Awalnya Enak, Berikutnya Kelopak Mata Terpaksa Dikerok

Mata Caesaria sebelah kiri awalnya merah dan gatal saat bangun tidur. Kondisi ini dia abaikan hingga dua hari. ”Karena ndak begitu berat, saya biarkan. Pakai obat tetes mata di swalayan saja untuk meredakan,” ujarnya.

Namun, setelah hari keempat, kondisi matanya bertambah parah. Air matanya semakin banyak, lengket, dan bengkak. Setiap bangun tidur, dia hampir tidak bisa membuka mata. ”Bahkan terasa kok, saat terpejam ada air mata yang berkumpul. Itu, kalau kepala saya miringkan dan tidak sengaja air matanya masuk lagi ke mata, sakit sekali,” jelas dia.

Dia lalu disarankan saudaranya membeli salah satu obat mata di apotek seharga Rp 35 ribu. Di label obat tetes mata ini tertera mengandung dexamethasone, neomycin sulphate, polymixin B sulphate. Beberapa jenis bahan kimiawi ini, masuk golongan kostikesteroid.

Kebetulan, seluruh keluarganya yang terkena sakit mata membeli obat ini secara bebas di apotek. ”Awalnya lumayan enak, adem. Cuma gatal sama bengkaknya kok nggak hilang-hilang ditetesin,” jelas perempuan berusia 27 tahun ini.

 

 

 

 

 

 

Sudah diobati lebih dari lima hari, mata kirinya tidak kunjung sembuh. Bahkan, mata kanannya ikut-ikutan sakit. Setiap menyetir, penglihatannya terganggu. Karena kondisinya tidak lekas membaik, selepas kerja sekitar pukul 22.00 WIB, dia bergegas ke Rumah Sakit Hermina, lalu dirujuk ke Rumah Sakit Saiful Anwar untuk mendapat penanganan lanjutan.

”Di sana saya diperiksa, dan dikatakan kondisi saya parah. Akibat bakteri dan kandungan obat yang tidak sesuai dengan kondisi mata saya,” tambah Caesaria.

Di poliklinik mata RSSA, dirinya ditangani dua dokter. ”Dokter bilang saya harus dikerok kelopak atas sama bawah. Karena penumpukan bakteri, selaputnya sampai putih dan obat tidak bisa masuk,” tutur bungsu dari dua bersaudara ini.

Dari hasil observasi dua dokter yang menangani, Caesaria salah menggunakan obat mata. Obat tetes mata dengan label keras, seharusnya ditebus dengan resep dokter setelah pasien mengecek mata mereka. Bukan digunakan dengan bebas.

Apalagi kondisi matanya makin parah karena pekerjaan Caesaria yang mengharuskan dia naik motor terus-terusan. Setelah diambil tindakan, dia diberikan obat mata protagent-A dan tobroson. Caesaria mengatakan, dua obat ini ditebus dengan resep dokter. ”Dan tidak perih. Beda dengan obat sebelumnya yang panas saat dipakai,” pungkasnya.

Pewarta : Sandra Desi
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Ahamd Yani