Ampuh Lawan Kanker dengan Imunoterapi, Begini Penjelasan Dokter

Ampuh Lawan Kanker dengan Imunoterapi, Begini Penjelasan Dokter

RADAR MALANG ONLINE – Dunia medis terus berkembang dalam melawan kanker. Setelah operasi, radioterapi, dan kemoterapi, kini ada imunoterapi. Lalu, apa bedanya imunoterapi dengan pengobatan kanker lainnya?

Imunoterapi memiliki tujuan yang sama dengan pengobatan kanker yang sudah dikembangkan sebelumnya, yaitu terapi target. Artinya terapi menyasar langsung kepada sel kanker yang dituju. Hanya saja, pada imunoterapi, konsepnya sedikit berbeda. Imunoterapi memberikan kesempatan kepada sel kekebalan tubuh agar lebih aktif melawan sel kanker.

Farmakolog sekaligus Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta Prof. dr. Iwan Dwiprahasto, M.Med.Sc, Ph.D, mengatakan kendati merupakan pengobatan yang relatif baru, sejatinya imunoterapi sudah ada sejak lama. Dalam 15 tahun terakhir perkembangan imunoterapi terbilang cukup pesat. Berbagai penelitian terus dilakukan untuk menghasilkan formulasi imunoterapi yang semakin baik.


“Imunoterapi pada prinsipnya merupakan terapi biologis yang bertujuan membantu tubuh meningkatkan pertahanan alami dalam melawan kanker. Pada dasarnya setiap orang punya imunitas, tapi untuk melawan kanker yang bersarang di tubuhnya, sayangnya tidak (semua orang) memiliki imunitas yang cukup makanya diberikan imunoterapi,” ujar pakar farmakologi UGM ini, baru-baru ini.

Cara Kerja Imunoterapi

Iwan menjelaskan ada tiga prinsip cara kerja imunoterapi. Pertama, dapat menghentikan atau memperlambat pertumbuhan sel kanker, tetapi menghentikan sama sekali hampir tidak mungkin. Kedua imunoterapi bisa menghambat agar kankernya tidak menjalar atau menyebar ke bagian tubuh yang lain. Dan ketiga, membantu sistem kekebalan tubuh untuk lebih siap dalam menghancurkan sel-sel kanker.

Perbedaannya dengan Kemoterapi

Bila membandingkan imunoterapi dengan terapi sebelumnya yaitu kemoterapi, ada perbedaan cukup signifikan. Obat kemoterapi umumnya berbasis kimia. Sementara obat kimia memiliki kendala atau kelemahan tersendiri. Ketika masuk ke dalam tubuh, obat kimia tersebut merusak semua sel baik sel kanker maupun sel-sel normal.

Selain itu, efek samping kemoterapi sangat mengganggu mulai dari mual muntah, rambut rontok, dan lain-lain. Di samping itu karena tidak selalu mencapai target dengan tepat sering kali pemanfaatannya sangat terbatas. Maka imunoterapi dianggap sebagai sebuah terobosan terapi baru untuk kanker.

Perbedaan signifikan lainnya obat kimia atau kemoterapi tidak bisa menyasar jenis kanker tertentu. Sementara obat-obatan golongan imunoterapi bisa menyasar jenis kanker tertentu yang memang memiliki karakteristik khusus.

Maka tingkat efektivitas imunoterapi cukup tinggi dibanding terapi lain. Saat ini konsep penatalaksanaan kanker itu mengenal adanya precision medicine bukan lagi personalize medicine. Inti dari precision medicine adalah pengobatan yang lebih presisi karena ditemukan biomarker (penanda keterpaparan) tertentu yang memang lebih cepat pergerakannya, maka obat-obatan imunoterapi kemudian menargetkan langsung biomarker-biomarker yang dimaksud tadi.

Aplikasi imunoterapi selain yang sudah terbukti efektif pada kanker paru dan kanker kulit, juga mulai diterapkan pada kanker ovarium, kanker lambung, dan juga untuk kanker pankreas. Hasil studi klinis terbaru menunjukkan hasilnya memang lebih bagus, dengan angka kesintasan meningkat lebih dari enam bulan. Tentunya dengan efek samping minimal.

Imunoterapi dapat dikatakan menjawab keinginan dunia yang mendambakan pengobatan kanker dengan keampuhan maksimal namun minimal efek sampingnya. Diharapkan pasien memiliki harapan hidup lebih panjang, meskipun kanker tidak dapat dihilangkan sepenuhnya.

Sayangnya, harganya masih cukup mahal. Itu sebabnya imunoterapi didorong bisa masuk dalam skema BPJS, setidaknya tahun depan setelah seluruh rangkaian uji coba ini selesai.

(ika/JPC)