Batik Khas, Unggulan Baru Kelurahan Penanggungan

Sejumlah warga Kelurahan Penanggungan saat melukis batik tulis di sela-sela penjurian kemarin (25/4).

MALANG KOTA – Persiapan total dilakukan warga Kelurahan Penanggungan, Kecamatan Klojen, pada ajang Otonomi Award Lurah Camat 2018. Menyambut penjurian, warga selama tiga hari menyiapkan gelaran mini expo. Dalam penjurian kemarin (25/4), ruang pertemuan aula kelurahan disulap menjadi ruang expo aneka produk.

Layaknya gelaran expo profesional, setiap produk dipamerkan di stan-stan yang ditata sedemikian rupa. Selain background menyesuaikan produk yang dipamerkan, interior stan juga ditata sedemikian rupa. Salah satunya adalah adanya hiasan jerami yang membuat nuansa tradisional begitu kentara.

Penjurian yang dikonsep seperti expo tersebut seolah-olah menjadi ajang show of force Kelurahan Penanggungan di event bergengsi ini. Total ada delapan stan. Setiap stan memajang produk hasil kreasi warga Penanggungan. Butuh waktu tiga hari bagi warga untuk mempersiapkan mini expo tersebut.

Sejumlah produk unggulan yang dipamerkan adalah batik khas Penanggungan, gerabah, tas daur ulang, glass painting, kerupuk puli, bunga hiasan, dan lain sebagainya. Yang paling gres adalah batik Penanggungan. Ya, karena batik ini baru ada sekitar setahun lalu. Sebab, Otonomi Award menilai inovasi yang ada antara 1–2 tahun lalu, maka batik ini bisa jadi poin pendukung dalam penilaian.

”Kerajinan ini ada sejak kelurahan menggelar pelatihan, sekitar setahun lalu,” kata Lilik Sugiarti, salah seorang perajin, kemarin.

Lilik menambahkan, kerajinan batik tulis itu ada di dua RW, yakni RW 01 dan RW 02. Total ada sekitar 20 warga yang menekuni batik tulis. Mayoritas adalah ibu-ibu.

Hanya, karena masih baru, batik tulis ini belum bisa menjadi penopang utama pemasukan keluarga. ”Sebulan biasanya laku tiga potong batik,” imbuhnya.

Selain itu, batik tulis ini juga belum mempunyai khas. Kadang, motif batik tulis menyesuaikan dengan keinginan pemesan. ”Tapi, ke depan pengennya Pak Lurah, ada motif gerabahnya karena identitas kelurahan ini adalah gerabah,” ucapnya.

Sedangkan untuk gerabah memang menjadi ciri khas Penanggungan. Bahkan, kerajinan ini disebut-sebut sudah ada sejak pra kemerdekaan Republik Indonesia.

”Saat ini ada sekitar 15 perajin, kalau dulu ada ratusan orang,” kata Suhartono, salah seorang perajin.

Sementara itu, Lurah Penanggungan Dwi Hermawan Purnomo menyatakan, awalnya dia ingin menyambut tim juri dengan persiapan biasa saja.

”Tapi, masyarakat yang minta harus ramai penyambutannya. Saya bilang oke tidak masalah asal tanggung jawab,” kata Purnomo. Untuk diketahui, di ajang Otonomi Award, Penanggungan bukanlah nama baru. Pada 2015, kelurahan ini menjadi juara tiga.

Sementara itu, kemarin tim juri juga melakukan penilaian di Kelurahan Sama’an, Lowokwaru, Kota Malang. Salah satu keunggulan kelurahan ini adalah banyaknya bangunan heritage. Di antaranya, sekolah Katolik tertua di Kota Malang Cor Jesu, Jembatan Pelor, Rumah Indies, dan lain-lain.

”Saat ini kami sedang menyusun buku tentang Kelurahan Sama’an karena kelurahan ini penuh nilai sejarah,” kata Febby Soesilo, anggota Komunitas Jelajah Jejak Malang, yang kemarin presentasi di hadapan dewan juri.

Pewarta: Irham Thoriq
Penyunting: Irham Thoriq
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Darmono