Imam Ghozali, Mantan Kepala Sekolah yang Juga Petani Jambu Kristal

Awalnya 20 Bibit, Kini Berbiak Menjadi 8.800 Pohon

Ribuan pohon hijau beranting kecokelatan berjajar rapi, terbentang di hamparan lahan seluas 3.000 meterpersegi. Itulah pohon-pohon jambu kristal milik Imam Ghozali yang dikhususkan untuk wisata petik jambu. Sedangkan satu hektare lebih lahan pertanian jambu disiapkan untuk produksi.

Pria berusia 63 tahun tersebut masih terlihat sibuk dengan salah satu pohon jambunya saat wartawan koran ini berkunjung ke kebunnya. Dengan menggunakan gunting, sesekali dia memotong ranting serta daun-daun yang dianggapnya terlalu lebat atau kering.

Sambil berkeliling, Imam lantas menceritakan kisahnya sebagai petani apel yang banting setir menjadi petani jambu kristal. Menurutnya, lahan miliknya sudah tak sesuai untuk budi daya apel.

”Lahan di sini sudah tidak bisa maksimal lagi untuk tanaman apel,” tuturnya.

Dia menceritakan, suhu Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, sudah semakin tinggi. Sehingga tak bisa menumbuhkan tanaman apel yang butuh suhu antara 16-20 derajat Celcius.



”Kalau di sini, sekarang kalau siang bisa 27 bahkan 30 derajat (Celcius),” tutur pria yang menjadi guru sejak tahun 1976 tersebut. Imam menjelaskan, dulunya dia adalah seorang petani apel. ”Dulu saya budi daya tanaman apel.

Tapi kalau zaman orang tua saya adalah petani biasa. Padi, jagung. Berganti-ganti,” imbuhnya. Imam mengaku senang dengan kegiatannya berkebun. ”Mungkin karena anak seorang petani, jadi gemar bertani mungkin sudah sejak lahir,” imbuhnya.

Namun, hal itu berubah saat suhu di Kota Batu terus-menerus meningkat. ”Sejak tahun 2000-an itu cuaca di sini sudah tidak stabil untuk apel,” terang alumnus SD Muhammadiyah Kota Batu tersebut.

Akhirnya usaha perkebunan apel yang ditanam sejak tahun 1990-an diganti jambu kristal. Meski begitu, Imam tidak tahu apakah daerah lain di wilayah Kota Batu masih ada yang sesuai untuk tanaman apel atau tidak. Namun yang pasti, untuk Desa Bumiaji, kualitas produksi apelnya sudah menurun drastis.

”Ada beberapa pilihan komoditas pengganti apel,” beber guru yang pensiun tahun 2015 itu.

Mulai dari jeruk, jambu merah, sampai jambu kristal yang kini berjumlah hingga 8.800 pohon itu. Jambu kristal tersebut dirintis sejak tahun 2005 silam. Dia bercerita, sebelum pohon jambu berkembang hingga jumlahnya menjadi ribuan batang ini, dulunya dia hanya memiliki 20 pohon.

”Awalnya ya beli bibit dari banyak tempat,” terang bapak dua putri tersebut.

Dia membeli dengan rentang harga bermacam-macam. Mulai Rp 50 ribu, Rp 100 ribu, juga Rp 250 ribu. ”Ada juga yang harganya Rp 1 juta,” terangnya.

Bibit jambu itu berasal dari Balai Penyuluh Per tanian Mojokerjo yang bekerja sama dengan pemerintah Taiwan, tempat tumbuhan jambu kristal tersebut berasal. Akhirnya, dari sana Imam terus mencangkok tumbuhan jambu tersebut hingga berjumlah ribuan yang ditanam di 7 lahan dengan total keseluruhan kurang lebih 1,5 hektare.

Kini, lahan seluas 3.000 meter di bagian depan rumahnya dia buka untuk wisata agro petik jambu. ”Mungkin sekitar tahun 2013 resmi kita buka untuk tempat agro wisata,” terangnya.

Namun Imam menceritakan, sejak tahun 2005 pihaknya telah menerima banyak tamu dan kunjungan. Beberapa di antaranya dari Kementerian Pertanian, peneliti, dan juga turis asing. Selain tak hanya dari wilayah Malang Raya atau Jawa Timur, banyak juga wisatawan asing yang berkunjung ke tempatnya.

Ada yang dari Inggris, Amerika, Kanada, Belgia, Belanda, atau Jerman. ”Di sini juga sering kali ada anak magang,” imbuh pria bergelar magister jurusan Manajemen Sumber Daya Manusia lulusan Universitar Merdeka Malang itu. Dia mengungkapkan bahwa anak magang tersebut bisa mencapai 50 orang saat periode magang berlangsung.

Meski menjalani tugas sebagai pengajar hingga kepala sekolah di SMKN 2 Kota Batu, Imam mengaku tak sekalipun meninggalkan cangkul dan kebunnya. Saat ini, dia memiliki total 15 karyawan yang mengolah lahan kebunnya tersebut. Tak hanya itu, kunjungan ke kebunnya saat musim liburan bisa mencapai 200 pengunjung tiap harinya. Namun jika sedang sepi, pengunjung hanya berkisar 20 orang per harinnya.

”Dijadikan kebun sebagai tempat wisata ini juga untuk mendekatkan kepada konsumen,” tutup pria kelahiran 8 Agustus 1955 itu.

Pewarta: Gigih Mazda
Penyunting: Ahmad Yani
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Gigih Mazda