Badan Otorita Pariwisata-KEK Singosari Jadi Jembatan Komunikasi

Ke mana arah pengembangan pariwisata Kabupaten Malang pada 2018 mendatang? Kadisparbud Kabupaten Malang Made Arya Wedhantara setidaknya sudah memetakan enam target pengembangan wisata. Apa saja?

KadisparBud Kabupaten Malang, Made Aryha Wedantara,didampingi Agus Hariyanto Camat Sumawe dan Administratur Perum Perhutani KPH.Malang,Ir.Arif Herlambang Dalam Peletaan Batu Pertama Pembangunan RestArea Wisata Druju .

Enam target pengembangan wisata itu meliputi pemusatan Kantor Badan Otorita Pariwisata (BOP) Bromo Tengger Semeru di area Gunung Kawi, pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singosari, pengembangan wisata kebun teh Wonosari-Lawang, Sanankerto-Turen, serta pusat kebudayaan Singosari dan Ngadas, Poncokusumo.

Dari deretan sasaran itu, Made menyatakan, dua di antaranya merupakan perantara untuk akses langsung dengan pusat. Yakni, BOP Bromo Tengger Semeru dan KEK Singosari. ”Supaya bisa mengembangkan wisata di Kabupaten Malang, saya harus punya akses langsung ke pusat. Nah, program BOP Bromo Tengger Semeru dan KEK Singosari itulah yang dikawal langsung oleh pemerintah pusat,” jelasnya.

Sebagai bagian dari kawasan penunjang KEK, pria yang hobi ngetrail ini juga sedang mengatur strategi untuk mengembangkan potensi wisata di Desa Wonosari, Kecamatan Lawang.

”Wonosari itu kan bagian dari pintu masuk wisatawan dari arah utara. Jadi, sebelum mereka melancong ke selatan atau barat, bisa mampir dulu ke Wonosari,” ujarnya. ”Toh di sana juga ada kebun teh yang tidak kalah menarik,” sambung Made. Kebun teh Wonosari sendiri diharapkan bisa mejadi penunjang KEK Singosari.

Bahkan, sebelum ada pembangunan yang benar-benar masif, pihaknya akan menyiapkan dulu masyarakatnya supaya mereka tidak kaget. Dengan siapnya masyarakat sekitar, Made menyatakan, maka target pengembangan perekonomian lokal juga akan tercapai.

Bergeser ke wilayah Malang Selatan, kawasan Sanankerto, Kecamatan Turen, juga menjadi salah satu target pembangunan wisata karena sudah memiliki modal yang kuat.

”Alamnya siap, masyarakatnya pun begitu. Kami tinggal menata saja supaya arah pengembangan wisata di sana terstruktur dan terakomodir dengan rapi,” bebernya.

Lalu Ngadas? Sudah pasti, pembangunan desa di atas awan ini menjadi prioritas. Mengingat Ngadas merupakan satu-satunya akses yang dilewati wisatawan saat berkunjung ke kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

”Bukan hanya wisata yang dijual, budaya lokalnya pun sangat menarik jika kita bisa mengeksplor secara maksimal,” kata Made.

Tradisi Petekan dan upacara adat Karo menjadi aset yang tak ternilai harganya sebagai pesona desa tertinggi di Kabupaten Malang itu.

”Jadi, wisatawan yang akan ke Bromo maupun Semeru tidak hanya mampir untuk menginap sebelum menyaksikan sunrise, tapi mereka juga dihibur dengan sajian tradisi budaya lokal,” terangnya.

Untuk merealisasikan mimpi yang satu ini, menurut Made, masih memerlukan tempat khusus guna memberi ruang pada seniman lokal maupun wisatawan untuk membaur. ”Kalau memungkinkan, akan kami manfaatkan lahan desa di Wringinanom untuk dijadikan stage pertunjukan seni dan budaya lokal,” tukasnya.

Pewarta: Farik Fajarwati
Penyunting: Neny Fitrin
Copy Editor: Indah Setyowati