Beberapa Penyebab Bayi Lahir Prematur

Spesialis kandungan dr Frans O H Prasetyadi SpOG (K) menuturkan, kondisi sosial ekonomi memang menjadi salah satu faktor risiko terjadinya bayi prematur. ’’Semakin rendah kemampuan ekonomi, maka semakin besar risikonya melahirkan bayi prematur, tapi itu dulu,’’ tuturnya.

Sekarang, lanjutnya, kalangan ekonomi menengah ke atas juga banyak mempunyai bayi dengan kelahiran prematur. Frans pun mencoba merunut proses persalinan prematur yang biasa terjadi.

Jadi, bayi lahir prematur paling banyak terjadi melalui persalinan spontan. Dan setelah diamati, terdapat perilaku tertentu yang menjadi pemicu persalinan spontan. Misalnya, merokok. Karena nikotin pasti akan meracuni janin. Hal tersebut memicu terjadinya persalinan prematur.

Serta yang juga banyak terjadi adalah bumil yang stres. Karena stres membuat produksi suatu hormon tertentu dalam tubuh ibu hamil menjadi meningkat. Hal itu menyebabkan kontraksi rahim dan mulut rahim menipis. Sehingga janin bisa lahir sebelum waktunya.

Gara-gara stres, ibu hamil bisa mengkonsumsi obat-obatan penenang, hal itu juga berbahaya. ’’Dan pola hidup seperti stres dan merokok kan sering ditemui pada kalangan menengah keatas,’’ lanjutnya.

Jadi, menurut Frans, masyarakat kalangan menengah keatas tidak boleh meremehkan kehamilannya. Karena mereka juga mempunyai faktor risiko kelahiran bayi prematur lainnya. Bila idealnya bayi lahir pada usia 39 sampai 40 minggu, maka bayi prematur sering lahir kurang dari 34 minggu.

Dan untuk yang terlanjur melahirkan bayi prematur, tidak perlu khawatir secara berlebihan. Karena bila dirawat di NICU, bayi prematur yang lahir dengan berat kurang dari satu kilogram pun bisa bertahan. (*)


(ina/JPC)