Begini Cara Mahasiswa Indonesia Menikmati Puasa 19 Jam di Finlandia

Begini Cara Mahasiswa Indonesia Menikmati Puasa 19 Jam di Finlandia

“Assalamualaikum, diumumkan bahwa puasa mulai hari Kamis, 17 Mei 2018”. Begitulah pesan yang tersebar di salah satu messenger group warga Indonesia di Finlandia beberapa hari sebelum Ramadan tiba. Pesan tersebut terkonfirmasikan melalui pengumuman yang disampaikan pada laman Masjid Al-Iman, tempat saya biasa menjalankan ibadah salat Jumat di Helsinki, ibu kota Finlandia.

Sesenang-senangnya saya menyambut bulan suci Ramadan 1439 Hijriah, tebersit rasa khawatir. Mampu atau tidak saya melaksanakan ibadah puasa dengan afdal dan khusyuk. Kekhawatiran itu tidak lain karena separuh pertama Ramadan akan jatuh pada musim semi. Lantas, separuhnya lagi pada musim panas.

Artinya, siang hari di Finlandia akan berjalan lebih lama daripada malam hari. Durasi berpuasa akan terus bertambah seiring menuanya umur bulan. Tantangan lainnya adalah, suhu udara yang sejak 12 Mei lalu berada tidak kurang dari 20 derajat Celcius. Itu dua kali lebih tinggi dari suhu rata-rata Mei dari tahun-tahun sebelumnya.

Kultum menjelang buka puasa bersama di KBRI Helsinki (Adrianto Dwi Nugroho for JawaPos.com)

Meski demikian, saya berbesar hati karena mengetahui bahwa ibadah puasa nan panjang ini akan saya laksanakan bersama-sama dengan jutaan Muslim dan Muslimat yang tinggal di negara-negara lain di belahan bumi utara. Saya juga harus bersyukur karena Ramadan tahun ini tidak melalui hari terpanjang dalam 1 tahun, atau summer solstice.



Biasanya itu jatuh pada 21 Juni. Berbekal semangat solidaritas dan rasa syukur tersebut, niat untuk menjalankan ibadah puasa saya ucapkan seiring memanjatkan doa agar puasa yang saya jalankan dapat dimudahkan oleh Allah SWT.

“Ayah, bangun, sahur!” ucap istri saya pada dini hari puasa pertama. Waktu menunjukkan pukul 1.48 pagi. Ini berarti kami memiliki waktu 54 menit sebelum datangnya fajar pada pukul 2.42, dan 44 menit sebelum waktu Imsak. Saya bergegas membangunkan anak saya yang sebelum tidur malam tadi berpesan agar dibangunkan ketika orang tuanya bersahur.

Kami berencana memperkenalkan ibadah puasa bagi anak kami melalui teladan, walaupun belum memintanya untuk berpuasa. Bagi saya, kehadiran keluarga menambah satu hal lagi yang patut saya syukuri, terutama pada Ramadan ini. Sahur dan berbuka puasa merupakan momentum yang lebih nikmat dilakukan bersama dengan keluarga.

Setelah membasuh muka dengan air hangat, saya bergegas menuju meja makan untuk bersantap sahur. Untuk sahur pertama kami di Ramadan, istri saya telah berbaik hati untuk memasak rawon iga sapi. Walaupun Helsinki dan Surabaya, tempat asal masakan rawon, berjarak hampir 14 ribu Kilometer, atau lebih dari 16 jam perjalanan udara, kami masih dapat menikmati sajian tersebut.

Sejumlah toko Asia yang tersebar di Helsinki memudahkan kami untuk mendapatkan bumbu-bumbu khas masakan Indonesia. Kemudahan yang sama kami alami dalam memperoleh daging ayam, sapi, dan kambing halal. Satu alasan lagi untuk mengucap hamdalah.

Puasa hari pertama saya lalui dengan melakukan kegiatan di rumah. Oleh karena studi doktoral saya telah memasuki tahun ketiga, tidak ada lagi mata kuliah yang harus saya tempuh. Dengan demikian, saya dapat fokus menulis disertasi saya, dan itu dapat dilakukan di luar kampus. Namun demikian, bagi saya, menulis disertasi dalam kondisi berpuasa tidaklah mudah.

Konsentrasi yang diperlukan untuk membaca artikel dan menyintesis berbagai argumentasi telah menyita banyak energi. Untuk menghilangkan rasa lelah, saya berjalan kaki dan menikmati cuaca di luar. Akhirnya, setelah 19 jam dan 17 menit, waktu berbuka puasa tiba. Alhamdulillah, kekhawatiran saya tidak terbukti, karena puasa hari pertama ini dapat saya lalui dengan lancar.

Hari berikutnya, saya memutuskan untuk ber-iftar di Masjid Suomen Islamilainen Yhdiskunta (Islamic Society of Finland) yang berlokasi di pusat kota. Masjid ini memiliki sekitar 1.600 jamaah dengan latar belakang etnis yang beragam, antara lain Somalia. Jamaah asal Somalia umumnya berlatar belakang pengungsi perang saudara di negaranya.

Warga Somalia pertama kali mengungsi ke Finlandia pada 1990, dan hingga saat ini berjumlah sekitar 16 ribu jiwa. Tidaklah berlebihan jika ada anggapan bahwa keberadaan warga Somalia telah berperan dalam menjaga pilar-pilar Islam untuk tetap berdiri di negara dengan mayoritas penduduk beragama Kristen Lutheran Evangelis ini.

Tepat pukul 22.05, azan Maghrib berkumandang. Saya menyegerakan berpuasa dengan meneguk segelas air putih dan tiga butir kurma. Setelah menunaikan ibadah shalat Maghrib, makan malam dihidangkan. Menu berbuka puasa hari ini bertemakan timur tengah. Yaitu nasi biryani dan kari kambing.

Untuk membiayai iftar para jamaah, masjid ini membuka kesempatan kepada para donatur untuk menyedekahkan hartanya. Sebagai gambaran, dana yang dibutuhkan untuk membiayai iftar bagi 30 jamaah adalah sebesar EUR 200, sedangkan bagi 50 jamaah sebesar EUR 350. Satu jam setelah berbuka, kami melaksanakan salat Isya dan Tarawih secara berjamaah. Rangkaian ibadah malam ini selesai pada tepat tengah malam. Saatnya kembali ke rumah dan bersiap untuk bersahur.

Hari ketiga Ramadan, saya mendatangi salah satu festival tahunan di Helsinki, yaitu Hanami-Juhla, atau pesta Hanami. Acara yang berlangsung pada tengah hingga sore hari ini menampilkan pohon-pohon Sakura yang tumbuh di daerah Roihuvuori. Festival tahun ini diselenggarakan terlambat dari puncak bermekarannya bunga Sakura.

Namun demikian, rangkaian acara yang banyak menampilkan musik dan tarian asal Jepang ini tetap dinikmati oleh para pengunjung sambil berpiknik dengan teman dan keluarga. Keadaan berpuasa menyebabkan saya hanya bisa memandang mereka menyantap makanan dan meneguk minuman dingin sembari menelan ludah, dalam arti yang harfiah.

Bagi warga Helsinki, festival Hanami hanya satu dari puluhan aktivitas outdoor yang dapat dilakukan di musim semi dan panas. Aktivitas outdoor favorit warga Helsinki, dan kota-kota lain di Finlandia, bervariasi mulai dari bersepeda, lari, olahraga air, hiking, barbecue, hingga yang paling sederhana, berjemur diri di taman.

Lanskap dan fasilitas umum yang dibangun dan disediakan oleh pemerintah Finlandia memanjakan para warga yang ingin menikmati cuaca hangat dengan mendekatkan diri kepada alam. Bagi warga Finlandia, musim semi dan panas tahun ini patut disyukuri, mengingat musim dingin yang lalu kami harus melalui cuaca ekstrim dingin. Angin yang berhembus dari Siberia ke Eropa barat pada Februari lalu sempat menyebabkan suhu di Helsinki mencapai -26 derajat Celcius.

Ikut festival Hanami maupun melakukan aktivitas outdoor lainnya, Muslim yang sedang berpuasa harus dapat menerima bahwa keadaan lingkungan sosial di Finlandia tidak menjanjikan atmosfer Ramadan bernuansa religius. Jauh berbeda dengan di Indonesia atau di negara dengan penduduk mayoritas Islam. Tidak ada restoran yang tutup di siang hari. Tidak ada orang yang makan dan minum secara sembunyi-sembunyi.

Bahkan, pada 19 Mei lalu, bertepatan dengan penyelenggaraan ravintola päivä, atau diterjemahkan sebagai ‘hari restoran’. Itu adalah hari saat warga diperbolehkan untuk berjualan makanan dan minuman di tempat umum sepanjang hari. Bagi organisasi kemasyarakatan Indonesia yang ada di Finlandia, festival ini dimanfaatkan untuk mempromosikan kuliner Indonesia kepada penduduk lokal.

Harapan untuk sedikit menikmati nuansa religius di bulan Ramadhan saya temui melalui kegiatan Taman Pengajian Anak-anak (TPA) yang rutin dilaksanakan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Helsinki. Kegiatan ini dikelola oleh organisasi masyarakat Islam Indonesia di Finlandia. Selain mengajarkan anak-anak untuk membaca Iqra’ dan kitab suci Alquran, kegiatan TPA juga diisi dengan penyampaian kisah-kisah kerasulan. Selama bulan Ramadhan ini, kegiatan TPA dijadwalkan untuk dilaksanakan mulai pukul 20, atau sekitar dua jam menjelang berbuka puasa.

Ramadan di Finlandia banyak mengajarkan saya untuk tetap mensyukuri segala nikmat Allah SWT. Pancaran sinar matahari yang seolah tidak ingin redup sering kali menggoda saya untuk membatalkan puasa sebelum waktunya. Walaupun tantangan berpuasa akan terus ada pada hari-hari berikutnya, saya bersyukur dan berdoa agar Allah SWT menganugerahi saya kesehatan untuk melaluinya.

 

Ditulis oleh:

Adrianto Dwi Nugroho

sedang menempuh studi doktoral di University of Helsinki, Finlandia

Ketua PPI Finlandia (ppidunia.org)

untuk JawaPos.com

(dim/JPC)