Bantah Jalur Mandiri jadi ATM Kampus Negeri

Jika Profesor tak Patuhi Aturan, Mahasiswa Lebih Kacau Lagi - JPNN.COM

jpnn.com, JAKARTA – Muncul anggapan penerimaan mahasiswa baru jalur mandiri menjadi “ATM-nya” kampus negeri. Sebab biaya pendidikannya lebih mahal dibanding mahasiswa baru jalur SNMPTN maupun SBMPTN.

Inspektur Jenderal (Irjen) Kemenristekdikti Jamal Wiwoho mengatakan tidak benar bahwa jalur mandiri adalah ATM-nya kampus. “Jalur ini (mandiri, Red) tetap mengutamakan standar input,” katanya saat diwawancara di Jakarta, Senin (16/7).

Jadi acuan diterima kuliah di PTN adalah hasil seleksi akademik atau sejenisnya. Bukan dari siapa yang bisa bayar uang kuliah paling tinggi.

Jamal juga mengatakan kampus tidak bisa seenaknya menetapkan biaya kuliah atau SPP. Sebab Kemenristekdikti sudah memiliki ketentuan tentang uang kuliah tunggal (UKT). Setiap PTN yang di bawah Kemenristekdikti, sudah ditetapkan UKT-nya masing-masing oleh Kemenristekdikti.



Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemenristekdikti Intan Ahmad mengatakan besaran uang kuliah untuk mahasiswa baru jalur mandiri, SNMPTN, maupun SBMPTN sama. Penetapannya disesuaikan dengan kondisi ekonomi keluarga.

“(Bagi mahasiswa tidak mampu, Red) bisa juga melamar beasiswa Bidik Misi,” katanya. Beasiswa Bidik Misi diberikan kepada mahasiswa tidak mampu atau dari keluarga miskin, namun memiliki kemampuan akademik bagus.

Terkait adanya informasi sumbangan fakultas di sebuah PTN yang mencapai Rp 125 juta/mahasiswa, Intan tidak bisa berkomentar lebih jauh. Guru besar ITB itu mengatakan, di dalam Permenristekdikti 39/2017 tentang UKT memang terbuka bagi kampus menarik biaya kuliah yang ditetapkan sendiri. Asalkan biaya kuliah tersebut disesuaikan dengan kemampuan ekonomi mahasiswa baru.

“Besarannya PTN yang menentukan. Bisa mulai dari Rp 0 sampai besaran tertentu,” tuturnya. Namun Intan mengatakan tidak semua PTN membuka jalur mandiri. Kampus papan atas seperti ITB tidak membuka jalur mandiri.