Anton Pecahkan Mitos 212?

MALANG KOTA – Apakah Moch. Anton bakal terpilih lagi menjadi wali Kota Malang di Pilwali 27 Juni 2018? Jika incumbent bisa mempertahankan jabatannya hingga periode kedua, berarti Anton memecahkan mitos 212.

Sebab, sejak era Orba (Orde Baru), ada pola transisi kepemimpinan yang konsisten di Kota Malang. Misalnya saat wali kota sebelumnya menjabat dua periode, wali kota berikutnya hanya bertahan satu periode. Kemudian wali kota berikutnya lagi menjabat dua periode lagi, lalu satu periode lagi dijabat wali kota selanjutnya. Itulah yang dimaksud mitos 2.1.2 (dua periode, kemudian satu periode, dan kembali dua periode lagi).

Berdasarkan data yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, pola transisi kepemimpinan 212 dimulai sejak 1968. Saat itu, wali kota Malang dijabat Kol R. Indra Soedarmadji. Indra yang terpilih pada 1968 hanya memimpin satu periode (lima tahun). Sebab, pada 1973 sudah digantikan Kolonel Soegiyono (1973–1983). Ayah kandung Eddy Rumpoko (mantan wali Kota Batu) itu menjabat dua periode. Sepeninggal Kolonel Soegiyono, pemerintahan dipimpin caretaker (pejabat sementara, Red) Drs Soeprapto yang memimpin hanya hitungan bulan. Pucuk pimpinan lalu digantikan oleh dr H.Tom Uripan NSH yang menjabat satu periode. Yakni, pada 1983–1988.

Wali kota berikutnya, H.M. Soesamto menjabat dua periode (1988–1998). Setelah memasuki era reformasi, transisi kepemimpinan tetap konsisten, yakni 212. Sebab, H.M. Soesamto sudah menjabat dua periode, penerusnya wali kota Kol Inf H. Suyitno hanya memimpin satu periode (1998–2003). Pada era milenial tahun 2003, Kota Malang dipimpin Drs Peni Suparto. Pentolan PDIP tersebut menjabat dua periode hingga 2013.

Lantas, bagaimana dengan Anton? Jika mengacu mitos 212, Anton hanya menjabat satu periode. Namun, mitos itu bisa saja salah dan Anton terpilih lagi hingga dua periode.



Menanggapi mitos 212 tersebut, Ketua Timses Pasangan Moch. Anton-Syamsul Mahmud (Asik)  Arief Wahyudi menegaskan, pihaknya optimistis Anton bakal memecahkan mitos tersebut.

”Lima tahun lalu, Anton sudah memecahkan rekor. Sejak awal wali Kota Malang dipimpin TNI dan politikus,” kata Arief kemarin (13/2).

Politikus PKB itu menegaskan, Anton adalah satu-satunya wali kota yang tidak berasal dari kalangan militer maupun politikus. Tapi, dia adalah dari kalangan pengusaha. Menurut Arief, Anton memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat sehingga berhasil menjadi orang nomor satu di Kota Malang.

”Kami yakin akan memecahkan sejarah baru lagi (menjabat wali kota dua periode),” tutur mantan wakil ketua DPRD Kota Malang tersebut.

Terpisah, tokoh spiritual Prof Drs Djathi Koesoemo BSc menyatakan, kepemimpinan tidak berpatokan pada mitos 212. Namun, dia tidak menyalahkan jika ada yang memaknai pergantian kepemimpinan mengacu pada mitos tersebut.

”Jika dilihat urutannya (mitos 212), Moch. Anton selesai menjabat hingga periode ini. Tapi, itu tidak mutlak,” tegasnya.

Berdasarkan terawangan metafisikanya, Djathi memprediksi Kota Malang akan dipimpin ”seorang perempuan”. Namun, perempuan yang dimaksud Djathi bukanlah berdasarkan fisik.

”Bukan perempuan yang sesungguhnya. Tapi, sesosok pemimpin yang mempunyai jiwa pengayom,” kata pengamat Stisospol (Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik)  Waskita Dharma Malang itu.

Tokoh spiritual jebolan Klungkung, Bali, itu menyebut, sisi alam Singosari-lah yang membangkitkan roh kepada pemimpin yang akan menduduki Tugu 1 (sebutan untuk kantor wali Kota Malang).

Dia menambahkan, Kota Malang ke depan akan menjadi saksi perubahan zaman baru. ”Jika Anton mempunyai persiapan wacana baru, dia jadi (terpilih menjadi wali kota),” kata tokoh spiritual yang biasa disapa Kanjeng Kiai Pangeran Harya Kusumayuda itu.

Sedangkan tokoh spiritual Padepokan Jagad Kasat Mata Malang KRHT Gus Ripno Waluyo menguatkan periodisasi jabatan itu. Dia menyatakan, akan ada periode baru yang dijabat orang baru untuk wali Kota Malang. ”Ada sandungan yang saya ’baca’ dari wali kota yang sekarang,” jelasnya.

Sementara itu, pakar Pemerintahan IBU (IKIP Budi Utomo) Dr Sakban Rosidi memaparkan, kepala daerah dipilih rakyat secara langsung baru dirasakan sejak 2008. Saat itu, Peni Suparto maju sebagai wali Kota Malang. Pada periode pertama, Peni dipilih DPRD Kota Malang.

”Sedangkan periode kedua, Peni terpilih karena pemenangan pilwali (pemilihan wali kota),” katanya.

Doktor Ilmu Pendidikan UM (Universitas Negeri Malang) itu menyebut mitos 212 bukanlah angka absolut. Menurut dia, Anton bisa saja terpilih lagi di Pilwali 27 Juni 2018. Dia menyarankan agar Anton menghindari benturan dengan Sutiaji, wakil wali kota, yang kini maju di Pilwali 2018.

”Kalau terjadi benturan, keuntungan tentu dimiliki Nanda (sapaan Ya’qud Ananda Gudban),” pungkasnya.

Pewarta: Fajrus Shiddiq
Penyunting: Irham Thoriq
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Rubianto