Arema Butuh Psikolog, Ada Apa Sebenarnya?

Pemain Arema FC merayakan gol yang dicetak Thiago Furtuoso (tiga dari kiri), striker Arema FC ke gawang Persebaya saat pertandingan semifinal Piala Gubernur Kaltim 2018 di Stadion Utama Kaltim, Palaran, Samarinda, kemarin (2/3). FOTO: Angger Bondan/Jawa Pos

SAMARINDA – Penampilan pemain Arema FC cenderung menurun. Itu terlihat dari dua laga awal Liga 1, yakni saat menjamu Mitra Kukar dan menantang Persija. Saat menjamu Mitra Kukar, Arema ditahan imbang 1-1. Sementara kala bertandang ke Jakarta, mereka menyerah 1-3 di tangan Persija.

Bukan hanya soal skor akhir yang membuat performa tim berjuluk Singo Edan ini melorot. Lebih dari itu, motivasi Dendi Santoso dkk juga tampak layu. Karena itulah pelatih fisik Arema FC Dusan Momcilovic menilai bahwa problem pemain lebih pada semangat tanding. Karena semangat menurun, fisiknya ikut merosot.

Karena itu, Dule –sapaan Dusan Momcilovic– meminta manajemen mendatangkan psikolog. Tujuannya untuk memompa motivasi pemain. ”Mereka sebenarnya dalam kondisi siap. Saya juga heran kenapa mereka tidak bisa lari. Padahal saya sudah menyuruh mereka lari,” ujar Dule.

Kondisi mental pemain itu jauh berbeda saat mereka mengarungi turnamen pramusim. Saat itu, penggawa Arema tampak garang. Mereka kerap memenangkan ball posession dan memenangkan laga demi laga. Bahkan, klub kebanggaan Aremania melaju hingga partai final di turnamen Piala Gubernur Kaltim 2018.

Bagi Dule, mengangkat kondisi mental bertanding para pemain adalah yang dibutuhkan saat ini. Sebab, kondisi fisik sebenarnya berada di puncaknya. ”Sudah bukan tebakan lagi kalau masalahnya mental. Memang masalahnya itu (mental tanding),” tegas pelatih asal Serbia tersebut.

Dia menuturkan, klub-klub di Eropa sebagian besar memiliki psikolog yang bertugas menangani masalah individu masing-masing pemain. Psikolog mengajak bicara para pemain yang mentalnya tampak kendur dan mengulik masalah-masalahnya agar bisa bangkit. ”Mereka bertugas untuk itu. Mendekati pemain dari sisi mental,” terang pelatih berusia 57 tahum tersebut.

Pendekatan psikologis bukan berarti tak masuk akal. Masalah individu per individu pemain memang beragam. Tentu hal tersebut tidak bisa disamaratakan dengan pemain lainnya. Oleh karena itu, pengaruh mental masing-masing individu dan cara penyelesaiannya mungkin berbeda satu sama lain. Maka, tak heran jika klub sepakbola atau perusahaan modern memiliki seorang psikolog untuk menyelesaikan masalah-masalah pemain atau pegawainya.

Dia berpendapat, membangkitkan mental tanding pemain itu sulit dilakukan. ”Tapi, kalau membangun fisik jauh lebih mudah,” tegas eks pelatih fisik Arema IPL tersebut. (gg/c1/abm)