Batik Shibori Sinergi Jawa Pos

BATIK merupakan salah satu kearifan lokal. Seiring waktu berjalan, beragam jenis batik terus lahir di bumi Jogjakarta. Bahkan setiap daerah memiliki ciri khas batiknya sendiri. Seperti batik Geblek Renteng di Kulonprogo atau Sinom Parijotho Salak di Sleman.

Nah, jauh melangkah ke sisi barat Kabupaten Sleman, ternyata ada satu perajin batik khas. Uniknya teknik yang diusung berbeda dengan batik pada umumnya. Sosok Frederikus Sukiyatman hadir dengan Batik Shibori miliknya.

Mendengar kata Shibori, sebenarnya bukan istilah asing. Bagi pegiat kesenian dan tekstil, tentu sudah mengenal teknik ini.  Berasal dari Jepang, teknik ini mengandalkan ikatan dan celupan. Motif yang dihasilkan tak jauh beda dengan batik. Hanya, dari segi pengerjaan lebih mudah dan sederhana.

”Keunikan dari teknik ini adalah motif yang keluar setelah semua proses selesai. Antara motif belum tentu sama, meski diikat dan dicelup bersamaan,” jelasnya ketika ditemui di kediamannya di Bekelan, Sendangagung, Minggir, belum lama ini.



Kunci dari penggarapan batik ini adalah ketelatenan pola lipatan. Baik itu pola lipatan segitiga atau segi empat akan menghasilkan motif yang berbeda. Sementara dari sisi bahan baku, tidak jauh berbeda dengan batik tulis pada umumnya.

Penggarapan diawali dengan penuangan air panas ke dalam biang warna. Selanjutnya sebuah kain putih yang dilipat segitiga sama sisi perlahan dicelupkan ke dalam cairan. Begitu pula di setiap sudut segitiga juga dicelupkan ke dalam cairan, setelahnya ditiriskan.

”Untuk menghasilkan warna yang lebih pekat, pencelupan dilakukan lebih lama. Jadi sesuai perasaan saja agar dapat motif yang diinginkan. Kalau sudah selesai dijemur dengan posisi horizontal,” ujar pria yang akrab disapa Mbah Kiyat ini.

Tangannya satu per satu melepas ikatan karet gelang. Kain yang awalnya berwarna putih polos menjadi biru. Dari dua cara tersebut didapatkan warna yang terang dan lebih gelap. Teknik penjemuran horizontal sendiri untuk menghindari rembesan yang merusak motif batik.

Keunikan dari teknik ini adalah hasil motif yang tidak terduga. Itulah mengapa dirinya tidak bisa menjanjikan motif yang sama untuk setiap karyanya. Meski begitu, teknik ini justru digandrungi karena kesannya yang eksklusif.

Dalam penggarapannya, Mbah Kiyat cenderung menggunakan pewarna sintesis. Alasannya dia belum bisa menemukan kekuatan dari pewarna alam. Baginya pewarna alam belum cocok dikembangkan dalam batik Shibori.

”Pakai pewarna sintetis yang aman bagi kulit. Pernah pakai pewarna alam, tapi celupannya harus sepuluh kali. Kalau pakai sintesis cukup sekali saja,” katanya.

Mbah Kiyat mengawali produksi Batik Shibori sejak Agustus 2016. Berawal dari keponakannya yang terlebih dahulu mengembangkan teknik tersebut. Setiap lembar batik memiliki harga yang beragam dari Rp 100 ribu hingga Rp 120 ribu.

Guna mendukung penjualan, dia mengandalkan penjualan online. Salah satunya melalui fasilitas media sosial (medsos). Dia juga aktif mengikuti pameran yang diadakan oleh pemerintah kabupaten maupun provinsi.

Meski tergolong mudah, setiap bulannya Mbah Kiyat hanya memproduksi 20 lembar kain batik. Saat ditanya ketertarikan pengembangan produk jadi, dirinya tidak mengiyakan. Alasannya tidak mudah menemukan penjahit yang tepat.

”Dari pameran-pameran dan promo medsos ada pembeli dari Malaysia juga. Justru kebanyakan dari luar karena untuk harga kain per lembar di lokasi ini masih dianggap mahal. Lebih sering kirim-kirim keluar wilayah Minggir,” ujarnya.

(rj/dwi/ong/JPR)