Apa Mungkin Gerindra Gabung tanpa Diberi Jatah Kursi Menteri?

Batik yang Dipakai Gibran Rakabuming Itu Diprediksi jadi Tren Busana Nasional - JPNN.com

Presiden Joko Widodo bertemu Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (11/10). Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA – Pengamat politik Maksimus Ramses Lalongkoe meyakini bakal muncul kecemburuan dari partai politik yang tergabung dalam koalisi pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin jika Partai Gerindra mendapat jatah kursi menteri.

“Pasti ada kecemburuan, bagaimanapun pasti itu karena menyangkut kepentingan bagi-bagi kursi menteri dan bisa mengurangi jatah partai koalisi, meski ada parpol yang tak ada wakilnya di parlemen,” ujar Maksimus kepada jpnn.com, Senin (14/10).

Menurut pengajar di Universitas Mercu Buana ini, parpol pendukung Jokowi-Amin tidak akan cemburu, jika Gerindra bergabung tanpa embel-embel kursi menteri. Namun, hal itu sepertinya sulit terjadi karena Gerindra tercatat berada di tiga besar peraih suara terbanyak Pemilu 2019.

“Selain itu, jika Gerindra bergabung mendukung pemerintah, itu manfaatnya memperkuat dukungan baru pemerintah di dewan, sehingga tak mengalami kesulitan dalam berbagai pengajuan program pemerintah ke depan,” ucapnya.

Peluang Gerindra bakal bergabung dalam koalisi mendukung pemerintah, kata Direktur Eksekutif Lambaga Analisis Politik Indonesia (LAPI) ini, semakin terlihat seiring meningkatnya intensitas pertemuan para tokoh jelang pelantikan presiden-wakil presiden terpilih hasil Pilpres 2019, yang rencananya digelar 20 Oktober mendatang.

Dimulai dengan pertemuan Presiden Joko Widodo-Prabowo Subianto di Istana Negara. Kemudian dilanjutkan dengan pertemuan Ketua Umum DPP Partai NasDem dengan Prabowo di kediaman Surya Paloh di Permata Hijau, Jakarta Barat, Minggu (13/10). (gir/jpnn)