Angkat Kuliner Jadul Orem-Orem, Kalahkan Kampus Se-Indonesia

Orem-orem sebagai masakan khas Kota Malang tidak begitu banyak dikenal para generasi muda. Lalu, tiga anak milenial dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadikan masakan jadul berkuah santan dengan pelengkap lontong maupun ketupat ini sebagai sebuah karya videografi yang apik dan berhasil menjuarai kompetisi di tingkat nasional.

Tiga anak kampus berusia 22 tahun yang lagi beruntung itu adalah Rahmania Santoso, Arul Ivansyah, dan Arif Prio Hutomo. Tiga mahasiswa semester VIII Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, UMM, ini adalah pembuat video tentang makanan orem-orem dan berhasil menyabet juara I Communication Festival 2018 di Jakarta, Jumat lalu (3/8). Lomba yang diselenggarakan Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Jakarta, ini diikuti puluhan peserta dari perguruan tinggi se-Indonesia. Ada 7 kampus yang berlaga di sesi final, di antaranya Universitas Padjadjaran Bandung (Unpad), Universitas Indonesia (UI), Universitas Pelita Harapan, Kalbis Institute, dan Universitas Paramadina.

Dalam lomba tersebut, mereka menjadi salah satu kelompok yang terpilih untuk mempresentasikan produk lomba kategori Broadway (Broadcasting Way) yang berfokus pada citizen journalism dan  mengangkat tema kuliner Nusantara.

Ditemui di kampusnya, Jl Tlogomas, Kota Malang, kemarin (29/8) aura kegembiraan masih terlihat di wajah mereka. ”Gak banyak lho, Mas, generasi muda yang sekarang peduli dan mengenali dengan ciri khas masakan yang dimiliki oleh Indonesia,” kata Rahmania mengawali pembicaraan dengan wartawan Radar Malang. Sejurus kemudian, Arul dan Arif membuka laptop dan menunjukkan video karya mereka kepada Radar Malang.

Terlihat dari video tersebut, nuansa Kota Malang begitu kental terasa saat kali pertama melihatnya. Ada Monumen Tugu di kawasan Balai Kota Malang, Kampung Heritage Kayutangan, serta patung Chairil Anwar dalam video berdurasi 5  menit tersebut. ”Welcome to Makan Mania, Mantaaap!” ucap Rahmania dengan gaya ala host di televisi ketika membuka tampilan videonya.



Di video itu, Rahmania kali pertama memperkenalkan makanan khas Malang di antaranya, Bakso Bakar, Bakso Malang, dan Cwie Mie Malang. Berikutnya, dia baru berkunjung ke warung penjual orem-orem yang berada di Jalan Blitar, Kota Malang. ”Inilah Pak Alex Suprapto, salah satu penjual orem-orem khas Malang!” ujarnya mengenalkan pemilik warung penjual orem-orem dalam video tersebut.

Setelah itu, dia mulai memperkenalkan apa itu orem-orem, bagaimana filosofinya, serta meyakinkan bahwa salah satu makanan khas Malang ini belum banyak diketahui orang. Mulai dari sejarahnya, cara membuatnya, hingga rasanya seperti apa. Hal itu dia kisahkan secara lugas dalam video tersebut.

Alasan Rahmania dan kawan-kawan mengangkat tema makanan khas Kota Malang orem-orem karena ketiganya merasa penasaran dan juga memang awalnya tidak tahu apa itu orem-orem. Jadi, mereka sepakat untuk mengangkat tema itu. ”Di samping untuk lomba. Biar kita mengerti juga apa itu orem-orem,” tutur perempuan asli Sidoarjo itu. Selain itu, alasan lain mereka mengangkat tema ini juga karena banyaknya anak-anak muda yang sudah mulai melupakan makanan khas Malang tersebut. Argumen ini didasarkan atas survei melalui polling di media sosial. ”Bisa dikatakan lebih banyak yang tidak tahu apa itu orem-orem,” ungkap mahasiswi yang jago menjadi master of ceremony (MC) ini.

Lain Rahmania, lain pula penuturan Arul Ivansyah. Cowok yang menjadi crew cameraman dan editor dalam video itu menyampaikan kalau dalam proses pembuatannya sedikit memutar otak mereka. Mulai dari kekurangan alat, seperti kamera, tripod, dan frame. Jadi, mau tidak mau mereka harus pinjam dan nyewa ke jasa rental kamera.

Pada tahap editing pula, mereka harus berpindah-pindah dari komputer satu ke komputer lainnya. Lantaran, komputer mereka tidak kuat untuk dibuat proses editing. ”Kadang pakai punya teman dan juga pernah memakai milik laboratorium UMM,” jelasnya.

Selain itu, ketika lolos ke Jakarta dan mempresentasikan karyanya, mereka agak terburu-buru. ”Kami baru tahu kalau lolos itu jam satu dini hari. Dan, kami baru sampai di Jakarta itu Subuh, sedangkan kami harus presentasi pukul 08.00,” terang Arul.  Bahkan, ketika sudah sampai di Jakarta, mereka sedikit bingung karena gadget milik Arif yang ketinggalan di transportasi online Grab. Untungnya, gadget itu dikembalikan pengemudinya.

Tidak sampai di situ saja, Arul yang merupakan cowok asli Praya, Lombok Tengah, itu harap-harap cemas dengan penghargaan yang dia dapat. Pada saat dia menuju ke gedung lokasi acara, Arul mendapatkan kabar jika ada gempa bumi yang menimpa Lombok. ”Mau sedih bagaimana, mau bingung juga bagaimana. Bingung!” ucapnya.

Saat penyebutan juara I yang dimenangkan oleh timnya, dia merasa sudah tidak mood dengan kemenangan itu. Dia lebih sering memantau perkembangan info mengenai gempa. ”Sama pertunjukan hiburannya pun saya sudah gak fokus. Karena ada kabar gempa itu,” ujar pria berusia 22 tahun ini. Terlepas dari itu semua, rasa kebahagiaan sudah pasti ada dalam diri mereka. Mengharumkan nama kampus dan satu-satunya wakil Jawa Timur. ”Bangga, senang pokoknya. Apalagi, semua berkat usaha kami bersama,” timpal Rahmania.

Rahmania juga menambahkan, dengan menyabet gelar juara itu, mereka lantas tidak akan berhenti sampai di situ saja. Mereka berencana akan membuat video tentang hal yang serupa. ”Tapi, makanan khas Indonesia lainnya,” ucapnya. Karena itu, dia juga meminta doa agar bisa konsisten dalam membuat konten-konten positif tentang ciri khas makanan Indonesia yang sudah mulai dilupakan. ”Doakan ya. Semoga konsisten,” pungkasnya.

 

Copy Editor: Dwi Lindawati
Penyunting: Imam Nasrodin