Bawa Spirit Pahlawan, Upacara Di Kampung Budaya Polowijen Tetap Khidmat

KOTA MALANG – Upacara peringatan 10 November tidak hanya dilaksanakan di tingkatan institusi. Upacara tersebut juga bisa dilaksanakan di beberapa kampung, salah satunya Kampung Budaya Polowijen.

Meskipun hanya bertempat di gazebo berukuran 10 x 4 meter yang semakin dipersempit pula dengan hamparan sawah dan rumah warga, ratusan peserta upacara tampak khidmat mengikuti seluruh prosesi upacara.

Bahkan saking sempitnya tempat upacara, tidak ada tiang bendera tinggi menjulang. sebagai gantinya, bendera merah putih dipasang langsung pada tiang pendek sekitar 2 meter yang dipegang oleh petugas upacara.

Seusai pelaksanaan upacara, penggagas dan pemangku Kampung Budaya Polowijen Isa Wahyudi mengatakan, upacara di tempat yang sempit diharapkan menjadi motivasi kampung lainnya untuk menghormati jasa pahlawan.

“Spirit pahlawan itu dengan berbagai alat bisa melawan penjajah. dengan bambu runcing juga bisa melawan penjajah. Nah untuk meneladani ini. Saat ini kami ingin menunjukan bahwa melakukan penghormatan itu juga bisa di tempat manapun, termasuk tempat yang sempit. Yang terpenting adalah esensinya mengenang jasa pahlawan yang gugur pada 10 November,” ujarnya.

Dalam upacara tersebut, kata Ki Demang, sapaan akrabnya, mengatakan peserta dan petugas upacara juga diarahkan untuk mengenakan pakaian ala perjuangan pahlawan. Untuk laki-laki, lanjut Ki Demang, berpakaian atasan kaos putih dan bawahan hitam serta menggunakan sarung. Sementara perempuan terlihat cantik memakai kebaya.

“Itu semua kami lakukan agar mereka juga meresapi perjuangan pahlawan ketika upacara dengan memakai pakaian tersebut,” ujarnya.

Sebagai informasi, peserta upacara tersebut yang terdiri dari 100 orang itu terdiri dari mahasiswa jurusan Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Brawijaya dan juga warga Kampung Budaya Polowijen.

Pewarta: Bob Bimantara Leander
Foto: Bob Bimantara Leander
Penyunting: Fia