APBJ Bikin Milenial Jatuh Cinta pada Batik Lewat Film

JawaPos.com – Perajin batik hingga kini menghadapi sejumlah tantangan. Yang paling utama, memberikan pemahaman kepada kalangan milenial sebagai bagian dari regenerasi pemakai batik.

Ketua Asosiasi Perajin Batik Jawa Timur (APBJ) Wirasno menyatakan, beberapa strategi yang dilakukan untuk konsumen milenial, antara lain, mengenalkan batik, membuat mereka untuk suka, dan setelah suka, pasti mereka akan mencari. Menurut dia, rangsangan kepada milenial untuk menyukai batik belum menyeluruh.

Sebagai upaya merangsang milenial untuk mencintai batik, APBJ secara rutin menggelar Festival Film Batik Jawa Timur. Dalam kegiatan itu, secara langsung para peserta dari usia milenial akan bersentuhan dengan batik.

“Karena kalau sekadar memakai, itu sebenarnya belum menimbulkan kecintaan pada batik. Jadi, perlu instrumen baru. Kalau hanya sekadar memakai, tidak tahu yang dipakai adalah printing. Makanya, perlu pemahaman tentang batik dan prosesnya,” ujar Wirasno.

Menurut dia, cara yang paling efektif adalah melibatkan milenial dalam kegiatan secara penuh. Tahun depan pihaknya masih terus menyelenggarakan Festival Film Batik Jawa Timur. Seluruh pesertanya adalah siswa SMA dan mahasiswa.

“Yang pasti akan buat program terus untuk melibatkan milenial. Sebab, nasib karya seni ini ke depan berada di tangan mereka,” tuturnya.

Selain itu, upaya untuk menyentuh milenial adalah melalui desain. Dia menyatakan, sejak ditetapkan Hari Batik Nasional pada 2 Oktober 2009, hingga kini euforia untuk menggunakan batik makin berkurang.

Penetapan Hari Batik Nasional bertujuan memperingati ditetapkannya batik sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi oleh UNESCO. “Awal ditetapkan pengaruhnya luar biasa, menjadi euforia, dan semua pakai batik. Meski bukan batik, motif batik juga dipakai. Makin ke sini euoforia berkurang karena mungkin desain kurang mengikuti milenial. Makanya, desain harus menyentuh milenial,” jelasnya.

Sebenarnya tidak ada desain khusus yang diminati milenial. Hanya, desain yang digemari cenderung yang asimetris.

“Milenial tidak suka yang simetris. Jadi, nabrak dari pakem sudah biasa,” lanjut pria yang akrab disapa Wira tersebut.

Kendati membutuhkan upaya untuk mengenalkan batik di kalangan milenial, jumlah perajin batik justru terus meningkat tiap tahun. Kenaikan itu salah satunya disebabkan kesadaran terhadap skill yang dimiliki. Apalagi, workshop pembuatan batik tersebar, bahkan di desa-desa. Dan, itu menumbuhkan skill.

“Yang awal mula mencoba membuat karya, lantas diapresiasi, bahkan dibeli, sehingga muncul jiwa entrepreneur,” paparnya.

Apalagi, hal tersebut ditunjang dukungan pemerintah untuk mendorong tumbuhnya wirausahawan melalui berbagai pelatihan. Khususnya pelatihan yang menyangkut pemasaran produk. Mulai cara berjualan di marketplace hingga pelatihan memotret produk.

Menurut dia, pelatihan itu penting karena pasar batik bukan hanya di dalam negeri, melainkan hingga luar negeri. Tidak sedikit para pembeli dari luar negeri yang khusus datang ke Indonesia untuk berburu batik. Misalnya, pembeli dari Malaysia dan Jepang.

EDUKASI APBJ

Festival Film Batik Jawa Timur

Duta Batik Jawa Timur 2019

Jambore Batik