Bantah Lippo Soal Bakar Uang, OVO Sebut Dana Digunakan Untuk Ekspansi

JawaPos.com – Lippo Group memutuskan untuk menjual dua pertiga sahamnya atas platform e-payment, OVO. Hal itu di karenakan OVO yang sering melakukan ‘pembakaran uang’.

Bakar uang yang di maksud adalah OVO yang memberikan promo diskon hingga cashback tanpa henti. Atas dasar tersebut, Lippo Group menyatakan tidak sanggup menyuntikkan dana besar lagi kepada OVO.

Menanggapi hal tersebut, Presiden Direktur OVO Kanaya Dharmasaputra mengungkapkan bahwa kegiatan ‘bakar uang’ merupakan hal yang biasa. Apalagi, OVO adalah strartup yang baru berusia 2 tahun yang membutuhkan sokongan dana.

“Itu proses wajar. Kenapa? Karena kita butuh capital (modal, Red). Kita kan juga ada kebutuhan ekspansi,” katanya di Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu (14/12).

Ekspansi tersebut harus dilakukan, sebab pertumbuhan OVO yang besar. Jumlah MAU (monthly active user) jika dilihat secara year on year (YoY) naik 12 kali lipat.

“Jumlah TPV (total purchased value) naik 19 kali, total SV (Stored Value), jumlah dana yang disimpan di wallet OVO 7 sampai 8 kali. Ini data Oktober year on year. Revenue kita juga bertumbuh hampir 19 kali,” jelasnya.

Ia pun menegaskan bahwa ini bukanlah ‘bakar uang’ yang sering dibicarakan. Selain itu, pihaknya juga saat ini masih mencari investor lain yang ingin menyuntikkan dananya ke OVO. Apalagi minat FDI (investasi luar negeri) pun tumbuh sangat besar, khususnya industri teknologi.

“Kalau dibilang ini bakar duit. Nggak, revenue kita tumbuh 19 kali. Digital payment ini penetrasinya cuma 5 sampai 6 persen. Jadi masih ada room to grow masih besar banget,” ujarnya.