Hope 313 oleh Kurniawan Muhammad.

”Abdulrachman Saleh sulit sekali menjadi bandara internasional,” kata seorang perwira tinggi di TNI-AU kepada saya, beberapa waktu lalu. Mengapa? Dia menyampaikan dua alasan. Pertama, Abdulrachman Saleh (ARS) tidak ideal untuk menjadi bandara internasional karena dikelilingi oleh gugusan gunung-gunung.

Dengan kondisi seperti itu, bandara tersebut menjadi kurang luwes untuk didarati pesawat dengan berbagai macam model dan ukuran.

Kedua, masih kata sang perwira tinggi itu, ARS berada di lingkungan salah satu kompleks vital milik TNI-AU. Di sana, banyak terdapat alutsista (alat utama sistem pertahanan) milik TNI-AU yang sangat strategis. ”Jadi, sangat berisiko jika dijadikan bandara internasional,” katanya.

Nah, karena ARS sulit menjadi bandara internasional, maka bisa jadi lantas muncul wacana untuk membangun bandara internasional Purboyo di Desa Srigonco, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang. Kabarnya, pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan sudah setuju dengan rencana tersebut. Begitu juga dengan Pemprov Jatim. Bupati Malang Rendra Kresna bahkan menyambut antusias pembangunan bandara baru ini.

Beberapa langkah persiapan sudah dilakukan. Di antaranya melakukan feasibility study (FS) atau studi kelayakan dan telah menghasilkan DED (detail engineering design) bandara. Jika bandara itu benar-benar diwujudkan, akan memiliki panjang runway sekitar 3.000 meter. Cukup ideal untuk bandara internasional.

Jika benar-benar dibikin, bandara di Bantur itu bisa menjangkau dan melayani 11 kota serta kabupaten di Malang dan sekitarnya. Di antaranya Malang, Pasuruan, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, dan Kediri.
Bagaimana dengan ARS? Dari informasi yang saya dengar, jika Bandara Purboyo jadi dibikin dan benar-benar bisa diwujudkan, maka ARS akan tetap dioperasikan. Tapi, sepenuhnya akan digunakan untuk kepentingan Hankam di lingkungan TNI-AU.

Benarkah akan seperti itu skenarionya? Lha… ini yang sampai sekarang masih remang-remang.
Konon, rencana pembangunan Bandara Purboyo di Malang masih ada pihak-pihak yang belum setuju. Gosipnya, di jajaran TNI belum bulat keputusannya. Tapi, ini gosip. Jadi, belum tentu benar.

Saya mendengar selentingan kabar, konon, jika rencana pembangunan bandara di Malang itu tak kunjung jadi direalisasikan, maka pemprov akan mempertimbangkan untuk membangun bandara internasional di Trenggalek. Kabarnya, Bupati Trenggalek Emil Dardak yang masih muda itu, dan yang istrinya cantik itu, sangat agresif untuk mewujudkan rencana membangun bandara di daerahnya.

Jika selentingan kabar yang saya terima ini benar, Ayooo… Malang Nggak boleh kalah dari Trenggalek. Bandara internasional harus segera dibangun di Bumi Arema. Apakah tetap di ARS atau di Bantur, yang penting harus di Bumi Arema.

Daerah-daerah lain kabarnya juga semakin getol bikin bandara baru. Misalnya, Jogja. Meski hingga saat ini rencana membangun bandara baru di Kulon Progo Jogja masih ada kendala (karena masih ada sekelompok warga yang menentang), tapi proses penggarapannya terus dilakukan. Ditarget, bandara baru di Jogja itu selesai tahun 2019.

Dana tahap pertama sebesar Rp 4 triliun bahkan sudah disiapkan. Jika bandara baru di Jogja itu benar-benar beroperasi, maka diperkirakan akan mampu menampung kapasitas penumpang hingga 15 juta per tahun. Padahal, bandara lama Adi Sutjipto saat ini maksimal mampu menampung 7 juta penumpang per tahun.

Selain di Jogja, rencana membangun bandara baru internasional juga akan dikerjakan di Kertajati, Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Yang membangun adalah PT Angkasa Pura II. Bandara baru ini dibikin untuk menggantikan Bandara Husein Sastranegara, Bandung.

Lokasi bandara baru sebagai pengganti bandara lama di Bandung ini dinilai cukup ideal. Dari jalan utama Indramayu–Majalengka hanya berjarak sekitar 1,4 kilometer. Jaraknya sekitar 100 kilometer sebelah timur dari Bandung. Rencananya, bandara baru ini nanti bisa untuk melayani daerah lain seperti Cirebon.

Kabarnya, pembangunan bandara baru di Majalengka ini cukup signifikan progresnya. Anggaran sudah disiapkan sekitar Rp 25 triliun. Lahan seluas 1.800 hektare untuk pembangunan bandara itu kabarnya sudah mulai dibersihkan. Di sisi lain, jalan tol yang akan memberikan akses ke bandara baru itu telah dimulai pengerjaan konstruksinya sejak 2011. Infrastruktur seperti akses jalan ke bandara baru itu kabarnya saat ini juga sedang dikebut penggarapannya.

Memang, untuk urusan membangun bandara, faktor penentu utama bukanlah bupati atau wali kota. Tapi, yang sangat menentukan adalah political will dari pemerintah pusat. Setelah itu baru pihak PT Angkasa Pura, lalu gubernur. Tapi, dalam hal ini, faktor bupati atau wali kota bisa saja berpengaruh. Dan ini sangat bergantung dari seberapa proaktif dan seberapa agresif melobi dan meyakinkan pemerintah pusat. Nah… ayo balapan… lebih dulu mana, bandara internasional nanti dibangun, di Malang, Trenggalek, Kulon Progo Jogja, atau di Majalengka Jawa Barat? Salam Hope 313!!! (Instagram: kum_jp)