Banyak Tak Dikembalikan Penumpang, MRT Bakal Tambah Stok Tiket

JawaPos.com – Sudah sebulan lebih, Moda Transportasi Terpadu (MRT) beroperasi di Jakarta. Ribuan warga ibu kota sangat antusias mencoba moda berbasis rel itu. Namun, ada fenomena yang pernah dialami Kereta Rel Listrik (KRL) soal penggunaan tiket.

Corporate Secretary Division Head MRT Jakarta Muhammad Kamaluddin mengatakan banyak pengguna jasa angkutan MRT tidak mengembalikan tiket setelah melakukan perjalanan. Namun, dia belum bisa merinci lebih detail dikarenakan belum memegang data lengkapnya.

“Saya belum megang catatannya, saya harus cek catatan lagi, tapi ya mungkin agak berimbang yang mengembalikan dan yang tidak mebgembalikan,” ujar Kamaluddin saat dihubungi JawaPos.com, Sabtu (4/5).

MRT Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

Meski begitu, Kamaluddin membenarkan jika pernah mengeluarkan pernyataan bahwa tiket yang tidak dikembalikan sebanyak 100.000 buah. Tapi data itu disebut sudah bisa mengalami perubahan untuk saat ini. Bisa saja jumlahnya berkurang atau bahkan bertambah.



“Saya ingat memang pernah memberikan data sekitar 100.000 (tiket) yang tidak dikembalikan, tapi kan itu data kapan? Mungkin sekarang ada update lagi,” tambahnya.

Sejauh ini tiket tidak dikembali karena beberapa faktor. Seperti kartu akan digunakan lagi oleh penumpang untuk perjalan berikutnya. Pasalnya kartu single trip MRT bisa diisi ulang untuk perjalanan berikutnya. Sehingga penumpang tak perlu repot-repot mengantri kembali untuk membeli tiket. Sedangkan untuk masa aktifnya, kartu single trip ini bisa bertahan maksimal 7 hari dari isi ulang terkahir.

“Kemudian ada juga yang memang disimpan sebagai kenang-kenangan juga. sebagai memorabilia, itu haknya penumpang,” lanjut Kamaluddin. Sementara itu bagi penumpang yang menggunakan alasan ini untuk tidak mengembalikan tiket, pihak MRT tak bisa melarang. Itu sepenuhnya menjadi hak penumpang.

MRT Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

Ia pun memastikan operasional MRT tidak terhambat hanya karena tiket banyak tidak dikembalikan. Bahkan saat ini perusahaan tengah melakukan penambahan stok tiket kereta. Namun belum disebutkan pasti berapa banyak penambahan ini. Sejak pertama dioperasikan, MRT sendiri menyediakan tiket penumpang sekitar 400.000 tiket.

“Tidak menghambat, kami juga akan melakukan penambaham stok (tiket) juga dalam waktu dekat, sedang dalam proses pengadaan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Kamaluddin mengatakan, PT MRT Jakarta terus berupaya melakukam sosialiasi terhadap masyarakat dalam penggunaan MRT. Dia berharap akan semakin banyak pengguna yang melakukam top up ulang menggunakan tiket single trip.

“Mungkin semacam survei kepada mereka yang membeli single trip berapa perse yang menggunakan itu untuk top up lagi,” pungkasnya.

Sebelumnya, pada Jumat (3/5) JawaPos.com berkesempatan membuktikan langsung efektifitas penggunaan MRT terutama setelah 1 bulan lebih berjalan. Terkait jarak tempuh terbukti hanya butuh 30 menit dari stasiun Bundaran HI sampai di stasiun Lebak Bulus.

Perjalanan dimulai pukul 10.24 WIB dari stasiun Bundaran HI. Pukul 10.54 WIB MRT sudah tiba di stasiun Lebak Bulus. Saat kembali perjalan justru 2 menit lebih cepat. MRT berjalan pukul 11.00 WIB, pukul 11.28 sudah tiba di stasiun Bundaran HI.

Soal tiket juga terbukti baru melayani ticket sekali jalan, yang bisa diisi ulang untuk perjalan selanjutnya. Untuk perjalanan Bunderan HI-Lebak Bulus harga tiket Rp 7 ribu karena masih mendapat diskon 50 persen. Namun untuk uang jaminan yang tersimpan di dalam kartu, penumpang dibebani Rp 15 ribu per kartunya. Uang tersebut bisa diambil kembali setelah selesai perjalan di stasiun tujuan, dan tiket dikembalikan ke petugas.

Hari pertama MRT beroperasi secara komersil. (Salman Toyibi/ Jawa Pos)

PT MRT menyediakan dua opsi pembelian kartu. Pertama dengan mengantri di loket manual. Atau melakukan pembelian tiket melalui mesin otomatis. Penggunaan mesin otomatis sendiri tidak sulit. Untuk langkah pertama penumpang hanya perlu memilih menu isi ulang atau beli tiket, kemudian menentukan stasiun tujuan dan diakhiri memasukan uang kertas atau logam senilai tarif perjalan.

MRT sendiri saat ini melayani pemberhentian di 13 stasiun. Yakni, stasiun Lebak bulus, stasiun Fatmawati, stasiun Cipete Raya, stasiun Haji Nawi, stasiun Blok A, stasiun Blok M, stasiun ASEAN, stasiun Senayan, stasiun Istora Mandiri, stasiun Bendungan Hilir, stasiun Setiabudi Astra, stasiun Dukuh Atas BNI, dan stasiun Bundaran HI.

Sepanjang stasiun Bundaran HI hingga stasiun Senayan, jalur MRT berada di bawah tanah. Selanjutnya dari stasiun ASEAN hingga stasiun akhir Lebak Bulus MRT berada di jalur layang.

Jika kalian pernah menggunakan commuter line, maka menaiki MRT tidak berbeda jauh rasanya. Hanya saja, MRT keretanya lebih baru, sehingga terlihat lebih eksklusif. Penunjuk rute perjalan di dalam kereta pun sudah menggunakan digital.

Namun, MRT juga tak lepas dari kekurangan. Seperti kursi penumpang yang berbahan plastik, berbeda dengan KRL yang dilapisi busa. PT MRT juga membuat angkutan massa ini ramah terhadap kaum disabilitas. Mereka menyiapkan lift khusus di setiap stasiun untuk memudahkan mereka menaiki MRT.

MRT juga terintegrasi dengan sejumlah mode transportasi lain. Seperti di stasiun Dukuh Atas BNI, penumpang bisa langsung berpindah angkutan menggunakan Transjakarta maupun commuter line. Bahkan di masa mendatang akan terhubung pula dengan LRT yang masih dalam tahap pembangunan. Sedangkan di stasiun Blok M, penumpang bida terhubung langsung dengan terminal bus dalam kota maupun halte Transjakarta Blok M. Di stasiun Lebak Bulus juga terhubung dengan halte Transjakarta.