Awas, Tanah Ambles Hantui Warga

KOTA BATU – Musim hujan diperkirakan tinggal hitungan hari lagi, berarti warga Kota Dingin harus lebih waspada terhadap bencana alam. Terutama bencana tanah ambles dan longsor yang relatif mudah terjadi di musim hujan.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu, sejak Januari hingga pertengahan September, tercatat 5 kejadian bencana tanah ambles. Yang terbaru adalah tanah ambles di Desa Oro-Oro Ombo, Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, pada 8 September lalu.

Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Batu Abdur Rochim menyampaikan, dari lima kejadian tersebut tercatat kerugian materi sekitar Rp 300 juta. ”Sejak Januari sampai sekarang (kemarin) ada 5 kejadian tanah ambles,” kata pria yang sudah bertugas di BPBD Kota Batu selama 3 tahun ini, kemarin.

Menurut dia, pihaknya masih belum bisa memberikan solusi untuk mengantisipasi kejadian serupa. Terutama saat musim hujan tiba nanti.

Karena BPBD masih belum punya peta wilayah galian yang diperkirakan terjadi sebelum Kota Batu berdiri. ”Masih belum ada solusi, karena titik galian tanah saat itu (sebelum Kota Batu berdiri, Red) masih belum diketahui. Kalau pun harus merobohkan rumah warga, butuh biaya pengganti yang besar,” ungkap dia.



Dengan demikian, dia mengimbau kepada warga Kota Batu agar lebih berhati-hati di musim hujan nanti. Terutama warga yang tinggal di daerah Kelurahan Sisir dan Desa Oro-Oro Ombo. ”Ada dua daerah yang rawan. Oro-Oro Ombo dan Sisir. Makanya, warga harus lebih berhati-hati,” terangnya.

Sementara itu, Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Kota Batu Gatot Noegroho menambahkan, Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, menjadi langganan bencana tanah ambles. Karena dahulunya area ini diduga kuat bekas galian tanah. ”Kelurahan Sisir itu kan dulunya bekas galian C pasir dan tanah,” imbuh dia.

Lebih lanjut, pihaknya mencatat ada 86 kejadian bencana dan non-bencana tahun 2018 lalu. Rinciannya, sebanyak 27 tanah longsor, 25 angin kencang, 14 kasus kebakaran hutan,  2 kasus tanah ambles, 2 kasus puting beliung, dan 16 kejadian darurat non-bencana: pohon tumbang dan 2 pendaki tersesat. ”Tahun lalu ada dua kejadian tanah ambles. Tahun ini jumlahnya naik,” ungkap dia.

Dari kejadian tersebut, Gatot mencatat ada sekitar Rp 2,3 miliar kerugian materiil dari 86 kejadian bencana dan nonbencana tersebut. Sehingga, pihaknya sudah melakukan antisipasi agar warga bisa lebih sigap dalam menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. ”Kami melakukan pelatihan dan edukasi tanggap bencana di desa dan kelurahan,” tandasnya.

Pewarta : Miftahul Huda
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Imam Nasrodin