Arema FC Jalan Terus, Urungkan Mogok Kompetisi setelah Bertemu Ketum PSSI

JAKARTA – Rencana Arema FC bersama 14 klub Liga 1 yang berniat mogok kompetisi di pekan ke-29 mendatang, ternyata hanya pepesan kosong. Buktinya, mayoritas klub kasta tertinggi kompetisi tanah air itu tidak bisa berbuat apa-apa setelah diundang operator Liga 1 PT LIB (Liga Indonesia Baru) untuk melakukan pertemuan dengan Ketum Umum (Ketum) PSSI di Hotel Sultan, Senayan-Jakarta, kemarin sore (10/10).

General Manager Arema FC Ruddy Widodo yang hadir dalam pertemuan itu menjelaskan, tidak ada alasan lagi mogok kompetisi. Sebab, semua tuntutan dari 15 klub Liga 1 sudah mendapat respons dari PT LIB.

”Jadi, kami dari Arema FC tetap so must go on (jalan terus kompetisi),” tegas Ruddy saat dihubungi tadi malam.

Menurut Ruddy, salah satu respons yang dimaksud adalah kesediaan dari PT LIB mengundang diskusi seluruh tim peserta Liga 1. Selain itu, mereka bersedia memenuhi sejumlah tuntutan dari klub. Tiga aspek yang minta segera dibenahi juga sudah mendapat perhatian. Yakni, aspek legal, bisnis, dan teknis. Aspek legal yang dimaksud di sini adalah hubungan klub dengan operator liga. Status operator liga itu sebagai pemegang saham klub atau murni hubungan bisnis.

Aspek lain soal bisnis. Selama ini, imbuh pria asal Madiun tersebut, sejak awal bagi hasil hak siar televisi antara PT LIB dengan klub tidak ada kejelasan. Aturannya tidak ada. Misalkan saja, ketika Arema FC disiarkan langsung televisi, uang bagi hasil hak siar yang didapat Arema FC tidak jelas. Jadi, klub merasa dirugikan.



Sedangkan tuntutan lain PT LIB agar menata ulang soal regulasi kompetisi. Sebab, tercatat ada dua aturan yang berubah. Pada awal kompetisi PT LIB membuat aturan, setiap tim yang bertanding wajib menggunakan tiga pemain U-23. Namun, aturan ini berubah seiring dengan banyaknya pemain U-23 di masing-masing klub yang tampil membela Indonesia di SEA Games Malaysia. Klub tidak harus lagi memainkan tiga pemain U-23. Selepas SEA Games, rencananya regulasi kewajiban klub menggunakan tiga pemain U-23 bakal diberlakukan lagi. Namun, ternyata hingga saat ini tetap tidak ada aturan yang mewajibkan tim memakai tiga pemain U-23.

Regulasi lain yang dinilai tidak konsisten adalah soal pergantian pemain. Pada awal kompetisi pergantian pemain maksimal lima orang. Alasannya, karena dalam tim ada tiga pemain U-23. Namun, kemudian diubah kembali ke aturan sesuai FIFA (induk organisasi sepak bola sedunia).

Karena tiga aspek itu, 15 klub merancang boikot kompetisi. Dan, 15 klub itu Arema FC, Persela Lamongan, Gresik United, Sriwijaya FC, Madura United, Persipura, Perseru Serui, Borneo FC, Barito Putera, Mitra Kukar, Persija Jakarta, Semen Padang, PSM Makassar, Persiba Balikpapan, dan Bhayangkara FC.

”Karena tiga tuntutan kami sudah direspons, jadi kami tetap berkompetisi hingga akhir,” tandas Ruddy.

Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi yang juga ikut dalam pertemuan tersebut menyatakan bahwa ketegangan yang terjadi antara mayoritas klub dan operator tersebut karena hanya ada masalah komunikasi.

”Memang ada kesalahpahaman, tapi sudah clear. Mereka yang katanya mau mogok itu juga tadi (kemarin) tidak mengaku mau mogok,” kata Edy.

Manajer Persib Bandung Umuh Muchtar yang ikut dalam pertemuan tersebut juga menambahkan bahwa 15 klub tersebut juga kompak tidak mau mengakui soal manuver politik yang dilakukan awal pekan lalu.

”Kata mereka, hanya tiga klub yang melakukan aksi itu. Tapi, saat ditanya tiga klub tersebut siapa saja, mereka juga diam. Ini kan aneh,” ujar Umuh.

Di sisi lain, Direktur Utama PT LIB Berlinton Siahaan menyatakan bahwa mereka tetap konsisten dengan jadwal kompetisi yang sudah mereka tentukan.

”Kompetisi tinggal satu bulan lagi berakhir. Dan, kami putuskan untuk fokus mengawal semua pertandingan tersisa agar berjalan lancar,” ujar Berlinton.

Pewarta: BEN
Penyunting: Abdul Muntholib
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Darmono