Bangun Taman Tanpa APBD. Yakin Bisa?

Suasana Taman Trunojoyo yang terletak di depan stasiun Kota Malang yang ramai dikunjungi anak-anak.

MALANG KOTA – Pemkot (Pemerintah Kota) Malang berencana mengubah lahan eks Pasar Merjosari menjadi RTH (ruang terbuka hijau). Anggaran pembangunannya tidak akan diambilkan dari APBD 2018.

”Rencananya, akan kami kerja samakan dengan CSR (corporate social responsibility) perusahaan atau dana hibah dari pusat,” ujar Erik Setyo Santoso, kepala Barenlitbang (Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan) Kota Malang kemarin (12/12).

Keputusan untuk mengubah fungsi eks lahan Pasar Merjosari itu mengacu pada Perda (Peraturan Daerah) Nomor 4 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Malang 2010–2030.

”Itu sesuai amanat perda sehingga tidak mungkin dibangun apartemen atau lainnya,” ucap pejabat eselon II-b Pemkot Malang itu.

Sesuai master plan yang disusun pemkot, eks Pasar Merjosari itu akan menjadi taman tematik. Lahan seluas 6 hektare itu akan dibagi menjadi beberapa kavling. Masing-masing kavling ditawarkan ke perusahaan hingga PT (perguruan tinggi) agar mengalokasikan dana CSR-nya.

”Kami akan mengirimkan proposal ke berbagai pihak seperti perguruan tinggi,” kata mantan kepala DKP (Dinas Pertamanan dan Kebersihan) Kota Malang ini.

Sementara itu, anggota Komisi C (Bidang Keuangan) DPRD Kota Malang Afdhal Fauza menyatakan, anggaran pembangunan RTH di esk Pasar Merjosari tidak dialokasikan di APBD 2018 karena mempertimbangkan beberapa hal. ”Meski tidak dianggarkan di APBD, kan bisa mendapatkan dana dari CSR,” kata Afdhal.

Selain itu, dia menyatakan, rencana pembuatan RTH berupa taman tematik juga belum bisa dilakukan. Sebab, lahan tersebut masih dikelola disdag (dinas perdagangan). Sementara pembangunan taman tematik merupakan kewenangan Disperkim (Dinas Perumahan dan Pemukiman) Kota Malang.

Pewarta: Aris Syaiful
Penyunting: Mahmudan
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Nur Hidayat