Bagaikan Madu, Pengemis dan Anjal Serbu Batu

Balai Kota Among Tani Kota Batu.

KOTA BATU – Daya tarik Kota Batu tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga jadi magnet bagi para pengemis dan anak jalanan. Para penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) ini memanfaatkan keramaian Kota Pariwisata untuk mengais rezeki. Para pengemis dan anak gelandangan biasanya tersebar di beberapa tiitik lampu merah dan kawasan Alun-Alun Kota Batu.

Kepala Bidang (Kabid) Rehabilitasi Dinas Sosial (Dinsos) Kota Batu Sri Yunani membenarkan bahwa cukup banyak PMKS di Kota Dingin ini. ”Seperti madu lah, karena manis kan jadi banyak yang seneng dan ngerubuti. Lah, di sini juga, karena Kota Batu semakin ramai, PMKS-nya juga makin banyak,” kata dia.

Dia memaparkan, pada razia yang dilakukan 2017 lalu, kurang lebih 216 PMKS terjaring. Dari jumlah itu, sekitar 70 persen PMKS berasal dari luar Kota Batu. ”Mereka banyak datang dari luar kota. Dan saat kami tanya kenapa ke Batu, mereka menyebutkan kalau di sini cukup mudah mencari uang,” paparnya.

Selama ini, lanjut dia, anak jalanan kerap menjadikan Kota Batu sebagai tempat singgah. ”Mereka ke sini beberapa hari saja. Kalau sudah dapat uang, baru ke kota lain. Misalnya ada konser musik di Jogja, mereka ke sini dulu nyari modalnya,” terang Yunani.

Para pengemis pun tak ketinggalan memanfaatkan keramaian Kota Batu. Tidak sedikit dari mereka yang memanfaatkan banyaknya kunjungan wisatawan. ”Kalau saat liburan, (pengemis di sini) bisa lebih banyak lagi,” ujar dia.



Para penyandang PMKS ini, lanjut dia, memanfaatkan ramainya kunjungan wisatawan. Langkah antisipasi agar PMKS tidak kian banyak juga sudah dilakukan. Di antaranya dengan menggelar razia. ”Ada dua razia yang kami lakukan. Yakni, razia simpatik dan razia besar atau gabungan,” jelasnya.

Yunani menambahkan, saat razia simpatik lalu, PMKS yang terjaring tidak langsung diamankan. ”Kami data dahulu. Dua kali kami peringatkan. Dan pada razia ketiga, kalau masih kena, langsung kami garuk (amankan, Red). Kalau razia besar, ya langsung garuk, tidak ada peringatan,” kata dia.

Semua razia itu diadakan dalam kurun waktu satu triwulan sekali. ”Untuk yang dari luar kota, kami lakukan pembinaan. NAMUN untuk PMKS dari di Malang, ya kami langsung kembalikan ke keluarga,” tutupnya.

Pewarta : Aris Dwi
Penyunting : Aris Syaiful
Copy Editor : Arief Rohman
Foto: Bayu Eka