Bangkitkan Kembali Kampung Gerabah

Kemunculan kampung-kampung tematik memacu semangat warga Kelurahan Penanggungan untuk kembali menghidupkan Kampung Gerabah. Apalagi, kegiatan produksi gerabah di wilayah ini sudah ada sejak 1987 silam. Bahkan, pada era 1990, produksi gerabah sempat berjaya.

WARGA Kelurahan Penanggungan ingin mengulang sejarah kejayaan Kampung Gerabah di wilayahnya. Oleh karena itu juga, mereka bersemangat untuk menjadikan wilayahnya sebagai destinasi wisata dengan potensi produksi gerabah dari tanah liat.

Keinginan mengulang kejayaan itu didasari atas kemunduran sentra produksi gerabah di wilayah ini saat krisis. Bahkan, banyak usaha gerabah yang gulung tikar. Sebagian warga meninggalkan profesi tersebut dan mencari mata pencaharian baru.

Selain itu, penyusutan jumlah perajin gerabah disebabkan banyak mahasiswa yang datang untuk menggali ilmu di Kota Malang. Kedatangan mahasiswa ini menjadikan Kelurahan Penanggungan dikelilingi kampusdan berubah wajah menjadi ladang kos-kosan.

Ruang-ruang yang sebelumnya penuh tumpukan gerabah, berubah fungsi menjadi kamar-kamar berisi kasur, lemari, meja, dan kursi. ”Banyak (perajin) yang gulung tikar dan banting setir menyewakan rumah-rumah untuk kos-kosan,” terang Ngadiono, pelopor Kampung Gerabah Penanggungan.

Padahal, pada era 90-an, Kampung Gerabah di wilayah itu pernah berjaya. Puluhan warga berbondong-bondong menjadi perajin dan menjadikan gerabah sebagai mata pencaharian.
Perajin gerabah yang dulu mencapai 40 orang, kini tersisa 14 orang saja. Jumlah tersebut hanya 0,08 persen dari keseluruhan penduduk Kelurahan Penanggungan yang mencapai 17 ribu jiwa.



Ngadiono selaku pelopor kerajinan gerabah memilih bertahan. Dengan dibantu enam karyawan yang juga warga sekitar, Ngadiono masih bisa menjual 10 ribu unit gerabah setiap bulan. Pemasarannya tidak hanya di dalam kota,tapi juga keluar kota seperti Probolinggo, Jember, Surabaya, dan beberapa daerah lainnya.

Meski sekarang dalam kondisi sakit dan tidak bisa turun langsung dalam proses pembuatan gerabah, setiap hari, pria paro baya itu tidak pernah lepas mengawasi para pekerjanya. ”Biasanya banyak yang pesan untuk suvenir pernikahan, atau dijual lagi,” kata Ngadiono.Beragam jenis produk gerabah diproduksinya. Di antaranya asbak, tempat lilin, tempat pensil, dan berbagai bentuk kerajinan gerabah lainnya.

Di tengah penyusutan jumlah perajin gerabah, semangat menghidupkan kembali Kampung Gerabah mencuatdalam dua tahun terakhir. Warga maupun aparat kelurahan memiliki semangat untuk menghidupkan kembali Kampung Gerabah dan menjadikannya salah satu destinasi wisata baru di Kota Malang.

Melalui Festival Rancang Malang yang digagas Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (saat ini Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan) Kota Malang bekerja sama dengan Jawa Pos Radar Malang, Kelurahan Penanggungan berhasil lolos menjadi 10 besar kampung tematik terbaik dari 57 kelurahan. (iik/c4/yak)