Antara Arrigo Sacchi, Skeptisisme Publik, dan Ahok

“A jockey doesn’t have to have been born a horse (Untuk menjadi joki yang sukses, Anda tak perlu menjadi kuda terlebih dahulu),” kata Arrigo Sacchi dalam buku Jonathan Wilson.

PRINSIP pria kelahiran Fusignano, Italia 1 April 1946 itu rupanya berhasil membungkam keraguan yang selama ini dia terima dari lingkungan, dengan prestasinya. Masa-masa awal karirnya bersama AC Milan, Sacchi mendapat banyak skeptisisme, tak terkecuali dari anak asuhnya.

Jurnalis the Guardian, Jonathan Wilson, dalam bukunya yang berjudul Inverting the Pyramid: the History of Football Tactics, menceritakan hal itu tak lain karena Sacchi hanyalah mantan salesman sepatu di perusahaan sang ayah. Bisa dibilang Sacchi belum pernah menjadi pemain bola profesional. Dia hanya pernah merumput bersama klub amatir Baracco Luco, namun dia pun tak bisa bermain apik di situ.

Ketika mulai melatih klub yang sama, kemampuan Sacchi pun diragukan. Sepertinya, ini bukan kali pertama Sacchi mengalami krisis kredibilitas. Tapi, walaupun banyak orang meragukan, dia memiliki ide yang sangat jelas bagaimana seharusnya sepak bola dimainkan. “Saya sangat mencintai ide-ide besar,” katanya.

Saat memulai kepelatihannya, Sacchi memilih untuk menentang arus. Ketika kebanyakan tim di Italia mengagungkan pertahanan, Sacchi justru memilih untuk bermain menyerang. Sacchi jugalah yang merevolusi zonal-marking.

Keraguan lingkungan terhadap figur Sacchi juga dikisahkan oleh John Foot dalam bukunya Calcio: the History of Italian Football. Saat Presiden AC Milan, Silvio Berlusconi memboyong Sacchi dari Parma, tidak sedikit jurnalis dan analis yang meragukan kemampuan Sacchi. Mereka lebih senang meributkan kaca mata Sacchi yang besar.

Beberapa komentator bahkan menyebut Berlusconi tengah gambling dengan menempatkan orang yang bukan siapa-siapa sebagai pelatih I Rossoneri. Saking banyaknya skeptisisme yang dia alami itulah, dalam biografinya Calcio Totale, Sacchi menyebut dirinya sendiri sebagai Mr. Nobody.

Namun, walaupun diragukan banyak orang, Sacchi membuktikan bahwa AC Milan di bawah kepelatihannya adalah salah satu hal paling luar biasa yang pernah ada di dunia. Apa yang ditorehkan Sacchi di AC Milan membuka mata bahwa seseorang bisa juga sukses di satu bidang yang sebelumnya tak pernah ditekuni.

Dituntun oleh filosofi menyerangnya, Sacchi berhasil membawa Il Diavolo Rosso menguasai puncak dunia, dengan menyabet dua gelar Piala Champions Eropa berturut-turut pada 1988-1989 dan 1989-1990. Tak cukup sampai di situ, pria berkaca mata itu juga sukses mengantarkan AC Milan sebagai juara Piala Super Eropa dan Piala Interkontinental pada 1990 dan 1991. Sapu bersih berbagai gelar bergengsi kala itu, I Rossoneri dijuluki sebagai klub terbaik sepanjang masa.

Arrigo Sacchi.

Kisah Sacchi mengingatkan kita pada Basuki Tjahaja Purnama. Bukan tentang Si Kulit Bundar, melainkan skeptisisme publik akan sosok Ahok yang santer dikabarkan bakal memimpin BUMN energi. Belum juga ada pengumuman dari Erick Thohir, Menteri BUMN, gelombang penolakan langsung naik bak tsunami.

Di luar masalah politik, sejumlah pengamat memandang Ahok bukanlah orang yang punya kapabilitas mengurusi sektor energi. Mantan Bupati Belitung Timur itu dinilai kurang pengalaman dalam mengurusi bisnis. Diketahui Ahok hanya beberapa kali menjabat sebagai direktur di sejumlah perusahaan, sebelum akhirnya berkarir di politik.

Padahal menurut peneliti INDEF, Bhima Yudhistira, menjadi bos di BUMN – apalagi BUMN energi – tantangannya berat. Secara umum Bhima menyebut BUMN punya masalah struktural luar biasa.

Utang BUMN naik lebih dari 60 persen. Sedangkan labanya – meski ada juga perusahaan yang merugi – jika dirata-rata kenaikannya hanya 22 persen. Ini berarti, kata Bhima, utang yang dipupuk BUMN untuk membangun infrastruktur maupun menjalankan penugasan, tidak berkorelasi positif dengan profitabilitas BUMN.

Bhima khawatir jika kondisi ini dibiarkan dan BUMN tidak menemukan orang yang punya kemampuan di bidangnya, maka Indonesia akan mengalami krisis utang. Nahasnya lagi, krisis itu bukan dari sektor swasta melainkan dari badan usaha milik negara. “Ahok apakah bisa menyesaikan masalah struktural seperti itu? Kami yang ragu dari kapabilitas bisnisnya,” katanya dalam diskusi, Kamis (21/11).

Ia lantas menyebut beberapa profesional yang pernah duduk di PT Pertamina (Persero) seperti Dwi Soetjipto dan Kementerian ESDM seperti Arcandra Tahar. Menurutnya, Dwi Soetjipto merupakan figur yang paham tentang migas dan berintegritas. Tapi sayangnya, tak mampu meruntuhkan oligarki.

Sementara, Arcandra Tahar yang sudah punya pengalaman hingga Amerika Serikat, nyatanya kata Bhima, juga tak menawarkan reformasi migas yang berarti. “Apalagi orang yang baru dan enggak punya pengalaman,” imbuhnya.

Keraguan sama akan sosok Ahok jika ditempatkan di BUMN energi juga disampaikan oleh pengamat ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi. Ia berpendapat, Pertamina maupun PLN membutuhkan figur pemimpin yang memiliki kapabilitas, kemampuan, dan pengetahuan tentang energi.

“Rekam jejak Ahok di energi itu kan tidak ada sama sekali,” imbuh mantan anggota Tim Reformasi Tata Kelola Migas itu, dihubungi JawaPos.com beberapa waktu lalu.

Menurut pengamat energi dari Universitas Trisaksi, Pri Agung Rakhmanto, siapapun bos Pertamina atau PLN nanti, sosok tersebut harus bebas dari kepentingan politik dan bisa bekerja secara profesional. Sebab, kedua BUMN itu punya tantangan besar dalam menjaga ketersediaan dan ketahanan energi nasional. Pri Agung juga menyampaikan beberapa prioritas yang harus segera diselesaikan oleh Pertamina.

Pertama, percepatan realisasi investasi pembangunan kilang. Kedua, mengembalikan tingkat produksi Blok Mahakam dan blok-blok terminasi penugasan lainnya, termasuk Blok Rokan. Ketiga, percepatan realisasi investasi untuk pembangunan infrastruktur pendukung. Terakhir, menyeimbangkan alokasi resources yang ada untuk menjalankan penugasan dan aksi korporasi.

Meski banyak pihak skeptis dengan kemampuan Ahok yang seorang insinyur teknik geologi Universitas Trisakti itu, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro optimistis. Dari latar belakang apapun pemimpinnya, kemampuan utama yang wajib dimiliki adalah kapasitas dalam memimpin serta manajerial.

“Analoginya, pelatih sepak bola itu kan tidak harus menjadi pemain bola juga. Pelatih bola saya kira tidak lebih hebat dari Messi atau Ronaldo, tapi bagaimana bisa mengenali potensi itu,” kata Komaidi.

Seperti Sacchi yang sadar sering diremehkan oleh lingkungan hingga melabeli dirinya sendiri Mr. Nobody, tampaknya Ahok juga sadar sering mengalami penolakan dari lingkungan baik langsung maupun tak langsung. “Kayaknya hidup gue ditolak melulu,” katanya, Kamis (21/11). Meski begitu, dia tak mau ambil pusing dengan penolakan demi penolakan tersebut. Ahok mengaku siap diberi tugas oleh Erick di BUMN manapun.

Mengurus BUMN energi yang memiliki kerumitan business process tentu berbeda dari melatih sebuah klub bola. Dengan berbagai masukan pro-kontra dan mempertimbangkan tantangan ke depan, publik patut berharap Erick tak gambling dan mempertaruhkan triliunan aset negara. Tapi kalaupun ya, semoga Mr. X yang dia ambil itu bisa bikin BUMN makin trengginas seperti ketika AC Milan di bawah asuhan Sacchi..