APBMI Berharap Ekspor-Impor 2020 Menggeliat Agar Load Factor Naik

JawaPos.com – Pertumbuhan ekonomi yang stagnan di kisaran lima persen membuat pendapatan pengusaha bongkar muat jalan di tempat. Tahun depan pertumbuhan ekonomi juga diprediksi stagnan, bahkan cenderung melambat. Hal itu turut memengaruhi bisnis angkutan.

Pada 2020, pertumbuhan ekonomi diprediksi sekitar 5,1–5,2 persen. Beberapa konsensus memprediksi pertumbuhan ekonomi bahkan berada di bawah lima persen.

Ketua Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia Jawa Timur (APBMI Jatim) Kody Lamahayu Fredy berharap kondisi perekonomian Jatim lebih baik daripada nasional. Dengan begitu, ekspor dan impor tumbuh positif sehingga lebih banyak barang yang bisa diangkut.

“Beberapa tahun belakangan pendapatan kami banyak dari angkutan barang tambang. Nah, itu menurun. Semoga lebih banyak barang tambang yang bisa diangkut,” katanya.

Kody juga berharap industri manufaktur di Jatim tumbuh lebih pesat tahun depan. Jika manufaktur tumbuh, angkutan barang impor bisa meningkat. Sebab, selama ini angkutan impor bahan baku dan barang modal cukup mendominasi pendapatan bisnis usaha bongkar muat.

Meski pertumbuhan ekonomi ke depan penuh tantangan, Kody yakin pelaku industri di Jatim masih bisa bertahan. Sebab, pertumbuhan ekonomi Jatim selalu lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi nasional.

Banyak produk unggulan Jatim yang dikirim ke luar negeri sebagai bahan baku. Contohnya, bahan baku fiberglass yang dikirim ke Malaysia, Jepang, Tiongkok, dan India.

“Nah, kalau ekspor barang tambang susah, kami berharap angkutan ekspor komoditas-komoditas yang lain tetap tumbuh,” ucapnya.

Sebab, jika pertumbuhan ekonomi masih di bawah enam persen, load factor angkutan akan stagnan di kisaran 80 persen. Maka, agar load factor tidak jatuh lebih dalam, pengusaha bongkar muat akan sangat bergantung pada pertumbuhan ekspor dan impor.

Di bagian lain, pengusaha juga tetap harus mematuhi aturan over dimensi dan overload (Odol). Dengan begitu, truk tetap aman ketika beroperasi di jalan dan tidak membahayakan sekitar. Juga agar pengusaha tidak boros biaya perawatan truk. Jika aturan Odol dilanggar, biaya perawatan truk justru akan mahal.

“Justru malah tidak bagus karena menggerus pendapatan. Yang banyak melanggar aturan Odol itu rata-rata truk tronton. Nah, itu harus diperbaiki,” ujar Kody yang juga ketua DPC Organisasi Angkutan Darat (Organda) Khusus Tanjung Perak Surabaya.

Kody berharap masalah kekurangan pasokan solar subsidi tak lagi terjadi. Beberapa waktu lalu, banyak SPBU di Jatim yang kekurangan pasokan solar. Akibatnya, pengusaha kelimpungan karena terpaksa harus membeli dexlite yang harganya lebih mahal.

Rata-rata harga solar subsidi Rp 5.150 per liter, sedangkan harga dexlite Rp 10.200 per liter. Untung, PT Pertamina kemudian memperbanyak kuota penyaluran solar di 14 SPBU yang lokasinya dekat dengan pelabuhan. Dengan demikian, pengusaha tidak sampai menaikkan tarif angkutan.

Ke depan, Kody berharap kuota solar mencukupi. Atau, pemerintah bisa menaikkan harga solar agar disparitas harga solar dengan dexlite tidak terlalu lebar seperti saat ini.

Ekspor dan Impor Jatim

Ekspor USD 16,87 miliar (turun 2,17 persen year on year)

Impor USD 19,13 miliar (turun 10,01 persen year on year)

Sumber: BPS, Januari–Oktober 2019