Baca Buku di Perpus Kota, Tinggal Klik

MALANG KOTA – Era digital merambah Perpustakaan Kota (Puskot) Malang. Para pengunjung puskot bakal dimanjakan dengan aplikasi e-book. Sehingga, pengunjung yang ingin membaca buku nantinya tinggal klik.  Program ini baru bisa diwujudkan pada 2019 mendatang.

Kepala Bidang Preservasi dan Pengolahan Bahan Pustaka Sri Umiasih menyatakan, saat ini pihaknya sudah mengkaji banyak perusahaan penyedia e-book. Sebenarnya, wacana penganggaran e-book ini sudah dirampungkan 2017 dan siap dianggarkan 2018. ”Tetapi setelah diukur, anggarannya kurang mencukupi,” kata perempuan yang akrab disapa Umi ini.

Menurut dia, di kota-kota lain, seperti Jakarta dan Jogjakarta, yang memang memiliki fasilitas aplikasi ini, anggaran minimal adalah Rp 250 juta. Bisa saja kebutuhan e-book di Kota Malang mencapai di atas Rp 250 juta. Sebab, melihat angka kunjungan masyarakat di puskot yang sangat tinggi. Terutama tingkat pinjaman buku yang cukup tinggi. Per hari, rata-rata 70 judul buku yang dipinjam pengunjung.

Untuk ide e-book ini, sebenarnya sudah dilontarkan ke para pustakawan di Perpustakaan Kota Malang. Mereka mendukung dan bakal memanfaatkan fasilitas itu secara maksimal. ”Karena kan percuma ya kalau sudah dibuatkan fasilitas tapi tidak dipakai,” terang Umi.

Saat ini, ada sekitar dua perusahaan penyedia jasa e-book yang bakal digandeng puskot. ”Harga beli buku e-book dan buku yang dicetak itu unda-undi (bersaing),” kata Umi.

Makanya, untuk menyediakan e-book, puskot harus tahu dulu mana saja genre dan judul buku yang disukai pembaca. Umi tidak ingin e-book yang dibeli jadi mubazir karena jarang di-download pembaca.

Agar pembelian e-book tak mubazir, Umi dan para petugas perlu mengadakan kuesioner bagi pengunjung puskot. Isi kuesioner ini untuk menentukan minat dan genre buku yang disukai pembaca. ”Ya biar buku-buku yang nantinya ada di aplikasi sesuai dengan kemauan pembaca di Malang Raya,” singkatnya.

Sebab, percuma ada aplikasi digital kalau buku yang ada di dalamnya terbatas. Maka akan jarang juga yang memakainya.

Apabila aplikasi ini masih belum memungkinkan untuk diadakan, puskot rencananya akan mendigitalisasikan buku-buku yang ada di sana. Caranya dengan men-scan-nya. Dibacanya dalam bentuk e-book, namun hanya bisa dibaca di perpustakaan. Ini berguna apabila buku yang ada terbatas jumlahnya, sedangkan pembacanya banyak. ”Tapi sayangnya, kalau scan manual itu ada kekurangan pegawai juga,” keluh Umi.

Pewarta: Sandra Desi
Copy Editor: Amalia
Penyunting: Abdul Muntholib