Bayi Stunting Masih Jadi Problem Serius

KOTA BATU – Bayi stunting masih menjadi problem serius di Kota Batu. Tahun lalu, dari total 14.285 ribu balita di Kota Batu, sebanyak 1.237 di antaranya masih mengalami masalah kekurangan gizi kronis. Sementara untuk tahun ini, mulai Januari hingga Juli, masih terdeteki sebanyak 770 balita stunting.

Padahal, anggaran yang digelontorkan Pemkot Batu untuk mengatasi problem kesehatan balita tersebut mencapai ratusan juta.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Batu Sri Ra hati menjelaskan, masih cukup tingginya kasus bayi stunting dipicu oleh berbagai hal. Mulai dari kurang gizi, pola asuh yang tidak baik, serta faktor eksternal lainnya.

Dia merinci, sejumlah pos anggaran disiapkan untuk menekan angka stunting. Seperti plotting anggaran sebesar Rp 200 juta untuk persalinan umum dan Rp 384 juta untuk persalinan masyarakat miskin. Selain itu, ada juga bantuan sebanyak 2.300 boks susu untuk ibu menyusui.

Rahati mengakui, program tersebut dirasa masih belum maksimal lantaran penurunan angka stunting baru mencapai 20 persen saja.



Bukan tidak mungkin jika enam bulan ke depan angka stunting di Kota Batu akan terus bertambah. ”Stunting itu kompleks, ya bantuan kita pun sudah kami maksimalkan. Tapi, juga butuh perubahan perilaku dari para ibu mulai hamil dan juga menyusui. Pola kebersihan, asupan gizi, dan lainnya harus disiplin,” katanya.

Pasalnya, selama ini masih ditemukan jika pemicu pola asuhlah yang menjadi faktor terbesarnya. ”Meski banyak faktor yang melatarbelakangi masalah stunting ini, akan tetapi pola asuhlah yang berpengaruh tinggi di sini,” jelasnya.

Rahati mencontohkan, pola asuh yang tidak baik di antaranya kurang perhatiannya orang tua dengan anaknya. Baik saat hamil maupun setelah melahirkan. Salah satunya dengan tidak memperhatikan pola makannya.

”Saat ini banyak orang tua yang kurang peduli terhadap makanan apa yang dimakannya. Sehingga, hal itulah yang tanpa sadar membuat kurangnya gizi terhadap anak,” ujarnya.

Tidak hanya itu saja, permasalahan stunting tersebut juga dipicu adanya pernikahan dini. Di samping perempuan yang menikah dini, janinnya juga belum siap.

Menurut dia, perempuan tersebut yang seharusnya masih membutuhkan gizi untuk masa pertumbuhannya sendiri. Akan tetapi, harus menyiapkan gizi lain untuk bayi yang sedang dikandungnya.

”Maka dari itu, gizi yang didapatkannya sedikit atau bisa kurang. Karena wanita tersebut harus membagi gizinya dengan janin yang sedang dikandungnya,” tuturnya.

Karena itu, berbagai upaya pencegahan semakin tingginya angka stunting dilakukan. Termasuk memberikan imbauan kepada ibu hamil maupun mereka yang memiliki anak kecil agar memperbaiki pola asuh yang baik.

”Kemungkinan penurunan angka stunting juga bisa dilakukan dengan syarat harus ada dukungan dari perempuan itu sendiri,” paparnya.

Saat ini, Kota Batu berada di urutan keempat angka kasus stunting pada anak tertinggi dari seluruh daerah di Jawa Timur. ”Ya memang termasuk banyak di Kota Batu ini, kami terus berupaya untuk menekannya,” tandasnya.

Di sisi lain, Asisten Administrasi Ekonomi Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Batu Endang Triningsih menyatakan, para calon ibu ataupun ibu harus mempersiapkan ASI-nya sebagai kebutuhan.

Hal itu perlu dilakukan, lantaran salah satu pencegahan stunting sejak dini yakni perilaku ibu sejak hamil hingga menyusui. Menurut dia, ASI ini merupakan asupan gizi bagi anak yang tidak dimiliki oleh makanan lain.

”Kalau anak tidak diberikan ASI, itu akan mengganggu tumbuh kembangnya. Rasa takut dan cemas itu lebih tinggi,” ujarnya.

Oleh karena itu, dalam menghasilkan ASI yang berkualitas, Endang mengimbau kepada para ibu untuk menjaga asupan makanan. Seperti memakan makanan herbal, di antaranya daun kunyit, daun asam, daun pepaya maupun jagung.

”Manfaatnya banyak, dapat menghilangkan bau amis dan dapat merangsang produksi susu. Ini sangat bagus. Tapi yang terpenting perbanyak makan buah dan sayuran,” tandasnya.

Pewarta : Miftahul Huda
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Ahmad Yani