Anak Petani ini Mampu Lulus Cumlaude di Prancis. Apa Rahasianya?

Perjuangan Farhan Savero dalam studi di luar negeri patut dijadikan contoh bagi anak muda lain. Sebab, selain lulus dengan predikat cumlaude, pria 20 tahun ini juga lulus lebih cepat meski awalnya sempat ”dipermalukan” di depan umum karena kebiasaan ”buruk” orang Indonesia. Yaitu, lebih suka membaca handphone dari pada buku.

Perjuangan Farhan Savero dalam studi di luar negeri patut dijadikan contoh bagi anak muda lain. Sebab, selain lulus dengan predikat cumlaude, pria 20 tahun ini juga lulus lebih cepat meski awalnya sempat ”dipermalukan” di depan umum karena kebiasaan ”buruk” orang Indonesia. Yaitu, lebih suka membaca handphone dari pada buku.

”Halo, Mbak. Lobi balai kota sebelah mana, ya?” tanya Farhan Savero, lulusan cumlaude beasiswa Pemkot Batu di Prancis kepada wartawan Jawa Pos Radar Batu melalui pesan WhatsApp kemarin (24/8).

Beberapa menit kemudian, pria mengenakan kaus polo merah itu muncul dari pintu utama Balai Kota Among Tani, Jalan Panglima Sudirman. Maklum, sejak tahun 2015 lalu, pria kelahiran 13 November 1997 ini kuliah di Lycee Jules Siegried, Kota Le Havre, Prancis.

Dia mengambil jurusan Technical Engineering Support (Asisten Teknis Insinyur) atau setara Diploma III. Pada Juli tahun ini dia mampu menyelesaikan pendidikan tersebut dengan predikat cumlaude.

Bahkan, dia juga lulus setahun lebih cepat. ”Maaf Mbak, ini pertama kali saya ke sini (Balai Kota) sejak 2015 saya belajar di Prancis,” imbuhnya sambil menunjukkan selembar kertas.

Kertas itu berisi nilai GPA (Grade Point Average) atau indeks prestasi kumulatif (IPK). Di dalam kertas tersebut tertuliskan 11,72 dengan nilai maksimal 20. Perlu diketahui, nilai 15 bisa dibilang mustahil diraih mahasiswa di kampus Farhan.

Nilai maksimal yang bisa diraih mahasiswa di sana hanya 15. ”Nggak ada mahasiswa yang dapat nilai di atas 15, karena harus sempurna. Jadi, nilai itu (11,72) sudah mati-matian belajarnya,” terang alumnus SMK PGRI 3 Kota Malang ini.

Tak hanya ilmu akademik yang didapatkan dari negara juara dunia sepakbola 1998 itu, tapi juga budaya. Terutama budaya membaca di kalangan mahasiswa.

Hampir di semua sudut kampus dan kota Farhan menemukan orang membaca buku setebal novel. Bahkan, awalnya dia sempat jadi pusat perhatian karena sering membuka handphone (HP). ”Karena kebiasaan di sini begitu (lebih suka buka handphone dibandingkan baca buku, Red). Jadi, saya agak sungkan (malu) kalau sering lihat HP,” ungkapnya.

Dari pengalaman itu, Farhan jadi lebih sering mengunjungi perpustakaan kota, yaitu Library Oscar Niemeyer. Hal ini dilakukan untuk menunjang belajarnya. Di sana, koleksi bukunya lengkap dan desainnya keren. ”Pokoknya bikin betah berlama-lama di perpus. Ini yang harus diterapkan di sini, biar orang suka ke perpustakaan,” harap anak dari pasangan Khoirul Fanani dan Anggraeni ini.

Kuliah di Prancis juga membuat Farhan banyak memiliki waktu luang. Waktu liburnya memang relatif banyak. Tiap musim panas, salju, semi, dan hujan dapat libur setengah bulan. Bahkan, khusus musim panas, liburnya hingga dua bulan. ”Waktu libur banyak saya manfaatkan untuk mendalami bahasa Prancis,” ujarnya.

Beasiswa yang didapatkan Farhan mencapai Rp 9 juta (dalam kurs rupiah) tiap bulannya. Jumlah ini dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan Pemkot Batu. Setiap bulannya Farhan bisa menabung hingga Rp 1,5 juta. Biaya kuliahnya, jika dikalkulasi per bulan, sebesar Rp 3,5 juta.

”Sisanya (Rp 5,5 juta) untuk makan, bayar transportasi, dan ditabung,” ungkap pria yang tinggal di Jalan Lesti, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu ini.

Ke depan, dia akan kembali lagi ke Prancis untuk melanjutkan studi. Per tanggal 11 September mendatang Farhan akan melanjutkan studi program sarjana di Universite Du Havre, Prancis. Jurusan yang diambilnya adalah Manajemen Energi Terbarukan.

”Kalau lulus tetap balik ke Batu. Saya ingin jadi pebisnis yang bantu pembangunan kota,” terang pria yang juga hobi basket ini.

Pewarta: Dian Kristiana
Penyunting: im N
Copy Editor: Arief Rohman
Fotografer: Dian Kritiana