Atasi Macet, Siapkan Dua Rekayasa

KOTA BATU – Terus dihadapkan dengan problem kemacetan di tiap akhir pekan dan libur panjang, membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Batu terus memutar otak. Dari rekayasa sementara, ada dua langkah yang sudah dipersiapkan mereka. Yang pertama yakni menambah box culvert (gorong-gorong berbentuk kotak). Berikutnya, yakni menambah jalur alternatif.

Untuk rekayasa box culvert, ada dua jalur yang bakal menjadi fokus. Yakni di sepanjang Jalan Soekarno dan Jalan Pattimura. Sementara tambahan jalur alternatif bakal dipersiapkan untuk menghubungkan Kota Batu dengan Kota Malang dan Kabupaten Malang. ”Semua harus dipersiapkan, karena (problem kemacetan) ini menjadi tantangan tersendiri bagi kami,” terang Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko.

Dia pun menaruh kekhawatiran khusus pada beberapa program pembangunan nasional. Salah satunya yakni akses keluar tol Malang–Pandaan (Mapan). ”Kalau exit tol ada di Karanglo, maka tidak bisa dihindari. Di daerah dari Karangploso menuju Kota Batu akan macet,” sambung Dewanti. Karena itulah, dia mengaku butuh tahap pelebaran jalan.

”Kalau tidak ada pelebaran, mampetnya (macet) nanti di daerah Karangploso menuju Kota Batu,” tambahnya. Sadar bila proses pelebaran jalan tersebut tidak menjadi kewenangannya, sejumlah strategi lain pun mulai disusun. ”Jadi, sekarang ini kami minta untuk dinas perhubungan bekerja sama dengan Polres Batu. Tujuannya supaya bisa membuat jalur alternatif yang banyak,” kata dia.

Untuk pengadaan box culvert, Pemkot Batu bersiap mengirimkan usulan ke pemerintah pusat. ”Namun sampai saat ini masih belum (direalisasikan). Kalau untuk membangun ini, dari kami (APBD Kota Batu), tentu tidak akan mampu,” imbuhnya.



Ketua DPRD Kota Batu Cahyo Edi Purnomo menyatakan ide untuk pengadaan box culvert itu sebenarnya sudah ada sejak 2002 lalu. ”Inisiasi sudah kami sampaikan berkali-kali melalui komisi, kami pun siap mendukung keinginan box culvert itu,” kata dia. Namun, lanjutnya, jika mengajukan sekarang ini sepertinya sudah tidak memungkinkan untuk terealisasi 2019 mendatang.

”Ya kami memang harus pinter-pinter mengintip anggaran yang ada di pusat. Kalau ada kesempatan mengajukan, bisa diajukan. Namun sekarang ini kan untuk 2019 sulit, karena (pogram pemerintah pusat) sudah disetujui, jadi kalau mau ya harus berikutnya (2020),” sambung Cahyo.

Pengajuan pada pemerintah pusat memang paling realistis dilakukan, karena pengadaan box culvert itu memang membutuhkan dana besar. ”Kalau secara pasti butuh berapa saya belum tahu. Tapi satu box culvert itu (nilainya) kurang lebih Rp 25 juta,” tutup politikus PDI Perjuangan itu. 

Copy Editor: Amalia
Penyunting: Bayu Mulya
Foto: Bayu Eka Novanta