Belajar Kearifan Lokal di Kampung Tenun Samarinda

Pejabat Daerah Jamu Tamu di Rumah Panggung

Perajin tenun Samarinda memintal kain.

Cara pejabat daerah di Samarinda ini patut dicontoh. Agar perajin tradisional kain tenun semangat, tamu-tamu pemerintah diarahkan berkunjung ke kampung tenun. Jawa Pos Radar Malang baru saja berkunjung ke sana.

Awan kelabu tampak menggantung di langit Samarinda siang hari itu. Di sebuah gang sempit, bunyi nyaring ketukan berirama terdengar dari beberapa titik di tempat itu.

Seperti nama tempatnya, Kampung Tenun, hampir setiap rumah di tempat tersebut memiliki mesin pemintal kain atau alat tenun, alat klasik tradisional yang masih tetap lestari dan eksis selama puluhan tahun di sebuah tempat di Samarinda ini.

Tak sulit menemukan Cagar Budaya Kampung Tenun ini. Begitu menuju daerah Samarinda Seberang (seberang Sungai Mahakam), semua orang seakan tahu keberadaan kampung itu.

Wartawan koran inipun langsung diarahkan menuju perkampungan tersebut. Berlokasi di jalan Pangeran Bendahara, gang Pertenunan, Kelurahan Tenun, Kecamatan Samarinda Seberang, Kota Samarinda, Kalimantan Timur.

Sebuah bangunan adat rumah panggung berwarna hitam legam lagaknya sebagai penanda masuk ke tempat itu. Sebab, tepat di sampingnya terdapat Gang Pertenunan, sebuah jalan sempit selebar 1,5 meter. Jalan itulah pemandu masuk menuju kampung para perajin kain tenun dan hasilnya yang begitu terkenal, yakni kain tenun Samarinda atau dengan produk sarung Samarinda.

Hanya jalan utama gang yang dibangun dengan semen. Jalan bercabang hampir semuanya menggunakan papan kayu. Sedangkan di perkampungan, hampir semuanya merupakan rumah panggung yang didirikan di atas tanah rawa atau tepian Sungai Mahakam. Suara kayu berderak dan saling berdecitan ketika kaki melangkah di atas papan-papan itu. Suara tersebut berpadu dengan suara mesin tenun yang nyaring. Suara tawa, canda, dan teriakan anak-anak juga menambah keceriaan di tempat itu.

Namun, ketenaran kampung itu makin lama makin pudar. Sebab jumlah perajin terus menyusut. Generasi penerus jarang ada yang mau melanjutkan profesi penenun. Saat ini, perajin tenun tinggal sedikit.

”Dulu di setiap rumah hampir semuanya memiliki mesin tenun,” ujar Ruhani, warga Kampung Tenun.

Banyak kaum perempuan yang seharusnya menjadi penerus tidak ingin menenun lagi seperti orang tuanya. Mereka pergi ke seberang atau bahkan ke luar kota untuk mencari pekerjaan yang lebih layak.

”Anak muda zaman sekarang sudah tidak ada lagi yang tertarik menenun,” ujar perempuan 63 tahun itu.

Banyak perempuan di kampungnya yang bekerja di luar kampung. Memang, mungkin pekerjaan menenun sudah dianggap tidak menjanjikan jika dijadikan sebagai sarana mencari nafkah. Sebab, tak setiap hari mereka bisa menjual kerajinan mereka. Menenun satu lembar kain saja, kata Ruhani, membutuhkam waktu cukup lama.

”Mungkin memakan waktu sekitar 7 hari sampai dua minggu,” ucapnya.

Tergantung kesulitan motif dan corak kain itu sendiri. Banderol kain tenun biasanya di kisaran Rp 250 ribu hingga Rp. 700 ribu.

Dari pengamatan wartawan koran ini, memang di sepanjang jalan, penduduk yang ditemui lebih banyak anak kecil dan perempuan yang sudah lanjut usia. Jarang sekali wartawan koran ini menemui pemuda atau pemudi.

Namun, keteguhan para perajin ini patut diacungi jempol. Mereka tetap eksis hingga sekarang. Hal itu diungkapkan oleh warga Kampung Tenun lainnya, Madina.

”Saya sudah 40 tahunan menenun,” dia menerangkan. Madina dan mesin tenunnya sudah eksis dan saling berdampingan sejak dia masih gadis.

Selain itu, penduduk lain, Abraham Christian, menjelaskan bahwa saat ini mesin-mesin yang digunakan sudah lebih modern. ”Kalau dulu semuanya masih manual. Sekarang menenun sudah jauh lebih mudah,” jelasnya.

Kalau zaman dulu, menenun dilakukan dengan cara duduk di lantai. Sekarang, alatnya sudah dibuat agak tinggi. Kesalahan karena benang kusut pun lebih bisa diminimalisir.

Tak hanya itu, sebagai pemuda dari daerah kampung adat tersebut, dirinya bangga akan tanah kelahirannya ini. Sebab, warganya bisa memamerkan karya di Rumah Panggung yang berlokasi di depan pintu masuk gang. Di Rumah Panggung itulah biasanya gubernur atau bupati menjamu para tamunya. Tujuannya, mempromosikan kain tenun khas Samarinda.

Sehingga, setiap kali ada kunjungan wisata, kampung itu selalu jadi jujukan. ”Biasanya kalau ada kunjungan dari gubernur atau wali kota yang datang ke Kampung Tenun, rumah itu (rumah panggung warna hitam) akan digunakan sebagai tempat jamuannya,” terang pemuda berusia 18 tahun itu.

Saat itulah karya-karya dari kampungnya bakal dipamerkan kepada para tamu-tamu dalam acara kunjungan besar. ”Jadi, tidak hanya di sini (Samarinda), tapi bisa dikenalkan dalam skala nasional. Itu harapan kami,” tandasnya.

Pewarta: Gigih Mazda
Penyunting: Abdul Muntholib
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Gigih Mazda