Awalnya Tegang dan Takut, Kini Sudah Terjun 39 Kali

Kebayang nggak jika seorang perempuan terjun bebas dari ketinggian 10.000 feet (lebih dari 3 kilometer) dengan kecepatan jatuh 180 km/jam. Sungguh pemberani. Kegiatan itulah yang kini ditekuni oleh Serda Reni Octaviani dari Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad). Dialah penerjun payung pertama dari anggota Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) di lingkungan Divif 2/Kostrad yang melakukan free fall (terjun bebas).

Serda Reni Octaviani masih tampak sibuk dengan latihan bela diri ala militer saat wartawan koran ini berkunjung ke markas Divisi Infanteri 2/Kostrad di Singosari, Kabupaten Malang, Rabu lalu (16/8). Ditemui di sela-sela waktu istirahat, dia menyambut ramah koran ini dengan senyum mengembang. Selanjutnya, obrolan pun mengalir. Dia menyatakan harus rutin latihan bela diri guna melatih skill, menjaga kebugaran, serta kekuatan tubuhnya.

Selain itu, dia rajin latihan terjun bebas (free fall). Sebab, sebagai penerjun payung pertama dari anggota Kowad di lingkungan Divif 2/Kostrad, dia harus terus menjaga performanya. ”Saat ini saya merupakan satu dari dua anggota Kowad yang pertama melakukan free fall untuk lingkungan Kostrad seluruh Indonesia. Satu orang lagi dari Makostrad Jakarta,” ujarnya.

Menurut Reni, tidak mudah untuk menjadi penerjun payung free fall. Sebab, butuh nyali maupun keberanian yang besar untuk melakukan penerjunan di atas ketinggian 3 kilometer. Apalagi dengan kecepatan jatuh 50 meter per detik (180 km/jam) sebelum parasut mengembang atau bahkan bisa melebihi kecepatan itu.

”Jujur, dulu saya merasa tegang dan takut saat awal-awal latihan terjun payung. Tapi, bagi saya, hal itu dijadikan sebagai motivasi dan tantangan tersendiri,” ucap Reni. Kini, dia mengaku telah terbiasa dan sudah melakukan sebanyak 39 kali free fall, baik siang maupun malam hari.



Namun, siapa yang menyangka jika latihan penerjunan tersebut ternyata hanya dilakukan dalam waktu enam minggu. Serda Reni harus menguasai semua ilmu sebagai seorang penerjun payung, baik teori maupun praktiknya, untuk terjun free fall yang dilaksanakan di Pusdikpassus Batujajar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. ”Dua minggu pertama itu untuk ground training,” kata perempuan kelahiran Jakarta tersebut.

Selama satu minggu, kegiatan belajar dilakukan di dalam kelas. Sedangkan pada minggu kedua, latihan dilakukan di lapangan. Seperti pembelajaran cara melipat parasut, mengemudikan parasut, serta latihan terjun payung yang dipraktikkan dengan mendarat ke kolam renang.

”Latihan terjun payung itu bisa back (dengan melompat ke belakang) dan dive (melompat ke depan),” imbuh perempuan yang sejak kecil hingga besar di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Setelah itu, pada minggu ketiga hingga keenam, semuanya dilakukan dengan praktik terjun dari pesawat maupun helikopter. Pelatihan tersebut dilakukan mulai 15 Februari hingga 25 Maret 2017.

Awalnya, Reni tidak menyangka dia bakal terpilih mengikuti pelatihan terjun bebas militer (free fall) untuk gelombang 1 pada tahun ini. ”Awalnya rekan saya yang dipromosikan untuk mengikutinya. Namun ternyata, saya yang ditunjuk oleh pimpinan,” beber perempuan berusia 20 tahun tersebut.

Reni pun berangkat dan membuktikan kepada kesatuannya dengan lulus dari pelatihan terjun payung free fall. Dia sekaligus menjadi anggota Kowad yang pertama berhasil terjun payung free fall. Meskipun demikian, dia sebenarnya memiliki banyak pengalaman. Sebab, pada pendidikan dasar (diksar) penerjunan, dia telah melakukan sebanyak 7 kali. ”Hanya ketinggiannya berbeda. Saat itu ketinggiannya hanya 1.200 feet (365 meter),” ungkap perempuan kelahiran 5 Oktober 1996 tersebut.

Selain itu, dia menjelaskan bahwa parasut yang digunakan juga berbeda. Jika saat diksar, parasutnya merupakan kanopi berbentuk bulat. Sedangkan saat free fall, parasut yang digunakan berbentuk persegi panjang. ”Untuk free fall, parasutnya lebih mudah untuk dikendalikan,” imbuh anak kedua dari tiga bersaudara itu.

Disinggung soal keberaniannya, Reni menyatakan hal itu dia miliki karena keluarga besarnya berasal dari TNI. Mulai dari almarhum kakeknya, ayahnya, hingga kakak pertamanya (seorang perempuan). Meskipun demikian, dia tidak pernah merasa dipaksa oleh orang tuanya untuk menjadi Kowad. ”Tidak ada yang menyuruh dan memaksa saya, mungkin karena terinspirasi kakak saya yang juga Kowad,” urai Reni. Dia menyatakan, tujuan saya menjadi tentara adalah murni untuk mengabdi kepada negara.

Meskipun kini menjadi anggota di Detasemen Perhubungan Divif 2/Kostrad, sebenarnya dulu dia mendaftar melalui Ajendam II Sriwijaya di Sekoja, Palembang, Sumatera Selatan, pada 2015 lalu. ”Awalnya saya mendaftar di Palembang, kemudian mengikuti tes lanjutan di Jakarta,” urainya.

Setelah itu, dia mengikui pelatihan di Pusdik Kowad di Lembang, Bandung. Kemudian berturut-turut berpindah-pindah ke Cimahi selama 4 bulan, Makostrad Jakarta 1 bulan, baru kemudian di Divisi Infanteri Kostrad di Malang pada November 2016.

Menanggapi sebagai penerjun payung pertama untuk free fall dari anggota Kowad Kostrad, dia sama sekali tidak besar kepala. ”Dalam penerjunan, seseorang tidak boleh terlalu berani dan tak boleh terlalu takut. Semuanya harus sesuai prosedur,” beber alumnus SMAN 1 Lahat tersebut. ”Fisik dan mental yang kuat harus selalu dijaga agar dapat menghadapi tantangan-tantangan saat di udara,” pungkasnya.

Pewarta: Gigih Mazda
Penyunting: Kholid Amrullah
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Reni Octaviani