Awalnya Iuran, Kini Menghasilkan Puluhan Juta

Di tangan para ibu yang tergabung dalam Kelompok Wani Tani (KWT) Cemara Hijau Farm (CHF), Perumahan Bukit Cemara Tidar (BCT) makin hijau. Selain ada lahan pertanian, juga peternakan. Apa motivasi emak-emak membuat sawah di tengah perumahan?

 

MOCHAMAD SADHELI

RATUSAN polybag berisi bunga berjejer di rumah-rumah warga Perumahan Bukit Cemara Tidar (BCT) Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun, Kota Malang, kemarin (5/4). Sepetak rumah hijau (green house) menyambut wartawan koran ini saat menyusuri gang-gang perumahan. Di green house tersebut, beberapa ibu-ibu dengan pakaian lengkap menyerupai petani sedang mengurus polybag berisi tanaman sayur. Mulai dari sawi, bayam, terong, leunca, hingga cabai.

Suasana di Perum BCT tersebut berbeda dengan perumahan lain di kawasan perkotaan. Umumnya, perumahan di perkotaan tidak terdapat lahan pertanian komunal. Bahkan, penghijauan di masing-masing rumah warga saja tidak selalu ada.

Suasana asri di Perum BCT itu tidak lepas dari peran emak-emak yang tergabung dalam Kelompok Wani Tani (KWT) Cemara Hijau Farm (CHF). Mereka bukan petani. Tapi, warga perumahan yang rata-rata berlatar belakang sarjana ilmu pertanian.

”Awalnya iuran Rp 300.000 untuk keperluan bibit dan yang lain-lainnya,” terang Sekretaris KWT CHF Wahyu Etin Yuniati.

Misinya tidak sekadar penghijauan. Tapi, juga memberi penghasilan tambahan kepada anggotanya. KWT CHF yang didirikan pada 2017, kini sukses dan bisa memberikan penghasilan tambahan bagi ibu-ibu. ”Tujuan awalnya memang selain menggunakan lahan kosong, juga profit,” tambah perempuan yang kerap disapa Bu Indra ini.

Mulanya, hanya belasan ibu-ibu saja yang tergabung. Tapi lama-kelamaan, mereka mengampanyekan pentingnya menjaga lingkungan asri di kawasan perumahan sehingga menarik minat ibu-ibu lain. Kini anggotanya berjumlah 40 orang.

Seiring berjalannya waktu, gerakan para ibu yang mulanya bergerak di bidang sayur, kini merambah ke peternakan. Di antaranya, ternak lele dan ayam. ”Beberapa keuntungan juga kami putar lagi untuk ternak lele dan ayam,” jelas Etin.

Etin lalu menunjukkan kolam lele yang mereka garap. Ada dua kolam, tidak ditanam di tanah, tapi menggunakan terpal berwarna biru dan dibuat persegi panjang berukuran 2 meter x 3 meter. Satu kolam untuk pembibitan dan sisanya untuk ikan yang beranjak dewasa. ”Sama, keuntungannya nanti untuk diputar lagi,” ungkap Etin.

Setelah berjalan dua tahun, Etin dan para anggota KWT CHF masih ingin memperluas lahan untuk pertanian. ”Seperti di RT lainnya, lingkungan sisi sebelah kiri dari pintu masuk yang pojok belakang masih ada lahan kosong,” kata Etin yang menyebutkan bahwa saat ini perkebunan meliputi tiga RT itu. Yakni, RT 3, 4, dan 6.

Saat dibentuknya KWT CHF ini pun dibarengi dengan badan hukum. ”Agar bisa mendapatkan bantuan dari pihak ketiga,” beber Etin.

Setelah berbadan hukum, KWT CHF lantas mendapatkan suntikan dana sekitar Rp 10 juta dari pihak ketiga. Dana itu untuk menunjang operasional pertanian. ”Untuk beli net (jaring), tunnel, dan peralatan lainnya,” tambahnya.

Kegunaan tunnel dan jaring sendiri untuk mengantisipasi cuaca hujan deras. Hujan deras di Kota Malang sempat merusak lahan pertanian mereka.

Hasilnya pun tak sia-sia karena anggota yang ikut juga berkomitmen sehingga bisa mengembalikan dana bantuan itu. ”Sekarang sistemnya seperti bekerja. Sudah ada jadwalnya,” ungkap Etin.

Tahun 2018 lalu, dia juga mendapatkan bantuan dana puluhan juta dari program kawasan rumah pangan lestari (KRPL) Kementerian Pertanian (Kementan). ”Dari situ, mulai berkembang lagi ke peternakan,” sambungnya.

Dari lahan yang mereka miliki sekarang, mampu panen di setiap minggunya. Hari panen pun sudah terjadwal. ”Seminggu bisa dua kali di hari Selasa dan Jumat,” terang perempuan lulusan Jurusan Pertanian Universitas Brawijaya (UB) itu.

Selanjutnya, hasil panen mereka jual. Namun, dalam penjualannya masih melalui supplier, sementara targetnya langsung ke penjual. ”Sementara ini masih kami dahulukan warga yang mau membeli, baru sisanya ke supplier,” tambahnya.

Sementara itu, Lurah Karangbesuki Bambang Heriyanto mengapresiasi gerakan ibu-ibu yang tergabung dalam KWT CHF itu. ”Yang saya kagumi adalah ini lingkungan perumahan, tapi perhatian terhadap lingkungan juga tinggi,” terang Bambang. Selain itu, pemanfaatan lahan tidur juga tidak banyak dilakukan di Kota Malang. Terlebih di lingkungan perumahan.

Pewarta               : *
Copy Editor         : Dwi Lindawati
Penyunting         : Mahmudan
Fotografer          : Mochamad Sadheli