjamaah. Imamnya kalau pas ada laki-laki, ya laki-laki. Namun, kalau tidak ada yang jadi imam ada (petugas lapas),” ungkap Kasubsi Keamanan dan Ketertiban Lapas Wanita Kelas IIA Malang Tutuk Edy Kusweni SE.

Para perempuan tangguh ini tak hanya menjadikan momen tersebut untuk menggugurkan kewajiban salat semata. Mereka bukan jamaah lamling atau setelah salam langsung pelencing (menghilang).

Zikir dan lantunan Asmaul Husna dibaca bersama-sama. Suasana itu menambah kesejukan di dalam hati. ”Mereka yang tidak berjamaah biasanya yang halangan (menstruasi) atau sakit,” ungkap Tutuk. Di akhir salat berjamaah ditutup dengan doa bersama, dan mereka juga doa sendiri-sendiri, baru satu per satu kembali beraktivitas.

Saling menghargai dan bersikap baik juga banyak ditujukan WBP, termasuk kepada petugas. Mereka yang melintas, juga menyalami Tutuk dan mencium tangannya. Terutama narapidana yang masih muda. ”Assalamualaikum, Mi,” kata salah satu WBP menyapa Tutuk yang akrab dipanggil Mami oleh para WBP.

Dari sekitar 656 WBP, Tutuk menyatakan, tidak semuanya memang beragama Islam. Mereka mayoritas tersangkut kasus narkoba. Dari narapidana itu ada yang terkena hukuman seumur hidup. ”Ada 6 yang terkena seumur hidup (SH),” ujar perempuan yang sudah menjadi petugas Lapas Kelas IIA Malang sejak 1987 itu.

Dia menjelaskan, di dalam lapas juga ada para ibu yang melahirkan dan membesarkan anaknya di balik jeruji besi ini. Ada enam anak yang ikut ibunya menjalani hukuman. Anak-anak ini ikut beraktivitas, dan nanti kalau sudah berusia dua tahun akan dititipkan ke saudara kandung WBP di luar lapas.

Beberapa anak juga terlihat bermain-main dan berlarian di dekat pengawasan ibu mereka. Beberapa tahanan yang jadi teman ibu anak-anak, sesekali juga menggoda bocah laki-laki yang lucu ini.

Sementara itu, di area lapas juga terdapat klinik. dr Iin Indarti menjadi dokter andalan bagi para narapidana. Dengan sabar, telaten, dan semangat Iin merawat mereka. Salah satu WBP yang sakit salah satunya Nurmawati Nababan, 58. Dia menderita kanker serviks dan masuk stadium 3 B. ”Ibu ini sudah tiga kali kemoterapi,” kata Iin. Kondisi Nurmawati saat ini memang jauh lebih baik.

Meski kepalanya kini botak karena rambutnya yang rontok. Proses kemoterapi membuat mahkota perempuan berusia 58 tahun itu hilang. Tapi secara fisik, Nurmawati masih terlihat gemuk. Saat ini dia juga sudah mulai bisa beraktivitas.

”Sekarang sudah baik, dulu sakit semua, jalan tidak bisa,” kata Nurmawati. Kanker yang dia derita, baru diketahui pada tahun lalu. Saat itu Nurmawati merasakan perut sakit dan menjulur sampai kaki. Dia tidak bisa berjalan. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata dia terkena kanker serviks.

Semangat Nurmawati untuk sembuh begitu besar. Iin juga tiada henti menumbuhkan kepercayaan diri perempuan asal Jawa Barat itu. ”Sebab, dulu ada juga (yang terkena kanker serviks) di sini (lapas) akhirnya bisa sembuh juga,” ungkap Iin.

Semua pengobatan Nurmawati juga ditanggung pemerintah. Mulai dari obat, kemoterapi, dan lain-lainnya. Bagi Nurmawati sendiri, sakit ini tidak hanya ujian. Dia menilai, ada berkah tersendiri. ”Berkahnya dulu keluarga tidak ada yang jenguk. Selama empat tahun saya di sini (lapas) tidak ada yang menjenguk, pas saya sakit suami jenguk, anak-anak menjenguk,” tandas dia sambil sedikit tersenyum.

Pewarta               : Aris Dwi Kuncoro
Copy Editor         : Dwi Lindawati, Amalia Safitri
Penyunting         : Ahmad Yani
Fotografer          : Darmono