Kekurangan tak lantas membuat Anjas Pramono minder. Kekurangannya justru dia jadikan sebagai pelecut untuk berprestasi. Selain prestasinya di bidang akademik, dia juga menjadi inisiator berdirinya komunitas sosial di kampung halamannya. Seperti apa perjalanan hidupnya?

Arah jarum jam menunjukkan pukul 12.30 Selasa lalu (13/2). Seorang pria kurus ceking turun dari mobil. Pria itu bernama Anjas Pramono. Saat itu, pria yang menggunakan taksi online itu datang ke kampus lebih awal karena hendak berbincang dengan koran ini. Ketika itu, dia begitu bergairah dan bercerita banyak hal.

Keesokan harinya, Anjas tampak lemas. Maklum, sekitar pukul 12.00, dia baru keluar dari ruang kuliah. Untuk melanjutkan obrolan yang sempat terhenti sehari sebelumnya, dia mengajak koran ini ke ruangan khusus difabel di PSLD (Pusat Studi dan Layanan Disabilitas) Universitas Brawijaya. Jalannya pelan-pelan. Sebab, untuk berjalan, Anjas harus dibantu dengan kruk. Saat tiba di ruangan itu, sejumlah mahasiswa tunarungu, tunanetra, dan tunadaksa tampak bersenda gurau dengan tangan sebagai isyarat mereka.

Meski Anjas terlihat lemas siang itu, tapi ketika diajak membahas aplikasi Kamus Bahasa Isyarat dia tampak bersemangat. Mahasiswa semester 4 program studi Sistem Informasi, Ilmu Komunikasi, Universitas Brawijaya (UB) ini menciptakan aplikasi tersebut bersama dua temannya, Jauhar Bariq Rahmadi dan Avisena Abdillah.

”Saya sebagai ketua dan analisis. Sedangkan mereka (dua temannya) bagian mengumpulkan data. Aplikasi ini dikerjakan sama-sama,” kata pria asli Kudus, Jawa Tengah, ini.

Kamus ini dia cipatakan dengan tujuan agar orang-orang semakin aware atau peduli terhadap penyandang tunarungu. Caranya, dengan mempermudah masyarakat umum belajar bahasa isyarat. Jika sudah banyak yang paham bahasa isyarat, akan semakin banyak orang yang bisa berkomunikasi dengan penyandang tunarungu.

”Ini kesadaran pribadi dan kesadaran sosial untuk membantu sesama difabel,” ujarnya.

Anjas menceritakan, ide tersebut muncul saat dia merasakan keresahan terkait tunarungu. Terkadang, penyandang tunarungu menjadi objek bullying (perundungan) teman-temannya.

”Dalam membuat aplikasi ini, saya meminta bantuan volunter di PSLD untuk bersedia menjadi peraga bahasa isyarat,” ucap pria 22 tahun ini.

Memang, aplikasi Kamus Bahasa Isyarat bukanlah yang pertama. Hanya, Anjas mengklaim kamusnya lebih canggih. Dia menerangkan, aplikasi yang sudah ada sebelumnya hanya bisa digunakan untuk menerjemahkan satu kata. Sementara, kamus ciptaannya ini bisa menerjemahkan dalam bentuk kalimat.

”Aplikasi seperti ini sebenarnya sudah ada di PSLD. Hanya saja, penggunaannya tidak secanggih ini,” ucapnya.

Penggunaan aplikasi ini tidak hanya untuk orang dewasa. Anak-anak yang masih duduk di sekolah dasar atau menengah pun bisa mempelajarinya dengan mudah. Dalam aplikasi berbasis Android itu terdapat dua pilihan. Ada pilihan antara kamus dan game. Untuk anak-anak, bisa memilih game yang sekaligus sarana belajar bahasa isyarat.

”Selain sebagai kamus, aplikasi tersebut juga ada game tebak gambar,” kata Anjas.

Dia mencontohkan, dalam game itu ada bahasa isyarat orang mau tidur. Lalu, ada pilihan jawaban bermacam-macam. Jika salah menjawab, si pemain dinyatakan salah menjawab pertanyaan. Dengan aplikasi ini, pemain game diharapkan makin mahir berbahasa isyarat.

Selain itu, orang yang ingin mempelajari bahasa isyarat tinggal melihat gerakan yang ada di handphone. Karena begitu banyak fitur dalam aplikasi ini, pembuatannya harus detail dan menyangkut beberapa coding. Anjas menerangkan, timnya membuat aplikasi ini sejak awal Januari lalu, dan sampai saat ini prosesnya masih 50 persen. Menurut dia, kendala pengerjaannya adalah pengumpulan data bahasa isyarat.

”Memang kendalanya ada di pengumpulan data bahasa isyarat. Karena bahasa isyarat ini ada dua macam, yaitu versi Indonesia dan luar. Nah, yang kami gunakan ini versi luar,” terang alumnus SMAN 2 Kudus ini.

Yang membuat dia mengalami kesulitan, penggunaan bahasa isyarat di Indonesia dan luar negeri sangat berbeda. Meski begitu, aplikasi ini akan terus dikembangkan. ”Saat ini proses pembuatan aplikasinya sudah proses coding data,” tambahnya.

Meski saat ini aplikasinya belum selesai tuntas, tapi aplikasi ciptaannya itu sudah memberi berkah. Proposal yang dia kirim ke rektorat Universitas Brawijaya (UB) mendapatkan respons positif. Tim ini akhirnya terpilih mewakili UB dalam kompetisi bertitel International Innovation, Design, and Articulation (I-IDEA) di Universitas Mara Arau Perlis, Penang Malaysia.

”Lombanya tentang sains teknologi,” papar Anjas.

Berkiprah dalam sebuah lomba bukanlah hal yang baru bagi Anjas. Semangatnya untuk berprestasi begitu besar meski dia mempunyai keterbasan sejak kecil. Ketika awal masuk sekolah menengah atas, dia sudah mewakili sekolahnya mengikuti lomba Matematic Olimpiade di Singapura. Sayangnya, dia belum meraih juara saat itu.

Kekalahannya itu menjadi motivasi bagi dirinya untuk belajar lebih baik. Di tahun yang sama, yakni tahun 2014, dia kembali menjadi delegasi sekolahnya untuk mengikuti lomba debat bahasa Inggris tingkat provinsi dan meraih juara 3. Pada tahun 2015, dengan jenis lomba yang sama, dan Anjas mampu membuktikan kualitasnya dengan menyabet juara satu. Sebelum berpisah dengan sekolah yang telah membesarkan namanya, dia kembali menyabet juara 1 dalam lomba yang sudah diikutinya dua tahun terakhir.

Selain itu, kelebihan lain mahasiswa semester 6 ini adalah kecerdasannya yang juga disertai dengan aktif berorganisasi. Saat ini, dia sudah mendirikan Student Class di daerah asalnya (Kudus). Komunitas tersebut menjadi tempat anak-anak muda menyalurkan bakat dan hobinya, serta melakukan pengabdian masyarakat. Misalnya, memberi bantuan kepada korban longsor.

Terkait penyebabnya menjadi tunadaksa, dia menjelaskan, saat masih SD, dia terjatuh dan kaki kanannya patah. Sejak itulah dia menggunakan kruk untuk berjalan. ”Tidak terhitung dulu saya jatuhnya berapa kali, saking banyaknya,” katanya lalu terkekeh.

Pewarta: Ali Afifi
Penyunting: Irham Thoriq
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Dokumentasi Anjas Pramono