Ayo Aremania, Jangan Kalah Kreatif!

MALANG KOTA – Antusiasme peserta Lomba Yel-Yel dan Koreografi Gumebyar Aremania Smartfren yang berlangsung di Car Free Day (CFD) Jalan Simpang Balapan Minggu pagi (18/8) sangat tinggi. Mereka memberikan penampilan terbaik layaknya memberikan dukungan Arema yang berlaga.

Berbagai atribut khas Singo Edan mereka tampilkan. Coretan wajah dengan warna biru dan putih mereka lakukan. Dan, berbagai alat musik mereka boyong. Semua menunjukkan penampilan yang jempolan.

Padahal, itu penampilan minggu pertama dalam lomba yang digelar Jawa Pos Radar Malang dan Smartfren itu. Sementara peserta selanjutnya, akan tampil di CFD Minggu tanggal  1 September, 8 September, dan terakhir 22 September. Tentu, tim peserta berikutnya tidak boleh kalah.

Mereka jangan mau kalah dari tim peserta pada minggu pertama lalu. Kesempatan masih terbuka. Pendaftaran kini masih dibuka di kantor Jawa Pos Radar Malang di Jalan Kawi 11-B (Kota Malang), Radar Kanjuruhan (Pepen, Pakisaji), Radar Batu di Jalan Pattimura (Kota Batu), dan kantor Smartfren di Jalan Cokelat, Lowokwaru.

Wahyu Rizky, salah satu peserta dari Generasi Biru, menyatakan keinginannya ikut lomba ini agar nama Aremania lebih menggaung lagi. ”Untuk Aremania sendiri, mungkin sedang penurunan atau gimana ya. Gaung Aremania di nasional kini menurun,” kata dia.



Karena itu, dia bersama rekan-rekannya antusias menjadi peserta. ”Kami di sini ingin menunjukkan Aremania kultur, pendahulu kami yang dulu mampu menjadikan Aremania barometer suporter nasional,” lanjut Aremania asal Sengkaling itu.

Wahyu dkk memang membawakan style Aremania yang terkenal di tahun 2000-an. Dengan wajah dicoret-coret, yel-yel yang membakar semangat tim, dan koreografi yang menarik. ”Dulu, kata orang malah lebih edan lagi, kita pelopor kultur mania, bukan pengekor,” kata dia.

Mereka membawa lagu Sorak-Sorak Arek Malang, Aku Bangga Menjadi Arek Malang, dan Salam Satu Jiwa. ”Kami memang ingin mengangkat lagu dari pendahulu kami yang semakin senyap,” kata Wahyu. Dengan ikut lomba ini, dia berharap masa kejayaan Aremania akan kembali.

Arif Purwanto, salah satu peserta dari Aremania East Tunub (Bunut Wetan), Pakis, menyatakan, sangat antusias mengikuti lomba ini. Dia bersama teman-temannya mempersiapkan selama dua minggu sebelum tampil. Penampilan mereka juga sangat unik. Mereka mengolaborasikan bass drum dan alat musik tradisional.

”Ada angklung, gong, kempul, dan ketimpung,” kata dia. Arif ingin, penampilannya memberi warna yang berbeda. Yel-yel tetap memberikan semangat, namun juga bagian dari melestarikan musik tradisional. ”Ya sama seperti saat di stadion, dan kenalkan musik tradisional,” tandas dia.

Pewarta : Aris Dwi Kuncoro
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Abdul Muntholib